
Eleanor kini keluar dari gerbang rumah dan langsung masuk ke dalam mobil taksi. Sebenarnya Direktur Evan ingin memerintahkan salah satu supirnya untuk menjemput Eleanor, tetapi Eleanor menolaknya karena tidak ingin ada orang rumah yang curiga kepadanya.
Sesampainya di dalam mobil, Eleanor pun melihat jam di ponselnya. Di ponselnya sudah menunjukkan pukul 10.40 WIB.
"Aku tidak boleh terlalu lama di rumah Bian. Jika aku tidak segera pulang dari sana, Zergan pasti akan curiga kepadaku. Karena tadi aku mengatakan jika aku hanya pergi sebentar," batinnya.
Tidak lama setelah itu, Eleanor pun sampai di rumah Bian. Salah satu boyband Bian mempersilakan Eleanor untuk masuk.
"Nona Eleanor, Nona sudah datang?"
"Iya, Direktur Evan."
"Apa tuan Zergan tadi mencurigai Nona?"
"Dia tidak curiga kepadaku karena aku beralasan ingin bertemu dengan Bu Gurunya Zico."
"Baiklah kalau begitu. Silakan Nona, saya akan mengantarkan Nona ke kamar tuan Bian."
Eleanor dan Direktur Evan kini telah sampai di depan pintu kamar Bian.
"Nona, tolong Nona bujuk tuan Bian agar mau makan dan meminum obatnya."
"Jangan khawatir, aku pasti akan melakukannya."
"Terima kasih, Nona. Kalau begitu saya permisi."
Eleanor pun perlahan membuka pintu kamar Bian dan masuk. Terlihat Bian sedang terbaring tidak berdaya sambil menutup kedua matanya.
Saat Bian mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya, dia pun segera membuka matanya. Karena memang dari tadi dia tidak tidur, tetapi hanya memejamkan kedua matanya.
Bian kemudian tersenyum melihat Eleanor datang untuk menemuinya. Bian kemudian langsung beranjak dari atas ranjang dan memeluk tubuh Eleanor.
"Kau datang untuk menemuiku? Aku tahu jika kau akan datang kemari untuk menemuiku," ucap Bian dengan senang.
"Aku senang sekali kau mau bertemu denganku," sambungnya.
"Bian, duduklah. Kau harus makan dan meminum obatnya agar kau segera sembuh," ucap Xin Qian.
"Tapi aku tidak ingin sembuh jika aku tidak bisa memilikimu," balas Bian yang menatap mata Eleanor dengan dalam.
Eleanor kemudian memalingkan wajahnya dari Bian dan mengambil makanan yang telah disiapkan oleh pelayan di atas meja.
"Bian, jangan berbicara seperti itu. Sekarang makanlah, aku akan menyuapimu."
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
Eleanor kemudian terdiam dan menatap Bian sambil menahan rasa sedihnya.
"Bian, sudahlah. Aku datang ke sini agar kau mau makan dan minum obat."
"Seharusnya aku tidak berharap lebih terhadapmu. Kau pasti sudah bahagia dengan keluarga barumu sekarang."
"Bian, buka mulutmu sekarang. Kau harus segera makan dan minum obatmu."
__ADS_1
"Aku tidak mau makan bubur itu."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Kau masih ingat dulu saat aku sakit? Kau selalu membuatkanku bubur ayam dan aku sangat menyukai bubur ayam buatanmu."
"Baiklah. Jika itu yang membuatmu mau makan, maka aku akan membuatkan bubur ayam untukmu."
Eleanor kemudian pergi ke dapur dan segera membuat bubur ayam. Kemudian dua orang pelayan tiba-tiba datang menghampiri Eleanor.
"Nona, apa yang Nona lakukan di sini? Biarkan kami saja yang melakukan semuanya," ucap salah satu pelayan.
"Aku sedang membuat bubur ayam untuk Bian. Dia menginginkan bubur ayam buatanku," balas Eleanor sambil tersenyum.
"Nona, kau sangat perhatian kepada Tuan. Tapi sayangnya Tuan tidak bisa memilikimu," ucap pelayan yang satunya.
"Jangan berbicara seperti itu. Nona Eleanor pasti akan tersinggung,"
"Maafkan saya, Nona."
"Nona, apa ada yang bisa kami bantu?"
"Iya, Nona. Jika Nona membutuhkan sesuatu, kami pasti akan membantu."
"Tidak perlu. Bubur ayamnya sudah jadi dan aku hanya perlu menyajikannya untuk Bian."
"Baiklah, Nona."
Eleanor kembali masuk ke kamar Bian, kemudian dia duduk di depan Bian.
"Aku sudah membuatkan bubur ayam untukmu. Sekarang buka mulutmu."
Bian membuka mulutnya dan memakan bubur ayam buatan Eleanor dengan lahap, Eleanor pun tersenyum.
"Rasanya masih sama seperti dulu. Kau pasti telah menambahkan seledri di bubur ayam ini," ucap Bian dengan semangat.
"Bian, ini adalah bubur ayam kesukaanmu. Aku tidak mungkin lupa untuk menambahkan seledri," balas Eleanor sambil tersenyum.
Raut wajah mereka kemudian terlihat sangat canggung. Eleanor kemudian menyuapi Bian kembali, tapi tiba-tiba Bian menyentuh tangan Eleanor.
"Bisakah kau menemaniku malam ini?"
"Bian, kau pasti sudah tahu tentang jawabannya."
"Ya, seharusnya aku tidak menanyakan hal itu kepadamu."
"Bian, kau harus meminum obat sekarang. Kau harus cepat sembuh agar kau tidak lagi menyusahkan orang lain."
"Apa maksudmu? Jadi saat ini kau merasa kesusahan karenaku?"
"Iya, kau membuatku sangat kesusahan. Apa kau tahu? Hari ini aku harus berbohong kepada Zergan jika aku akan bertemu dengan Bu Gurunya Zico."
"Lalu dia percaya?"
__ADS_1
"Aku meyakinkannya, jadi dia percaya kepadaku."
Eleanor meletakkan mangkuknya di atas meja dan mengambil obat juga air putih untuk Bian. Bian pun meminum obatnya, setelah itu Eleanor memintanya untuk kembali beristirahat.
"Bian, beristirahatlah."
"Kau mau kemana?"
"Aku harus pulang, Bian. Aku tidak bisa berlama-lama di sini."
"Tapi aku tidak mengizinkanmu pulang."
"Bian, mengertilah. Jika aku terlalu lama berada di rumahmu, Zergan pasti akan curiga dan pergi mencariku. Dan jika dia tahu aku berada di sini, dia pasti akan sangat marah dan memukulimu."
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau menghabiskan waktumu di sini bersamaku."
"Bian, aku mohon. Jangan memaksaku seperti ini. Aku sudah memiliki seorang suami, aku tidak bisa berlama-lama di sini denganmu."
"Lalu kenapa kau datang ke sini setelah kau tahu jika aku sedang sakit? Padahal aku tidak memaksamu untuk datang."
"Sudahlah, aku harus pergi sekarang. Jangan lupa untuk makan dan meminum obatmu."
Eleanor kemudian berjalan meninggalkan Bian di kamarnya. Saat dia menuruni anak tangga, dia bertemu dengan Direktur Evan.
"Nona, Nona mau kemana?"
"Direktur Evan, Bian sudah makan dan meminum obatnya. Aku harus pulang sekarang, karena aku mengatakan kepada Zergan jika aku akan pergi sebentar."
"Baiklah kalau begitu. Saya akan mengantarkan Nona pulang."
"Tidak perlu. Aku akan pulang naik taksi seperti tadi."
"Tapi, Nona ...."
"Direktur Evan, tidak apa-apa. Kau jaga saja Bian dengan baik, aku permisi."
"Baiklah, Nona."
Eleanor kemudian keluar dari rumah Bian dan pergi mencari taksi. Namun saat dia ingin menghampiri sebuah taksi yang sedang berhenti, tiba-tiba dia melihat bodyguard Zergan sedang menuju ke rumah Bian.
Eleanor pun sangat panik dan segera masuk ke taksi tersebut. Setelah itu dia menghubungi nomor Zergan agar Zergan tidak curiga kepadanya.
"Halo.
"Zergan, apa kau di rumah?"
"Iya, ada apa? Apa kau ingin aku menjemputmu? Aku akan menjemputmu sekarang."
"Tidak perlu. Aku sekarang sudah dalam perjalanan untuk pulang, jadi kau tidak perlu menjemputku."
"Baiklah kalau begitu, cepatlah pulang."
"Baiklah."
__ADS_1