
Eleanor terlihat lebih tenang ketika Zergan memanggil seorang dokter hewan ke rumahnya untuk mengobati Fluffy.
Kini Fluffy sudah bisa kembali berjalan dan menggosokkan bulunya ke kaki Eleanor.
"Dokter, terima kasih banyak. Jika dokter hari ini tidak datang, aku mungkin tidak akan melihat senyuman di wajah wanita cantik itu."
"Tuan Zergan, sepertinya anda suka sekali menggoda nona Eleanor."
"Itu benar. Dia memang suka sekali menggodaku, tapi entah kenapa aku selalu tergoda dengan dirinya."
Sang dokter dan Zergan pun tertawa mendengar ucapan Eleanor.
"Baiklah kalau begitu Tuan, Nona. Saya harus segera pergi karena ada keluarga lain yang membutuhkan saya."
"Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama."
Setelah dokter tersebut pergi, Lea, Zico dan ayah Yudha datang.
"Zergan, untuk apa dokter hewan datang kemari?"
"Ayah, dokter itu datang untuk mengobati kucing Eleanor."
"Kucing? Bunda, apakah ini adalah kucing yang ada di rumah kita waktu itu?"
"Benar, Zico. Dia adalah Fluffy dan sekarang dia akan menjadi temanmu."
"Yeayy ... berarti sekarang ikanku dan juga ikan ayah akan punya teman baru juga."
"Tidak, Zico. Kau tidak boleh mendekatkan Fluffy kepada ikan kita."
"Tapi kenapa, Ayah? Fluffy kan juga teman mereka."
"Zico, dengarkan Ayah. Fluffy adalah seekor kucing, jika dia melihat ikan dia pasti akan memakannya. Apa kau mau jika Fluffy memakan ikan kita?"
"Tidak mau."
"Kalau begitu kau harus benar-benar mendengarkan Àyah. Jika kau sedang bermain dengan Fluffy, kau harus jauhkan dia dari ikan-ikan kita. Jangan bermain di pinggir kolam ikan, kau mengerti?"
"Aku mengerti."
"Menantuku, sepertinya suamimu sekarang lebih menyayangi ikan-ikannya dibandingkan dengan dirimu."
"Ayah, jika suamiku lebih menyayangi ikan-ikannya, maka aku juga akan lebih menyayangi kucingku."
"Lalu bagaimana denganku? Siapa yang akan lebih menyayangiku?"
"Zico, Kakekmu ini pasti akan lebih menyayangimu. Jadi kau tidak perlu khawatir."
Semua orang kemudian tertawa dengan bahagia.
"Ayah, malam ini kita harus mempersiapkan barang-barang yang akan kita bawa untuk liburan."
"Liburan? Asyik ... Ayah, berarti malam ini kita akan pergi untuk berlibur?"
"Tidak malam ini, Zico, Tapi besok."
"Yahh ... kenapa tidak malam ini saja?"
"Zico, kau harus bersabar ya. Perjalanan di tengah malam akan sedikit berbahaya jika kita naik pesawat, kau mengerti?"
"Mengerti, Bunda."
"Kenapa kau terlihat tidak senang seperti itu? Kita akan tetap berangkat, Zico. Tapi bukan malam ini, besok kita akan berangkat. Jangan bersikap seperti itu, Bunda tidak suka melihatnya."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu sampai besok."
"Zergan, Menatu, Ayah pergi ke kamar dulu."
"Iya, Ayah."
"Iya, Ayah."
Eleanor kemudian menggandeng Zico dan juga menggendong Fluffy.
"Zico, ayo kita bermain di taman. Bukankah kau sangat merindukan Fluffy dan ingin bermain bersamanya?"
"Ayo, Bunda."
"Ayah, ayo ikut bermain di taman."
"Baiklah."
"Bibi Lea, apa Bibi juga ingin ikut dengan kami?"
"Tidak, Zico. Kau bermain saja dengan ayah dan bundamu, Bibi masih ada pekerjaan."
"Baiklah kalau begitu."
Zico membawa sebuah bola ke taman dan melemparkannya ke arah Fluffy, kemudian Fluffy melompat-lompat di atas bola tersebut.
"Bunda, Fluffy tidak bisa menendang bolanya ke arahku."
"Kalau begitu biar Bunda saja yang melemparnya."
Saat Eleanor hendak mengambil bola tersebut, tiba-tiba saja Fluffy menendang bolanya ke arah Zico.
Zico pun terlihat sangat senang dengan hal itu, lalu Eleanor dan Zergan tersenyum.
"Zico, berikan bolanya kepada Ayah. Ayah akan menendang bola itu dan kau yang akan menangkapnya."
"Baik, Ayah."
Zergan pun menendang bola tersebut, kemudian Eleanor menghalanginya.
Eleanor berusaha merebut bola tersebut dari Zergan menggunakan kakinya walaupun dia sedikit kesusahan.
Zergan dan Eleanor masih memperebutkan bola tersebut, kemudian tiba-tiba Zergan menarik kedua bahu Eleanor sampai mereka berdua terjatuh.
Zergan, Eleanor dan juga Zico pun tertawa. Eleanor lalu bangun dan membantu Zergan untuk berdiri.
"Ayah, kenapa saat bermain bersama Bunda Ayah tidak bisa memasukkan bolanya ke gawang?"
"Itu karena Bunda selalu bisa mengendalikan Ayah."
"Bunda, benarkah seperti itu?"
"Zico, kau pasti lapar setelah pulang dari taman. Bunda akan mengambilkan makanan dan menyuapimu."
"Baiklah. Ayah ayo kita main lagi."
"Ayo."
Eleanor pun masuk ke rumah dan menuju dapur. Dia langsung menyiapkan makanan untuk Zico dan membawanya ke taman.
Eleanor pun meminta Zico untuk duduk agar dia bisa menyuapi Zico, tetapi Zico tidak mau dan ingin makan sambil berdiri dan bermain bola.
Zergan kemudian duduk di samping Eleanor dan meminta Zico untuk menuruti permintaan Eleanor. Setelah itu Zico pun duduk di depan Eleanor dan makan dengan baik.
"Ayah, besok kita akan berlibur ke pantai, kan?"
__ADS_1
"Benar."
"Berapa lama kita akan di sana? Aku ingin sekali berlibur dalam waktu yang lama."
"Zico, jangan seperti itu. Kita hanya akan berlibur selama lima hari di sana. Ayahmu harus bekerja, sedangkan kau juga harus pergi ke sekolah. Apa kau lupa jika kau akan ada ulangan?"
"Yaahhh, Bunda ...."
"Zico, jangan bersikap seperti itu. Kita akan pergi lagi saat kau libur sekolah nanti."
"Baiklah kalau begitu."
Tidak lama setelah itu, ponsel Eleanor berbunyi dan menunjukkan panggilan dari Bian.
Eleanor pun langsung menatap ke arah Zergan, kemudian Zergan dengan segera merebut ponsel Eleanor dan menjawab panggilan tersebut.
"El, bisakah kau datang ke rumahku malam ini? Aku ingin kau membuatkan aku bubur seperti kemarin."
"Setelah kau membuatkan aku bubur kemarin, aku langsung merasa lebih baik."
"El, apa kau mendengarku? Di sampingmu sedang tidak ada orang, kan?"
Zergan pun langsung menutup panggilan tersebut dan meminta Zico menghabiskan makanannya di dalam.
"Zico, kau habiskan makanannya di dalam. Ayah ingin bicara sebentar dengan Bunda."
"Baik, Ayah."
Setelah Zico pergi dari taman, Zergan langsung menarik Eleanor untuk berdiri.
"Aku ingin kau berkata jujur denganku. Apa benar kemarin kau datang ke rumah Bian?"
"Zergan ...."
"Jawab!"
"Iya, aku memang pergi ke rumah Bian. Tapi aku--"
"Itu artinya kau telah berbohong kepadaku dengan mengatakan jika kau ingin bertemu dengan Bu Gurunya Zico."
"Zergan, Bian sedang sakit dan dia hanya mau makan atau minum obat jika aku berada di sana."
"Kau seharusnya memberitahu aku terlebih dahulu, bukan membohongiku!"
"Zergan, jika aku meminta izin kepadamu, kau pasti tidak akan membiarkan aku pergi ke rumah Bian."
"Kau sangat tahu jika aku tidak akan mengizinkanmu, lalu kenapa kau tetap pergi ke rumahnya tanpa sepengetahuanku?"
"Zergan, maafkan aku. Aku telah melakukan kesalahan dengan datang ke rumah Bian."
Ayah Yudha pun tiba-tiba datang dan menghampiri mereka berdua.
"Zergan, Eleanor, apa yang terjadi?"
"Tidak ada, Ayah. Aku hanya sedikit lelah, aku ingin ke kamar."
"Menantu, apa yang terjadi dengan Zergan?"
"Ayah, Zergan hanya kelelahan. Itu sebabnya dia bersikap seperti itu."
"Zergan adalah anak Ayah dan Ayah sangat mengenalnya. Dia tidak mungkin bersikap seperti itu saat lelah bekerja."
"Ayah, apa Ayah ingin teh? Aku akan membuatkannya untuk Ayah."
"Baiklah."
__ADS_1