
"Paman Bian, ayo kita pergi dari sini. Aku ingin segera bertemu dengan Kakek."
"Tidak, Zico. Bunda ada di sini, kau pergi bersama Bunda saja ya."
"Aku tidak mau. Bunda dan Ayah sama-sama telah berbohong kepadaku."
"Zico, lebih baik kau pergi bersama bundamu. Jangan membuatnya bersedih seperti ini."
"Tidak, paman Bian. Aku ingin pergi bersama Paman saja."
Zergan pun menarik kerah kemeja Bian dan menatapnya dengan tajam.
"Berani sekali kau mempengaruhi putraku? Kau telah membuatnya benci dengan orang tuanya sendiri," ucap Zergan dengan pelan.
"Aku tidak mempengaruhinya sama sekali. Kau seharusnya sadar dengan apa yang telah kau lakukan kepada ibunya. Jika kau berani menyakiti hati ibunya, dia pasti akan sangat membencimu," balas Bian.
"Paman, ayo kita pergi."
"El, biarkan Zico pergi bersamaku. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik."
Eleanor hanya diam tanpa membalas ucapan dari Bian. Bian menggandeng tangan Zico dan mereka berdua masuk ke mobil. Eleanor terus menatap Zico yang mulai pergi meninggalkannya.
"El ...." Zergan menyentuh tangan Eleanor.
Eleanor menghindar dari Zergan dan tanpa berbicara apapun dia pun langsung meninggalkan Zergan dan masuk ke mobil.
"Kau ingin pergi kemana?"
"Aku akan pergi menyusul Zico, dan aku harap kau tidak akan mengikutiku."
"Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi."
"Oh ya? Kenapa kau bersikap seolah-olah kau sangat peduli denganku?"
"El, aku adalah suamimu. Aku benar-benar peduli denganmu."
"Jika kau memang peduli kepadaku, kau seharusnya tidak menyakiti perasaanku seperti ini."
"Aku tidak menyakiti perasaan mu. Kau hanya salah paham denganku dan juga Grace. Aku sudah memecatnya dari perusahaan, dia tidak akan diterima lagi di perusahaan ini."
Tidak lama kemudian, Grace datang dan langsung menggandeng tangan Zergan.
"Zergan, kenapa kau meninggalkan aku tadi? Kau menemui istrimu untuk mengatakan kebohongan lagi?"
Zergan sangat muak dengan Grace dan langsung mendorong Grace agar tidak menggandeng tangannya lagi.
"Zergan, kenapa--" ucapan Grace terputus.
__ADS_1
"Plakk!" Suara tamparan keras mendarat di pipi Grace.
Zergan menampar wajah Grace tepat di depan Eleanor. Dia membuktikan jika dia benar-benar tidak mencintai Grace, tetapi dia hanya mencintai Eleanor.
Eleanor pun terkejut melihat Zergan yang telah menampar seorang wanita, karena sebelumnya Zergan tidak pernah berani melakukan hal itu.
"Sudah cukup, Grace! Dulu Anna selalu mengganggu hidupku bersama Eleanor, dan sekarang kau juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"
"Zergan, kau menamparku?"
"Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih kejam jika saat ini juga kau tidak pergi dari sini."
Grace menatap Zergan alih-alih menatap Eleanor dengan wajah kesal. Karena merasa malu, Grace pun pergi meninggalkan mereka di sana.
Eleanor masih diam dan mengarahkan pandangannya ke bawah. Zergan kemudian mendekati Eleanor dan memeluknya.
"Aku sudah mengatakan jika aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Grace. Aku hanya mencintaimu, kenapa kau tidak juga percaya denganku?" ucap Zergan.
"Apalagi yang harus aku lakukan agar kau bisa kembali percaya denganku?" sambungnya.
Eleanor tidak membalas pelukan Zergan. Zergan pun menangis dan air matanya menetes di bahu Eleanor. Eleanor terkejut dan langsung melepaskan pelukan itu.
"Kau menangis?"
"Aku tidak bisa hidup seperti ini. Tolong jangan marah lagi kepadaku, aku merasa sangat lemah tanpa perhatian darimu."
"Maafkan aku karena tidak percaya denganmu. Aku tidak berbicara denganmu dan aku tidak memberikan perhatian untukmu, maafkan aku."
Zergan mengelus rambut Eleanor dan juga menciumnya. Mereka berdua kini telah berbaikan dan tidak lagi saling mendiamkan.
*******
Bian menghentikan mobilnya di pinggir jalan karena melihat ayah Yudha sedang berbicara dengan seseorang di seberang jalan.
"Paman, kenapa berhenti di sini? Aku kan meminta Paman untuk mengantarkanku menemui Kakek."
"Kau lihat itu? Kakekmu sedang berdiri di sana dan berbicara dengan seseorang."
"Paman benar, itu adalah Kakek."
"Sekarang kita turun, tapi kau harus berhati-hati ya."
"Iya, Paman."
Bian menggandeng tangan Zico dan mengajaknya menyebrangi jalan. Saat mereka sudah sampai di samping mobil ayah Yudha, Zico langsung melepaskan tangannya dari Bian dan berlari menghampiri kakeknya.
"Kakek!"
__ADS_1
"Zico? Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang telah mengantarkanmu?"
"Kakek, Paman Bian yang telah mengantarkanku ke sini untuk menemui Kakek."
Raut wajah ayah Yudha pun berubah menjadi tidak senang setelah melihat Bian berada di sana.
"Kenapa kau berani membawa cucuku pergi?"
"Kakek, jangan marah seperti itu kepada paman Bian. Aku yang telah memintanya untuk mengantarkanku menemui Kakek."
"Zico, kau seharusnya tidak pergi bersama orang lain. Ayah dan bundamu kan bisa mengantarkanmu untuk menemui Kakek."
"Tapi aku tidak mau Ayah dan Bunda mengantarkan aku. Ayah dan Bunda telah berbohong kepadaku, aku tidak mau pergi bersama Ayah dan Bunda."
"Berbohong tentang apa?"
"Ayah dan Bunda kemarin mengatakan jika mereka akan baikan dan mereka sudah berjanji kepadaku. Tapi tadi saat di kantor aku malah melihat Ayah sedang bersama wanita lain dan ternyata Ayah juga Bunda masih belum baikan. Mereka telah berbohong kepadaku, Kakek."
"Zico, Kakek mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi kau harus memberikan waktu untuk mereka berdua, biarkan ayah dan bundamu menyelesaikan masalah mereka dulu."
Zergan dan Eleanor pun sampai di tempat tersebut.
Mereka berdua turun dari mobil dan menghampiri Zico.
"Zico ...." Eleanor hendak memeluk anaknya.
"Tidak mau. Aku tidak mau bersama Bunda dan Ayah, aku ingin bersama Kakek." Zico menghindar dari Eleanor.
"Zico, kenapa kau bersikap seperti ini? Ini bundamu, Bunda ingin menggendongmu."
"Aku sudah bilang aku tidak mau. Ayah dan Bunda telah berbohong kepadaku, aku tidak mau digendong oleh Ayah ataupun Bunda."
"Zico, jangan bersikap seperti itu ya. Kasihan Bunda."
"Tapi aku tidak mau digendong Bunda. Aku sangat marah kepada Bunda karena Bunda telah membohongiku. Bunda dan Ayah masih belum baikan, di kantor tadi juga ada seorang wanita yang memeluk Ayah. Aku tidak suka jika melihat Ayah dan Bunda berjauhan."
"Zico, kau lihat tadi? Ayah dan Bunda datang ke sini menggunakan satu mobil. Kami sudah baikan dan sekarang kami ingin membawa Zico pulang."
"Ayah berbohong. Aku tidak mau pulang bersama Ayah dan Bunda, aku ingin pulang bersama Kakek."
"Zico, ayah dan bundamu sekarang sudah baikan. Jadi kau jangan marah lagi dan pulanglah bersama mereka."
"Kenapa sekarang Kakek berpihak kepada Ayah dan Bunda? Kakek sekarang turunkan aku."
Setelah ayah Yudha menurunkannya, Zico langsung pergi menghampiri Bian dan memeluk kakinya.
"Paman Bian, aku tidak mau pulang bersama mereka. Aku ingin pulang bersama Paman."
__ADS_1
Zergan pun terlihat kesal dan berpikir jika Bian telah meracuni pikiran anak laki-lakinya. Zergan mengepalkan tangannya dan hendak menghampiri Bian, tapi Eleanor mencegahnya.