
Bian kini sedang berjalan dengan rekan bisnisnya setelah melakukan rapat bersama.
"Tuan Bian, terima kasih untuk rapat hari ini. Saya sangat senang dapat bekerja sama dengan anda."
"Sama-sama, Tuan. Saya juga senang sekali dapat menjalin hubungan bisnis dengan anda."
"Oh iya, tuan Bian. Saya dengar tuan Zergan akan segera menikah dengan seorang model cantik dan populer yang bernama Eleanor. Hadiah apa yang akan Tuan berikan kepada tuan Zergan dan juga nona Eleanor nantinya?"
"Entahlah, Tuan. Saya masih belum memikirkan tentang hadiah apa yang akan saya berikan kepada mereka."
"Tuan Bian, kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih untuk rapat hari ini."
"Sama-sama, Tuan."
Bian turun ke lantai bawah dan mencari keberadaan Felix.
"Felix, tolong kemari."
"Tuan membutuhkan sesuatu?"
"Zergan akan melaksanakan pernikahannya dengan Eleanor dua hari lagi. Aku ingin kau memerintahkan beberapa orang untuk merusak acara pernikahan itu. Jangan biarkan pernikahan Zergan dan Eleanor terjadi."
"Tapi, Tuan. Apa yang harus saya lakukan? Tuan Zergan pasti memerintahkan banyak anak buahnya untuk berjaga di acara pernikahan itu."
"Aku tidak mau tahu, kau harus memerintahkan beberapa orang untuk merusak acara itu. Dan ini adalah hal yang terpenting, kau harus menculik Eleanor dan membawanya kepadaku. Karena jika Eleanor tidak ada bersama Zergan, mereka tidak akan jadi menikah."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
Felix pergi menaiki mobilnya untuk menuju suatu tempat karena dia ingin bertemu dengan beberapa anak buahnya.
Felix berhenti di pinggir jalan di bawah sebuah pohon. Kemudian sebuah mobil berwarna putih datang menghampirinya.
Dari dalam mobil tersebut keluar beberapa pria tinggi yang merupakan anak buah Felix.
"Maaf, Tuan. Apa Tuan sudah lama menunggu kami?"
"Tidak, aku baru saja datang."
"Tugas apa yang akan Tuan berikan kepada kami?"
"Tuan Zergan dan nona Eleanor dua hari lagi akan melangsungkan pernikahan di sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Saya ingin kalian merusak acara pernikahan tersebut, kalian juga harus menculik nona Eleanor dan membawanya kepada tuan Bian. Karena semua ini adalah perintah langsung dari tuan Bian."
"Baik, Tuan. Kami akan melaksanakan tugas yang Tuan berikan."
Felix memberikan sejumlah uang yang dia simpan di dalam amplop besar kepada salah satu anak buahnya.
"Ini adalah sejumlah uang yang saya berikan sebagai DP. Jika kalian berhasil melakukan tugas kalian, seperti biasa saya akan memberikan kalian uang tiga kali lipat seperti biasanya."
"Terima kasih, Tuan. Kami pasti akan menjalankan tugas yang Tuan berikan kepada kami."
"Benar, Tuan. Kalau begitu kami permisi."
Setelah para anak buah Felix pergi, Felix langsung masuk ke mobilnya. Saat dia hendak menjalankan mobilnya, tiba-tiba dia melihat Lea sedang berdiri di seberang jalan dengan mobilnya.
__ADS_1
Felix pun turun dari mobilnya dan pergi menghampiri Lea.
"Nona Lea?"
"Tuan Felix? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku tadi sedang ada urusan. Tapi saat aku ingin kembali ke kantor, aku melihatmu berdiri sendirian di sini. Apa yang terjadi?"
"Tuan Felix, sepertinya ban mobilku bocor. Dan aku sudah menghubungi tukang bengkel dari tadi, tapi mereka belum juga datang kemari."
"Bagaimana jika aku mengantarkanmu? Kau ingin pergi ke mana?"
"Tidak usah, Tuan. Aku bisa menunggu tukang bengkel itu datang. Jika tidak aku juga bisa naik taksi."
"Nona Lea, ini adalah pertemuan kita yang kedua dalam satu hari. Apa kau tidak berpikir jika ini adalah sebuah takdir?"
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada, aku hanya asal bicara. Kalau begitu ikutlah denganku dan aku akan meminta orang untuk membawa mobilmu."
"Tapi--"
"Nona Lea, aku mohon jangan menolak. Aku hanya ingin membantumu, kau jangan berpikir yang macam-macam."
"Baiklah kalau begitu. Bisakah kau mengantarkanku ke sekolah? Karena aku harus menjemput anak dari atasanku."
"Dengan senang hati aku akan mengantarkanmu, Nona."
Mereka berdua pun masuk ke mobil milik Felix dan pergi menuju sekolah Zico.
"Bibi Lea!"
"Zico, bagaimana sekolahmu hari ini? Apa menyenangkan?"
"Sekolahku hari ini tidak menyenangkan, karena tadi pagi Bunda tidak menyuapiku saat sarapan."
"Zico, Bunda dan Ayah kan sangat sibuk mengurus pernikahan mereka. Jadi kau harus berusaha untuk mandiri. Jika Ayah dan Bunda tahu kau mulai belajar mandiri, Ayah dan Bunda pasti akan sangat senang."
Felix pun datang menghampiri Lea dan juga Zico. Dia memperkenalkan dirinya kepada Zico.
"Halo, Zico."
"Paman siapa? Bagaimana bisa Paman mengetahui namaku?"
"Kau bisa memanggilku paman Felix. Paman adalah temannya bibi Lea."
"Apa kabar, paman Felix?"
"Kabar Paman baik. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik."
"Selamat siang, nona Lea."
__ADS_1
"Selamat siang, Bu Guru."
"Siapa Tuan yang bersama nona Lea?"
"Bu Guru, dia adalah tuan Felix, temanku."
"Selamat siang, tuan Felix."
"Selamat siang, Bu Guru."
"Bu Guru, bukankah bibi Lea dan paman Felix terlihat sangat cocok? Mereka terlihat seperti sepasang kekasih."
"Zico, apa yang kau katakan? Kau tidak boleh berbicara seperti itu."
"Bibi Lea, aku kan bertanya kepada Bu Guru."
"Zico, jangan bicara seperti itu ya. Paman Felix dan bibi Lea kan berteman."
"Bibi Lea, paman Felix, maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Kau ini masih sangat kecil, jadi jangan berbicara seperti itu."
"Bu Guru, kalau begitu kami pamit pulang. Zico, ayo pamit dengan Bu Guru."
"Bu Guru, Zico pamit pulang ya. Besok kita bertemu lagi di sekolah."
"Baiklah. Kau harus berhati-hati di jalan ya."
"Iya."
Saat mereka dalam perjalanan, Zico meminta Felix untuk mengantarkannya untuk pergi ke taman bermain di ibu kota.
"Paman, aku ingin sekali pergi ke taman bermain. Paman bisa mengantarkanku, kan?"
"Zico, paman Felix juga harus bekerja. Bibi akan mengantarkanmu ke taman bermain setelah kau mengganti seragam di rumah."
"Tapi aku ingin pergi sekarang."
"Nona Lea, aku tidak masalah jika harus mengantarkan Zico ke taman bermain. Lagipula atasanku juga tidak sedang membutuhkan aku."
"Baiklah, tuan Felix. Tapi maaf jika kami merepotkanmu."
"Jangan berpikir seperti itu, Nona. Kau dan Zico sama sekali tidak merepotkanku."
Mereka sampai di taman bermain dan Zico langsung turun dari mobil.
"Zico, jangan berlari seperti itu! Kau akan jatuh nanti."
"Biarkan saja. Dia terlihat sangat bersemangat untuk bermain."
"Tuan Felix, sekali lagi aku minta maaf. Waktumu jadi terbuang karena harus mengantarkan Zico ke taman bermain."
"Nona Lea, sebenarnya aku sangat senang bisa menghabiskan waktu bersamamu."
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Eemmm, maksudku aku senang bisa menghabiskan waktu bersama Zico. Dia itu sangat lucu."