
Eleanor memeluk Zergan yang dari tadi masih menaiki jet ski.
"Apa kau sudah puas bermain jet ski?"
"Zergan, kenapa kau bertanya seperti itu? Aku masih ingin naik jet ski lebih lama lagi."
"Sepertinya kau sangat menyukai permainan ini. Apa kau mau duduk di depan dan menyetirnya?"
"Sungguh? Apa kau mengizinkanku untuk melakukannya?"
"Tentu saja."
Zergan dan Eleanor kemudian berdiri dan mereka bertukar tempat dengan hati-hati.
"Kau sudah siap?"
"Aku siap."
"Sekarang kau harus menyetir jet ski ini dengan hati-hati."
Eleanor pun mulai melakukan perintah dari Zergan satu persatu, sampai akhirnya Eleanor benar-benar bisa menyetir jet ski tersebut dengan baik.
"Kau cepat sekali belajar."
"Zergan, ini sangat menyenangkan."
Eleanor pun menjalankan jet ski tersebut ke arah manapun yang dia mau, sedangkan Zergan dibelakang terus mengawasi jika tiba-tiba Eleanor melakukan kesalahan.
Setelah Eleanor puas dengan permainan itu, dia pun mengajak Zergan menuju tepi. Setelah sampai di tepian pantai, Zergan membantu Eleanor untuk turun dari jet ski.
Saat Zergan mulai melangkahkan kakinya, Eleanor langsung menghentikan Zergan dengan menarik tangannya.
"Aku ingin kita balapan lari dari sini sampai sana."
"Kau yakin ingin menantang ku?"
"Iya."
"Apa hadiah untuk orang yang menang?"
"Hadiahnya adalah jika aku yang menang, kau harus menuruti semua permintaanku selama satu hari. Tapi jika kau yang menang, maka aku akan menuruti semua permintaanmu selama satu hari."
"Baiklah, aku setuju. Aku yakin jika aku yang akan memenangkan perlombaan ini."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kau akan melihatnya nanti bagaimana aku bisa membuatmu kalah dalam perlombaan ini."
Mereka berdua pun bersiap dan menghitung mundur dari hitungan ketiga.
"3 ... 2 ... 1 ...."
Mereka berdua kemudian berlari beriringan. Awalnya Eleanor berhasil mendahului Zergan, tapi tidak lama kemudian Zergan berhasil mendahului Eleanor dan dialah yang memenangkan perlombaan tersebut.
__ADS_1
Zergan berhenti dan tidak lama kemudian Eleanor yang berhenti.
"Kau lihat sekarang? Aku yang telah memenangkan perlombaan ini, jadi aku kau harus menuruti permintaan dariku."
"Baiklah, tapi jangan meminta sesuatu yang tidak bisa aku berikan kepadamu."
"Ini tidak akan sulit. Aku hanya akan meminta satu hal kepadamu."
"Apa itu?"
Zergan mendekatkan wajahnya ke telinga Eleanor dan membisikkan sebuah kalimat.
"Aku ingin malam ini kau melayaniku sebagai suamimu."
Zergan kemudian berdiri tegak dan tersenyum kepada Eleanor. Eleanor yang awalnya takut, kini meyakinkan dirinya, karena memang dia yang mengajak Zergan untuk melakukan perlombaan ini.
"Baiklah. Aku akan melakukannya dengan senang hati, karena kau adalah suamiku."
Zergan menarik pinggang Eleanor dan mencium bibirnya di tempat tersebut. Eleanor kemudian mendorong tubuh Zergan.
"Zergan, jangan menciumku seperti itu. Di sini ada banyak sekali orang, bagaimana jika mereka semua melihat kita?"
"Memangnya kenapa? Semua orang di sini juga tahu jika kita adalah suami istri."
Zergan kemudian memeluk tubuh Zergan dan sedikit mencubit perutnya.
"Kenapa kau mencubitku?"
"Karena kau sangat nakal. Nakal sekali, sama seperti Zico."
"Aku tahu itu. Kau adalah seorang ayah yang sangat baik untuk Zico."
"Dan kau adalah seorang ibu yang sangat baik untuk Zico. Kau tidak pernah marah kepadanya, bahkan berbicara kasar kepadanya kau juga tidak pernah."
"Itu karena seorang anak selalu mencontoh apapun yang dilakukan oleh orang tuanya. Aku ingin mengajarkan semua hal yang baik kepada Zico, agar dia kedepannya bisa menjadi anak yang baik."
"Kau sangat tahu tentang hal itu."
"Baiklah. Apa kita akan tetap berada di sini?"
Zergan kemudian mengangkat tubuh Eleanor menggunakan kedua tangannya dan ingin menceburkan Eleanor ke pantai.
Sedangkan Eleanor berusaha untuk melepaskan dirinya dari Zergan dan dia mendorong Zergan.
Eleanor kemudian tertawa bahagia dan lari dari Zergan. Zergan pun mengejar Eleanor sambil tertawa.
Eleanor berlari sekuat tenaganya alih-alih menoleh ke arah Zergan, sampai-sampai dia tidak tahu jika di depannya ada seseorang yang sedang berjalan.
Eleanor dengan tidak sengaja menabrak orang tersebut dan mereka berdua pun sama-sama terjatuh.
Eleanor menatap wajah orang tersebut dan dia baru tahu jika orang itu adalah Bian.
"Bian?" gumamnya.
__ADS_1
Bian berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Eleanor, tetapi Eleanor tidak mau berdiri dengan bantuan Bian.
Kemudian Zergan datang dan marah karena melihat Bian berada di depan Eleanor. Zergan berjalan cepat dan membantu Eleanor untuk berdiri.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zergan dengan ketus.
"Memangnya kenapa jika aku berada di sini? Tempat ini bukan milikmu, jadi semua orang berhak datang ke tempat ini," balas Bian sambil sedikit tersenyum.
Zergan tidak mau menanggapi Bian dan menarik tangan Eleanor lalu mengajaknya pergi dari sana.
"Zergan, apa kau berpikir aku sengaja memberitahunya jika kita ada di sini?"
"Lupakan saja masalah itu. Aku tidak peduli jika dia ada di sini, asalkan kau juga tidak peduli dengan dirinya."
"Tidak, Zergan. Aku tidak akan peduli walaupun dia ada di sini."
Tidak lama setelah itu, Zico dan ayah Yudha datang menghampiri Eleanor. Zico berlari ke arah mereka dan terjatuh di atas pasir saat berteriak memanggil bundanya.
Eleanor dan Zergan segera membantu Zico untuk berdiri dan membersihkan tubuhnya dari pasir.
"Zico, kenapa kau berlarian seperti itu? Bunda sering melarangmu agar tidak berlari, tapi sekarang kau malah berlari dan terjatuh."
"Bunda maafkan aku. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepada Ayah dan Bunda."
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Ayah, tadi aku bertemu dengan paman Bian. Paman Bian itu temannya Ayah dan Bunda, kan?"
"Zico, di mana kau bertemu dengannya?"
"Di dekat pantai tadi saat aku berlari dan Kakek mengejarku."
"Zico, dengarkan Ayah sekarang. Kau tidak boleh terlalu dekat dengan paman Bian, mengerti?"
"Tapi kenapa, Ayah? Kenapa aku tidak boleh terlalu dekat dengan paman Bian? Paman Bian kan teman Ayah juga."
"Zico, turuti saja apa yang dikatakan oleh Ayah ya."
"Baik, Bunda."
"Zergan, tapi dari tadi Ayah tidak bertemu dengan Bian. Apa kau dan Eleanor tadi bertemu dengannya?"
"Iya, Ayah. Kami bertemu dengan Bian setelah kami selesai bermain jet ski."
"Ayah dan Bunda bermain jet ski? Kenapa tidak mengajakku? Aku kan juga ingin bermain jet ski bersama Ayah dan Bunda."
"Zico, besok Ayah pasti akan mengajakmu bermain jet ski dan permainan lainnya. Tapi sekarang kau bermain yang lain saja ya."
"Baiklah kalau begitu."
"Zico, di mana bibi Lea?"
"Aku tidak tahu, Bunda. Tadi bibi Lea bersamaku, tapi setelah itu Bibi pergi."
__ADS_1
"Bian datang ke sini pasti tidak sendirian, dia pasti mengajak Felix bersamanya. Apa mungkin sekarang Lea sedang bertemu dengan Felix?" batin Eleanor.