
Malam ini semua orang berkumpul untuk makan malam bersama. Zergan duduk tepat di depan Eleanor dan Anna duduk di samping Zergan.
"Zergan, aku akan mengambilkan nasi untukmu," ucap Anna.
"Tidak perlu, nona Anna. Aku yang akan mengambilkan nasi untuk semuanya," balas Eleanor.
Anna pun kembali duduk dengan wajah kesalnya. Setelah Eleanor mengambilkan nasi untuk semuanya, Anna kembali berdiri dan hendak mengambilkan lauk untuk Zergan. Tapi lagi-lagi Eleanor mendahuluinya.
"Nona Eleanor, aku adalah istrinya Zergan. Jadi tolong biarkan aku yang melayaninya."
"Nona Anna, aku adalah sepupunya dan aku sangat menghormatimu di sini. Jadi biarkan aku saja yang melayani suamimu. Maksudku apa salahnya jika aku mengambilkan makanan untuk sepupu laki-lakiku? Benar kan, Paman?"
"Kau sangat benar. Anna, Eleanor adalah sepupunya Zergan dan kau adalah kakak iparnya. Jadi tidak masalah jika dia yang mengambilkan makanan untuk Zergan."
"Ayah, tapi aku adalah istrinya. Aku ingin aku sendiri yang melayani suamiku."
"Sudahlah, nona Anna. Sekarang kau duduk saja di kursimu dan nikmati makanannya."
Setelah makan malam itu, Zergan mendapatkan panggilan dari Direktur Farhan. Kemudian dia pergi dan pergi menuju jendela yang masih terbuka.
"Ayah akan pergi ke kamar Ayah," ucap ayah Yudha.
"Kakek, aku juga ingin pergi ke kamar," sambung Zico.
"Bunda, aku pergi ke kamar dulu ya," ucap Zico.
"Iya, Sayang," balas Eleanor.
Eleanor kemudian menatap kedua mata Anna sambil tersenyum, sedangkan wajah Anna terlihat sangat kesal.
"Nona Anna, sampai kapan kau akan melakukan permainan rendah ini? Aku sudah tahu dengan semua kebohongan yang telah kau lakukan," tanya Eleanor.
Anna menyeringai. "Kau pikir kau sangat pintar? Kau tidak begitu mengenalku, nona Eleanor. Aku adalah wanita yang sangat licik. Aku akan melakukan apapun agar aku bisa mendapatkan kembali Zergan, termasuk berpura-pura jika aku hilang ingatan," jawab Anna.
"Aku akui kau memang pintar bermain drama di depan Zergan dan juga ayah mertuaku. Tapi kau salah jika menganggap dirimu yang paling pintar. Aku jauh lebih pintar karena bisa membohongi semua orang," sambungnya.
Eleanor dari tadi hanya tersenyum mendengar ucapan Anna. Tanpa Anna sadari, ternyata dari tadi Eleanor telah merekam pembicaraan mereka berdua.
Eleanor sengaja merekamnya agar dia bisa menunjukkan kepada semua orang jika Anna telah membohongi semua orang demi mencapai tujuannya.
"Baiklah kalau begitu. Terserah apa yang kau katakan, tapi yang pasti aku akan segera membongkar semua kebohonganmu di depan publik."
"Kau mengancamku?"
"Nona Anna, aku tidak suka mengancam orang lain. Aku hanya melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri, yaitu menjauhkan suaminya dari wanita lain."
"Eleanor, kau?"
"Anna, ada apa ini?"
"Tidak ada apa-apa, Zergan. Apa kau akan pergi ke kantor besok?"
__ADS_1
"Iya. Aku juga harus pergi mengantarkan Zico ke sekolahnya."
"Kalau begitu besok aku akan ikut denganmu."
"Baiklah."
Zergan menaiki anak tangga, kemudian tiba-tiba Anna menghentikannya.
"Zergan, tunggu!"
"Ada apa?"
"Kau ingin tidur?"
"Tidak. Aku hanya ingin menyiapkan berkas ku untuk besok."
"Kalau begitu aku akan ikut denganmu."
Zergan menatap ke arah Eleanor, tetapi Eleanor tidak tahu bagaimana cara mencegah Anna agar tidak bisa menghabiskan waktu bersama Zergan.
"Zergan, kenapa kau hanya diam? Ayo kita pergi ke kamar sekarang."
Anna pun menarik lengan Zergan dan tersenyum seolah mengejek Eleanor. Setelah mereka berdua pergi, Eleanor langsung duduk kembali di kursinya dengan kesal.
"Apa-apaan ini? Zergan bahkan tidak memberitahu apa yang harus aku lakukan. Aku juga tidak bisa menghalangi mereka," gumamnya.
"Bagaimana jika Anna berusaha untuk menyentuh suamiku? Dia ... dia tidak boleh melakukannya," sambungnya.
"Aku tidak akan membiarkan wanita itu menyentuh suamiku, tidak akan pernah." Eleanor membatin.
"Aku harus melakukan sesuatu," ucapnya.
Eleanor kemudian pergi ke dapur dan menemui salah satu pelayan di rumah itu.
"Nona Eleanor, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Iya, aku membutuhkan bantuanmu."
"Apa itu, Nona?"
"Wanita itu telah membawa suamiku ke kamarnya, dan aku tidak mau dia menyentuh atau melakukan sesuatu kepada suamiku."
"Tolong kau buatkan satu kopi dan satu teh. Tapi sebelum kau antarkan ke kamar Anna, aku harus memasukkan obat tidur dulu ke dalam tehnya."
"Anna pasti tidak akan membiarkan suamiku pergi jika dia masih belum tidur."
"Baik, Nona."
Setelah kopi dan teh tersebut dibuat, Eleanor langsung memasukkan obat tidurnya ke dalam teh milik Anna.
"Pelayan, sekarang cepat antarkan teh dan kopi ini ke kamar Anna."
__ADS_1
"Baik, Nona. Saya permisi."
Di dalam kamar, Anna masih terus menggandeng tangan Zergan. Zergan kemudian melepaskan tangan Anna darinya.
"Kenapa kau terus menggandengku seperti ini?"
"Zergan, kenapa kau berbicara seperti itu? Aku adalah istrimu, jadi wajar jika aku menggandengmu seperti itu."
Zergan kemudian duduk di atas sofa dan mulai mempersiapkan berkas-berkas yang harus dia bawa besok. Anna pun duduk di samping Zergan dan terus menatapnya sambil tersenyum.
"Tok ... tok ... tok ...."
"Shh, siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?" gumam Anna.
Anna pun berdiri dan segera membukakan pintu kamarnya. Setelah dibuka, ternyata yang datang adalah seorang pelayan yang membawa dua gelas minuman hangat.
"Nona, saya membawakan kopi untuk Tuan dan teh untuk Nona."
"Baiklah, kalau begitu bawa minumannya masuk."
"Baik, Nona."
Setelah meletakkan minuman tersebut di atas meja, pelayan tersebut pun langsung pergi.
"Zergan, minumlah kopimu sebentar."
"Baiklah."
Anna meminum teh miliknya, tapi tidak lama kemudian dirinya tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya dan dia pingsan.
Zergan pun sangat khawatir dan segera membangunkan Anna.
Tidak lama kemudian, kepala Eleanor tiba-tiba masuk ke pintu dan mengintip keadaan di dalam. Dia melihat Anna sudah pingsan kemudian dia tertawa.
Zergan pun tertawa dengan bingung melihat sikap Eleanor. Kemudian dia berdiri dan menghampiri Eleanor.
"Apa kau yang telah melakukan hal ini kepada Anna?"
"Tentu saja. Aku tidak mungkin membiarkan suamiku tidur dengan wanita lain."
"Tapi apa yang kau masukkan ke dalam minumannya?"
"Zergan, tentu saja obat tidur. Malam ini dia akan tertidur sangat pulas dan bangun besok pagi. Sekarang kau ambil berkas milikmu dan kita pergi ke kamar kita."
Zergan tersenyum lalu mengambil berkasnya dan pergi ke kamar bersama istrinya.
Sesampainya di dalam kamar, Eleanor langsung memeluk tubuh Zergan. Zergan pun membalas pelukan itu dengan sangat erat.
"Zergan, aku sudah merekam semuanya di dalam ponselku. Kita harus segera membongkar kebohongan Anna, aku tidak mau menunggu terlalu lama."
"Kita akan segera melakukannya, Sayang."
__ADS_1