Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 14


__ADS_3

Eleanor turun dari mobil dan segera menghampiri Zico juga Eleanor menuju kelas.


Namun sesampainya di sana, dia melihat seorang wanita sedang bertengkar dengan Lea dan juga Bu Guru.


"Lea, apa yang terjadi?" tanya Eleanor.


"Nona, Nyonya ini telah berani mendorong Zico hingga terjatuh," jawab Lea.


Wanita tersebut kemudian memandangi Eleanor dari atas sampai bawah.


"Aku seperti mengenal wanita ini," batin wanita tersebut.


"Anda mendorong anak saya? Memangnya kesalahan apa yang telah anak saya lakukan kepada anda?" tanya Eleanor dengan nada yang rendah.


"Jadi kau adalah ibunya? Gayanya saja seperti orang kaya, tapi kelakuan anaknya sangat tidak baik." Wanita tersebut mulai marah.


"Apa maksud anda berbicara seperti itu?" balas Eleanor.


"Anak anda telah berani memukul wajah anak saya. Lihatlah, wajah anak saya sampai memar seperti itu." Wanita itu menunjuk ke wajah anaknya.


"Nona, sebenarnya anaknya yang telah memulai masalah ini."


"Apa maksudmu, Lea?"


"Itu benar, Nyonya. Saat di dalam kelas tadi, Daffa mengambil mainan milik Zico tanpa meminta izin terlebih dahulu. Kemudian Zico memintanya untuk mengembalikan mainan tersebut, tetapi Daffa tidak mau. Kemudian Zico memukul wajah Daffa," ucap Bu Guru.


"Anda dengar itu? Jika saja anak anda tidak mengambil mainan anak saya, anak saya pasti tidak akan memukul anak anda."


"Daffa, lebih baik kau kembalikan mainan itu. Kita bisa membelinya nanti."


"Nona, mainan seperti itu tidak mungkin ada di kota ini."


"Apa katamu?"


"Maafkan aku, Nyonya. Tapi Nona El membeli mainan itu di Paris, jadi aku rasa mainan seperti itu tidak ada di sini."


"Lalu apa masalahnya? Saya juga bisa pergi ke Paris dan membeli mainan itu hingga 10 kali lipat. Anda pikir saya tidak mampu membelikannya untuk anak saya?"


"Baiklah. Kalau begitu cepat kembalikan mainan anak saya."


Wanita itu berusaha untuk meminta anaknya mengembalikan mainan milik Zico, tetapi anak itu tidak mau mengembalikannya.


"Zico, sepertinya temanmu sangat menyukai mainan milikmu. Bagaimana jika kau biarkan saja dia memiliki mainan itu? Bunda pasti akan memberikan mainan yang lebih bagus dari mainan itu."


Zico tidak menjawab pertanyaan Ibunya dan malah berlari menuju mobil.


"Lea, kau temani Zico di mobil."


"Baik, Nona."


"Nyonya, sekarang anda tidak perlu pergi ke Paris untuk membeli mainan itu. Karena anak saya telah memberikan mainan itu kepada anak anda."

__ADS_1


Wanita itu hanya diam dan menatap Eleanor dengan wajah yang kesal.


"Daffa, kau adalah temannya Zico. Lain kali jangan mengambil barang milik orang lain tanpa meminta izin dari pemiliknya ya." Eleanor mengelus rambut Daffa.


"Bibi, aku kembalikan mainan ini kepada Bibi. Tolong berikan kembali kepada Zico," ucap Zico dengan wajah yang sedih.


"Tidak perlu. Mainan ini sekarang telah menjadi milikmu. Bibi pasti akan membelikan mainan yang baru kepada Zico," balas Eleanor sambil tersenyum.


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Terima kasih, Bibi."


"Kalau begitu Bibi harus pulang."


"Baiklah. Bibi hati-hati di jalan ya."


"Bu Guru, saya harus pulang sekarang."


"Baik, Nyonya. Nyonya hati-hati di jalan."


Saat Eleanor hendak masuk ke mobil, dia melihat Zico menundukkan pandangannya. Zico terlihat sangat sedih karena mainan miliknya telah diambil oleh temannya.


"Nona, jika Nona izinkan saya akan menyetir dan Nona bisa mengobrol dengan Zico di belakang."


"Baiklah. Aku akan duduk di belakang dengan Zico."


Lea pun turun dari mobil dan berpindah ke kursi depan. Sedangkan Eleanor duduk di samping Zico.


"Kenapa Bunda memberikan mainan itu kepada Daffa?" Zico menjawab tanpa menatap wajah Eleanor.


"Sayang, Daffa tidak mau mengembalikan mainan itu. Jadi Bunda rasa Zico yang harus mengalah. Bunda akan membelikan mainan yang baru untuk Zico."


"Tapi mainan itu Bunda yang belikan saat hari ulang tahun Zico."


"Tidak apa-apa, Zico. Bunda bisa membeli mainan seperti itu saat Zico ulang tahun nanti."


"Nona, apa Nona tidak ingin pergi ke tempat lain sebelum kita pulang?"


"Zico, apa Zico lapar?"


Zico hanya diam dan tidak menatap wajah Eleanor sama sekali, tetapi Eleanor tetap bersikap tenang dan sabar menghadapi sikap Zico.


"Lea, kita pergi ke restoran yang biasanya."


"Baik, Nona."


Sesampainya mereka di restoran, sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan tidak sengaja menabrak Eleanor. Tetapi sepasang kekasih itu malah memarahi Eleanor.


"Apa kau tidak melihat jika kami sedang lewat?" bentak wanita itu.

__ADS_1


"Nona, kenapa Nona memarahi atasan saya? Seharusnya Nona meminta maaf karena Nona telah menabraknya."


"Kenapa aku harus meminta maaf? Apa kalian tidak mengenalku?"


Wanita itu kemudian membuka kacamata juga topi yang dia kenakan. Eleanor dan Lea tahu pasti jika wanita yang sedang berdiri di depan mereka adalah Julia.


"Nona Julia?" ucap Lea.


"Aku adalah Julia. Aku tahu jika kalian adalah salah satu dari penggemarku, jadi sebaiknya kalian segera meminta maaf agar aku tidak marah kepada kalian," balas Julia dengan santainya.


Eleanor kemudian membuka kacamatanya dan membuat Julia juga pria yang bersamanya terkejut.


"Eleanor?" gumam Julia.


"Senang sekali bisa berjumpa denganmu, Julia. Sudah lama kita tidak bertemu, dan sekalinya bertemu kau semakin sombong saja," sindir Eleanor.


"K-kau? Berani sekali kau kembali ke negara ini? Apa kau tidak merasa malu?"


"Kenapa aku harus malu? Seharusnya kau yang malu, karena kau telah menjatuhkan nama baik seseorang dengan menjebaknya. Kemudian kau manfaatkan kesempatan itu untuk merebut posisinya."


Semua orang di restoran tersebut kemudian mengerumuni mereka.


"Apakah benar yang dikatakan oleh Nona itu?"


"Apa maksudnya? Nona Julia telah menjebak seseorang untuk merebut posisi yang dia miliki sekarang?"


"Jaga ucapanmu! Aku tidak pernah menjebak seseorang demi merebut posisinya!" bentak Julia.


"Benarkah? Kau benar-benar lupa atau hanya berpura-pura lupa, Julia?" balas Eleanor.


Julia yang merasa terpojok kemudian terpikirkan sesuatu setelah melihat Zico.


"Apakah anak kecil ini adalah anakmu dari hubungan gelap itu nona Eleanor?"


"Lihat, itu adalah nona Eleanor."


"Benar, dia adalah Eleanor sang model terkenal itu."


"Apakah anak kecil yang bersamanya adalah anaknya dengan pria bejat itu?"


"Kenapa kau mengatakan jika pria itu bejat?"


"Karena aku sangat yakin jika nona Eleanor memang dijebak malam itu."


"Aku juga sangat yakin jika nona Eleanor hanya dijebak. Tapi apakah benar nona Julia yang telah menjebaknya?"


"Ini adalah anakku dan dia yang membuatku tetap kuat selama ini. Julia, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Karena jika malam itu kau tidak menjebakku, Zico mungkin tidak akan hadir dalam kehidupanku."


"Bunda, aku tidak suka di tempat ini. Aku ingin pulang."


"Baiklah, Sayang. Kita akan pulang sekarang."

__ADS_1


"Nona, tunggu dulu! Aku ingin tahu siapa pria yang bersama nona Julia ini."


Saat Lea ingin membuka topi dan kacamata pria tersebut, tiba-tiba Julia menarik tangan pria tersebut dan mengajaknya pergi dari tempat itu


__ADS_2