
Malam harinya, saat Zico sedang bermain bersama di depan televisi, Bian pun datang dan langsung masuk ke rumah tersebut. Zico dan Daffa langsung berdiri dan menghampiri Bian dengan senang.
"Paman Bian!"
"Paman Bian!"
"Paman Bian, aku senang sekali akhirnya Paman datang ke rumahku."
"Zico, Paman kan sudah mengatakan kepadamu jika malam ini Paman akan datang."
Bian kemudian memberikan makanan kesukaan anak-anak kepada Zico dan Daffa.
"Daffa, di mana ayah dan bundamu? Paman ingin memberikan buah-buahan ini kepada mereka."
"Ayah sedang berada di ruang kerja bersama Kakek, sedangkan Bunda dari tadi masih belum keluar dari kamar."
"Kalau begitu Paman akan pergi menyusul bundamu dan memberikan buah-buahan ini untuknya."
"Paman, ini kan bukan rumah Paman. Kenapa Paman bertindak semau Paman? Paman datang ke sini hanya untuk bermain denganku dan juga Daffa, bukan untuk menemui Bunda. Lagipula jika Ayah melihat Paman berada di kamar bersama Bunda, Ayah pasti akan sangat marah dan meminta Paman untuk segera pulang."
"Benar, Paman. Jika Paman ingin memberikan buah-buahan itu kepada bibi Eleanor, letakkan saja dulu buah-buahannya di atas meja."
"Iya, Paman. Sebentar lagi Bunda juga akan turun dan menemui kita."
Tidak lama setelah itu, Eleanor pun datang dan dia terkejut melihat Bian berada di rumahnya saat itu. Zico yang melihat bundanya datang, dia pun langsung berdiri diikuti oleh Daffa.
"Bian, kau di sini?" tanya Eleanor.
Bian pun tersenyum dan langsung memeluk Eleanor, tetapi Eleanor langsung mendorong tubuh Bian.
"Bian, apa yang kau lakukan di sini?"
"El, aku sangat menghawatirkan keadaanmu. Aku datang ke sini untuk memastikan jika kau baik-baik saja, selain itu aku juga ingin bertemu dengan Zico."
"Ada apa ini, Bian? Dulu kau sangat membenci Zico karena dia adalah anakku bersama Zergan. Lalu kenapa sekarang kau malah ingin bertemu dengannya? Apa yang sedang kau rencanakan sekarang?"
"Aku tidak sedang merencanakan apapun. Aku sekarang baru menyadari jika aku juga sangat menyayangi Zico."
"Zico, apa yang sedang dibicarakan oleh ibumu dan juga paman Bian?" bisik Daffa ke telinga Zico.
"Aku juga tidak tahu, Daffa. Tapi sepertinya sedang ada masalah dengan Bunda dan paman Bian," balas Zico dengan suara yang pelan.
"Bian, sudahlah. Sekarang kau harus pergi dari rumah ini. Zergan pasti akan sangat marah ketika melihatmu berada di sini dan kau sedang berusaha untuk mendekati anaknya."
Zergan berjalan di lantai atas, kemudian dia melihat di lantai bawah jika Eleanor sedang berbicara bersama Bian. Zergan pun segera turun dan menyusul mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zergan dengan ketus.
"Zergan?" ucap Eleanor.
__ADS_1
"Daffa, sekarang ayahku datang. Àyah pasti akan memarahi paman Bian sekarang," ucap Zico.
"Benar, Zico. Kita harus menyelamatkan paman Bian dari kemarahan ayahmu, karena paman Bian sudah baik kepada kita," balas Daffa.
"Aku sudah mengatakan kepada Zico dan Daffa jika malam ini aku akan datang ke rumah ini," jawab Bian.
"Itu hanya alasanmu saja. Aku tahu jika kau sangat khawatir dengan keadaan istriku, itu sebabnya kau datang ke sini karena kau ingin menemuinya."
"Ayah, tolong jangan marah kepada paman Bian. Aku dan Daffa telah meminta paman Bian untuk datang ke rumah kita, kami ingin bermain dengannya. Benar kan, Daffa?"
"Benar, Paman."
"Zico, Ayah tidak akan mengizinkan kau dan Daffa bermain dengannya."
"Tapi kenapa, Ayah? Aku sudah mengatakan kepada paman Bian kalau Bunda adalah milik Ayah, jadi paman Bian tidak boleh mengganggunya."
"Paman, tolong izinkan paman Bian di sini. Kami ingin sekali bermain dengannya."
"Iya, Ayah. Hanya malam ini."
"Kau tidak seharusnya membiarkan anak-anak menjadi sedih hanya karena perasaanmu sendiri," bisik Bian ke telinga Zergan.
"Ayah, bagaimana? Boleh ya kami bermain bersama paman Bian?"
"Baiklah. Tapi Ayah ingin kau dan Daffa hanya bermain sebentar bersama paman Bian."
"Baiklah."
"Zergan, apa yang terjadi?" tanya Eleanor sambil tersenyum.
"Aku tidak ingin memberikan waktu kepada Bian untuk memandangmu. Biarlah aku yang menikmati kecantikan di wajahmu, jangan sampai pria lain juga menikmatinya," jawab Zergan dengan wajahnya yang datar.
Eleanor memegang kedua tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.
"Zergan, terima kasih karena tadi kau telah menyelamatkan nyawaku."
"Kenapa harus berterima kasih? Aku adalah suamimu, jadi aku akan melakukan apapun agar istriku bisa terus berada di sampingku."
"Oh iya, aku ingin memberitahu sesuatu kepadamu."
"Apa itu, Zergan?"
"Laura mengundurkan diri dari pekerjaannya."
"Tapi kenapa?"
"Dia akan pergi ke luar negeri bersama ibunya. Dia akan menikah dengan pria pilihan ibunya dan mereka akan tinggal di luar negeri untuk seterusnya."
"Zergan, kenapa kau terlihat bingung seperti itu? Aku juga bisa menggantikan posisi Laura sebagai sekretaris pribadi mu."
__ADS_1
"Tapi aku tidak akan membiarkan istriku ikut campur dalam urusan bisnis. Bukankah sekarang kau sudah sangat sibuk dengan dunia modeling mu? Kau juga harus mengurus anak kita di rumah."
"Lalu bagaimana dengan pengganti Laura? Apa kau sudah menemukan orang yang mungkin cocok untuk menjadi sekretaris pribadi mu?"
"Aku belum memikirkannya, tapi aku pasti akan segera mendapatkan sekretaris baru untuk menggantikan Laura."
Bian dari tadi hanya diam dan kesal melihat Zergan yang sengaja memeluk Eleanor seperti itu.
"Zico, kenapa paman Bian diam saja? Dari tadi dia juga terus menatap ke arah ayah dan bundamu."
"Aku juga tidak tahu."
"Paman Bian, kenapa Paman diam saja? Ayo kita bermain."
"Baiklah."
Setelah cukup lama mereka bermain, tiba-tiba ponsel Bian berdering dan menunjukkan panggilan dari Grace.
"Paman, siapa yang menghubungi Paman?"
"Ini sepupu Paman. Paman akan mengangkatnya dulu."
"Baiklah."
Bian berjalan sedikit menjauhi Zico dan Daffa untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Kakak. Kau di mana sekarang? Aku sudah datang ke rumah, tapi kau tidak ada."
"Jadi kau sudah sampai di Jakarta?"
"Iya, aku baru sampai dan salah satu pelayanmu mengatakan jika kau pergi keluar. Di mana kau sekarang?"
"Aku sedang berada di rumah Eleanor."
"Kakak, nona Eleanor sudah memiliki seorang suami. Kenapa kau masih mengejarnya?"
"Sekarang aku sedang bermain dengan anak laki-lakinya."
"Berapa anak yang nona Eleanor miliki? Anaknya pasti sangat lucu."
"Dia memiliki satu anak laki-laki dan anak laki-lakinya memang sangat lucu."
"Baiklah kalau begitu. Kau harus segera pergi dari sana karena aku tidak ingin menunggumu terlalu lama, aku sudah sangat merindukanmu."
"Baiklah."
Saat Bian hendak menghampiri Zico dan Daffa, ternyata Zico dan Daffa sudah terlebih dahulu menghampirinya.
"Zico, Daffa, Paman harus pulang sekarang. Sepupu Paman sudah menunggu Paman di rumah."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Paman hati-hati di jalan ya."
"Baik."