
Bian kini berada di tepi pantai bersama investor yang dari luar negeri. Mereka telah selesai membahas tentang kerjasama mereka, kemudian investor tersebut memutuskan untuk pergi.
"Tuan Bian, saya ucapkan banyak terima kasih kepada Tuan. Ini bukan pertama kalinya kita bertemu, saya sangat puas dengan setiap kerjasama yang telah kita lakukan."
"Tuan Lay, saya juga sangat berterima kasih kepada anda. Karena kerjasama ini, banyak investor dari luar negeri yang juga ingin bekerjasama dengan perusahaan saya."
"Tuan Bian, apa setelah ini Tuan akan langsung kembali ke Jakarta?"
"Tidak, tuan Lay. Saya mungkin akan menginap di sini selama beberapa hari. Saya ingin beristirahat dari pekerjaan saya."
"Itu benar, Tuan. Meskipun kita sangat sibuk, kita juga harus memiliki waktu untuk diri kita sendiri."
"Kau benar."
"Baiklah kalau begitu, tuan Bian. Aku permisi dulu, semoga liburanmu menyenangkan."
"Terima kasih, tuan Lay. Berhati-hatilah di jalan, salam untuk anak dan istrimu."
"Terima kasih, akan aku sampaikan salam darimu."
"Tuan Bian, saya akan mengantarkan tuan Lay ke depan."
"Baiklah."
Bian merasa sangat senang karena akhirnya dia bisa beristirahat sejenak dari pekerjaan yang membuatnya merasa jenuh.
Bian kemudian berjalan ke bibir pantai dan memainkan air dengan kakinya.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki berlari ke arahnya dan tidak sengaja menabraknya.
"Paman, maafkan aku. Aku tidak sengaja menabrakmu."
Anak kecil itu adalah Zico yang sedang berlari dari kejaran kakeknya. Zico tidak mengenal Bian, tetapi Bian mengetahui jika itu adalah Zico yang merupakan anak dari Zergan dan Eleanor.
"Paman, apa Paman mau memaafkanku?"
"Iya, aku sudah memaafkanmu."
"Terima kasih, Paman. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Tunggu dulu!"
"Ada apa, Paman?"
"Kau Zico, kan?"
"Paman tahu dari mana jika namaku Zico? Apa Paman mengenalku?"
"Iya, Paman mengenalmu. Paman adalah teman dari kedua orang tuamu."
"Benarkah? Siapa nama Paman?"
"Kau bisa memanggilku paman Bian."
"Paman Bian, apa yang Paman lakukan di sini? Apa Paman juga sedang berlibur?"
"Paman tadi sedang ada urusan dengan pekerjaan. Tapi sekarang pekerjaan itu telah selesai dan Paman ingin berlibur di sini."
"Paman pasti sangat sibuk seperti Ayah."
__ADS_1
"Itu benar. Paman dan ayahmu memang sama-sama sibuk."
"Apa Paman ke sini sendirian? Di mana istri Paman?"
"Ibumu seharusnya menjadi istriku jika ayahmu tidak merebutnya dariku," batin Bian dengan kesal.
"Paman belum memiliki seorang istri."
"Tapi kenapa? Usia Paman pasti sama dengan ayahku, tapi ayahku sudah memiliki seorang istri dan anak."
"Paman seharusnya juga sudah memiliki seorang istri, tapi sayangnya pria lain merebutnya dari Paman."
"Kenapa Paman membiarkan pria itu merebut wanita Paman? Jika ada pria lain yang ingin merebut Bunda dari Ayah, Ayah pasti tidak akan membiarkannya."
"Kau benar, ayahmu pasti tidak akan membiarkan pria lain merebut ibumu. Tapi Paman akan tetap berusaha untuk mendapatkan kembali wanita Paman."
"Paman, apa aku boleh tahu siapa wanita yang Paman cintai itu?"
"Kau sudah tahu namanya, kau bahkan sangat mengenalnya."
"Tapi siapa? Aku sama sekali tidak tahu."
"Itu tidak penting. Lebih baik kau pergi menyusul kakekmu, dia pasti sangat bingung mencari mu."
"Baiklah."
Setelah Zico pergi dari sana, Bian langsung tersenyum karena tahu jika Eleanor juga berada di tempat yang sama dengannya.
"Ini adalah takdir. Kita dipertemukan kembali setelah semua yang telah terjadi," batin Bian.
"Tuan Bian, apa yang Tuan lakukan di sini?" tanya Felix yang tiba-tiba datang menghampiri Bian.
"Aku tadi bertemu dengan anak kecil," balas Bian.
"Dia adalah anak dari Zergan dan Eleanor. Aku sempat berbicara beberapa hal dengannya."
"Zico ada di sini? Itu artinya Lea juga datang ke tempat ini, tapi kenapa dia tidak memberitahuku?" batin Felix.
"Felix, kenapa kau melamun? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"
"Tidak, Tuan."
"Kalau begitu aku akan pergi ke kamarku."
"Baik, Tuan."
Setelah Bian pergi meninggalkan Felix, Felix pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Lea.
"Halo. Felix, maafkan aku karena aku lupa menghubungimu."
"Tidak masalah, Lea. Sekarang katakan kepadaku, apa kau ada di Bali bersama tuan Zergan dan nona Eleanor?"
"Benar. Tapi dari mana kau tahu itu?"
"Tuan Bian tadi memberitahuku jika dia baru saja melihat Zico, bahkan dia juga sempat berbicara dengannya."
"Felix, itu artinya kau juga berada di Bali?"
"Iya. Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau pergi ke Bali, Lea?"
__ADS_1
"Felix, kau jangan marah. Aku minta maaf karena aku tidak memberitahumu. Aku sangat sibuk sampai-sampai aku lupa untuk memberikan kabar."
"Tidak apa-apa, Lea. Aku mengerti itu. Aku juga sangat sibuk, karena tadi aku harus mengurus investor tuan Bian yang dari Singapura."
"Lalu Felix, apakah kau akan kembali ke Jakarta setelah ini?"
"Tidak. Tuan Bian memutuskan untuk berlibur di sini selama beberapa hari. Tuan Bian ingin beristirahat dari pekerjaannya."
"Felix, aku sangat merindukanmu."
"Aku juga sangat merindukanmu, Lea. Jika malam ini tuan Bian tidak membutuhkanku, aku akan pergi untuk menemuimu."
"Baiklah. Aku juga akan meminta izin kepada nona Eleanor."
"Tidak, Lea."
"Kenapa?"
"Jika nona Eleanor tahu aku berada di sini, dia juga pasti akan tahu kalau tuan Bian juga ada di sini."
"Tapi bukankah tadi Zico juga melihat tuan Bian?"
"Iya, tapi kita tidak boleh membiarkan Zico berbicara tentang tuan Bian kepada tuan Zergan. Tuan Zergan pasti akan sangat marah."
"Tapi tuan Bian sudah tahu jika nona Eleanor berada di sini. Dia pasti akan berusaha untuk menemui nona Eleanor."
"Aku akan mencegah tuan Bian agar tidak bertemu dengan nona Eleanor ataupun tuan Zergan. Tapi kau juga harus pastikan jika Zico tidak memberitahu tuan Zergan ataupun nona Eleanor jika dia baru saja bertemu dengan tuan Bian."
"Baiklah, Felix."
Lea pun menutup panggilan tersebut dan pergi menghampiri Zico.
"Zico, di mana Kakek?"
"Kakek sedang pergi mengambil minuman."
"Zico, apa Bibi boleh meminta tolong kepadamu?"
"Bibi ingin meminta tolong apa?"
"Kau tadi bertemu dengan paman Bian, bukan?"
"Bibi juga mengenal paman Bian?"
"Iya, Bibi mengenalnya. Zico, Bibi minta tolong, kau jangan beritahu Ayah atau Bunda jika kau bertemu dengan paman Bian di sini."
"Tapi kenapa? Paman Bian kan temannya Ayah dan Bunda. Kenapa Ayah dan Bunda tidak boleh tahu jika aku baru bertemu dengan paman Bian?"
"Zico--"
"Zico, Kakek membawakan minuman dingin untukmu."
"Yeayy ... Kakek tahu minuman kesukaanku?"
"Tentu saja Kakek tahu. Kau dan Zergan sama-sama menyukai minuman rasa capuccino."
"Terima kasih, Kakek."
"Lea, kau juga ingin minuman?"
__ADS_1
"Tidak, Tuan Besar. Kenapa tadi Tuan Besar tidak menelepon saya saja? Saya bisa mengambilkan minuman dingin untuk Tuan Besar dan juga Zico."
"Tidak perlu, Lea. Aku bisa mengambilnya sendiri."