Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 70


__ADS_3

Keesokkan paginya, Zergan keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai celana pendek dan membawa handuk di lehernya untuk mengeringkan


rambut.


Dia melihat Eleanor yang masih tertidur dengan pulas di atas kasur. Zergan pun tersenyum dan menghampiri Eleanor.


Dia jongkok di samping Eleanor dan menggenggam tangannya, lalu Zergan menciumnya.


"Aku harus pergi ke kantor sekarang. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini agar kau mau berbicara lagi denganku. Aku tidak bisa jika melihatmu marah seperti ini," ucapnya.


Zergan segera bersiap untuk pergi ke kantor, setelah itu dia turun dan menemui putranya.


"Zico, Daffa, kalian sudah siap?"


"Sudah, Ayah."


"Paman, terima kasih ya karena telah mengajakku pergi ke kantor Paman."


"Sama-sama, Daffa. Hari ini kita akan menghabiskan waktu bersama di kantor Paman, karena nanti sore ibumu akan menjemputmu dan membawamu pulang."


"Zico, Daffa, kalau begitu kita harus pergi sekarang."


"Baik, Ayah."


Eleanor terbangun dan menyadari jika Zergan sudah tidak ada di kamar bersamanya. Eleanor kemudian duduk dan melihat di atas meja terdapat segelas susu coklat dan juga makanan kesukaannya.


Eleanor menghampiri meja itu dan meraih sebuah kertas yang berada di atasnya.


Dalam kertas itu tertulis. "Aku sengaja membuat sarapan ini untukmu, aku harap kau menyukainya. Aku telah membawa anak-anak ke kantor, jadi makanlah sarapanmu dan bersiap untuk pergi ke kantor menyusul kami."


Eleanor tidak tersenyum setelah membaca surat tersebut. Dia segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


Setelah dia siap, dia memandangi makanan yang berada di depannya selama beberapa saat. Kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya dan dia membukanya.


"Nona, apa Nona sudah memakan sarapan yang telah dibuat tuan Zergan? Tuan Zergan meminta saya untuk memastikan jika Nona memakan sarapan itu."


"Aku tidak ingin makan sarapan itu."


"Tapi tuan Zergan sendiri yang telah membuatkannya untuk Nona."


"Tapi aku tidak ingin memakannya. Aku harus pergi sekarang."


*******


Saat di dalam perjalanan, Zico terus menatap wajah ayahnya. Dia merasa jika ayahnya masih belum berbaikan dengan ibunya.


"Zico, kenapa kau terus menatap Paman seperti itu?" bisik Daffa.

__ADS_1


"Daffa, aku rasa Ayah dan Bunda masih belum baikan," balas Zico dengan suara yang pelan.


"Dari mana kau tahu?"


"Aku tahu karena aku melihat wajah Ayah yang terlihat agak murung. Ayah tidak seperti biasanya, Daffa."


"Lalu bagaimana sekarang? Memangnya Paman dan Bibi memiliki masalah apa?"


"Aku juga tidak tahu. Kakek pernah bilang kalau orang dewasa saling bertengkar, itu artinya mereka saling mencintai. Tapi kenapa aku melihatnya tidak seperti itu. Ayah dan Bunda terlihat saling menghindar."


"Zico, Daffa, apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Ayah, katakan yang sebenarnya kepada kami. Ayah dan Bunda masih belum baikan ya?"


"Zico, kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Ayah katakan saja yang sebenarnya. Ayah dan Bunda masih belum baikan, kan?"


"Paman kenapa diam saja?"


"Zico, Daffa, jangan banyak bertanya ya. Sebentar lagi kita akan sampai di kantor."


Zico dan Daffa pun saling menatap dengan wajah yang terlihat sedih. Tidak lama setelah itu, mereka bertiga sampai di depan kantor.


Zergan meminta kedua anak itu untuk turun dari mobil. Mereka berdua sangat antusias dan mengajak Zergan untuk segera masuk. Semua orang menyambut kedatangan mereka dengan baik.


Direktur Farhan pun datang menghampiri mereka.


"Selamat pagi."


"Selamat pagi, Zico, Daffa."


"Selamat pagi, Paman."


"Selamat pagi, Paman.."


"Tuan, kenapa nona Eleanor tidak ikut bersama Tuan dan anak-anak?"


"Dia akan datang nanti. Apa Grace ada di kantor?"


"Iya, Tuan. Grace sedang berada di atas."


"Kau tetaplah di sini menemani Zico juga Daffa. Aku akan pergi menemui Grace di atas."


"Baik, Tuan."


Zergan berjalan dengan cepat menuju ruangan Grace. Dia melihat Grace sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Zergan pun segera menghampiri Grace, setelah itu Grace mengakhiri panggilan tersebut.

__ADS_1


"Tuan Zergan, Tuan di sini?" tanya Grace dengan senang.


"Plakk ...." Suara tamparan keras mendarat di pipi kiri Grace.


"T-tuan, apa yang Tuan lakukan? Kesalahan apa yang telah saya buat sampai-sampai Tuan menampar wajah saya seperti ini?"


"Kau bertanya apa kesalahanmu? Apa yang telah kau lakukan kepadaku kemarin saat aku berada di rumahmu?"


"Tuan Zergan, saya hanya membuatkan teh untuk Tuan."


"Kau telah memasukkan obat tidur kepada teh itu, sampai akhirnya aku tertidur dan kau membawaku ke kamarmu."


"Tuan, dengarkan saya."


"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi! Kau telah membuat hubunganku dengan istriku menjadi renggang. Kemarin aku mengantarkanmu pulang karena aku merasa kasihan kepadamu, tapi aku tidak menyangka kau akan melakukan hal rendahan seperti itu."


"Iya! Aku memang sengaja memasukkan obat tidur ke dalam teh itu, aku juga sengaja membuka kancing bajumu dan aku memotret diri kita lalu mengirimkannya kepada istrimu. Itu semua aku lakukan karena aku mencintaimu, aku juga ingin membalaskan dendam kepada nona Eleanor karena dia telah menyakiti hati sepupuku."


"Balas dendam apa yang kau maksud?"


"Bian adalah kakak sepupuku, dan aku tidak terima nona Eleanor telah menyakiti perasaannya."


Zergan pun terdiam mendengar pernyataan dari Grace. Dia tidak pernah menyangka jika dia telah memperkerjakan sepupu dari orang yang paling dia benci.


Grace pun memeluk tubuh Zergan dengan erat. Dia juga mengungkapkan perasaannya bahwa dia mencintai Zergan.


"Zergan, aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu," ucap Grace sambil menutup kedua matanya.


"Aku tidak peduli walaupun saat ini kau telah memiliki seorang istri dan anak. Aku tidak peduli walaupun kau sangat mencintai istri dan juga anakmu, aku tidak peduli. Aku mencintaimu, Zergan," sambungnya.


Zergan segera mendorong tubuh Grace dan kembali memarahinya.


"Berani sekali kau mengatakan jika kau mencintaiku!"


"Kenapa aku tidak berani? Semua orang berhak untuk mencintai dan dicintai, lalu kenapa aku tidak boleh mencintaimu?"


"Aku sudah memiliki seorang istri dan anak, aku juga sangat menyayangi mereka. Jadi mulai saat ini kau harus membuang jauh-jauh rasa cintamu kepadaku."


"Aku tidak akan melakukannya. Sama seperti kau yang telah membuat nona Eleanor meninggalkan kakak sepupuku, aku juga akan membuatmu meninggalkan nona Eleanor. Aku akan merebutmu dari nona Eleanor, sama seperti kau merebut nona Eleanor dari kak Bian."


"Jangan pernah menyebut nama pria itu di hadapanku!"


"Kenapa, Zergan? Apa kau merasa bersalah karena kau telah merebut calon istrinya?"


"Diam kau! Berani sekali kau berbicara seperti itu di kantorku!"


"Kau harus ingat, Zergan. Kau telah merebut wanita yang seharusnya menjadi istri dari orang lain. Kau juga harus merasakan betapa sakitnya jika kau berpisah dari wanita yang sangat kau cintai. Aku juga akan membuat nona Eleanor merasakan sakitnya ditinggalkan oleh orang yang sangat dia cintai, sama seperti kak Bian."

__ADS_1


"Itu tidak akan terjadi! Aku tidak akan membiarkan Eleanor pergi dari hidupku!"


"Zergan, nona Eleanor sudah melihat foto saat kita sedang tidur bersama. Aku tahu nona Eleanor sangat marah kepadamu, dan aku yakin sebentar lagi dia akan hilang seluruh kepercayaannya kepadamu."


__ADS_2