
Bian jongkok dan menyentuh wajah imut Zico.
"Zico, kau tidak boleh seperti ini. Kau harus pulang ke rumah bersama ayah dan bundamu. Mereka berdua juga sudah baikan, jadi kau jangan khawatir," ucap Bian dengan lembut.
"Paman, kenapa tidak ada seorangpun di sini yang menyayangi aku? Kenapa Kakek dan Paman tidak mau mengantarkan aku pulang?" balas Zico dengan wajahnya yang hampir menangis.
Eleanor kemudian menghampiri Zico dan jongkok. Dia memegang tangan putranya dan juga wajahnya.
"Sayang, kenapa kau berbicara seperti itu? Kami semua menyayangimu, Bunda sangat menyayangimu, Zico."
"Jika Bunda menyayangiku, kenapa Bunda dan Ayah bertengkar dan tidak baikan? Apa kalian sudah tidak saling mencintai?"
Zergan jongkok di samping Eleanor. "Bukan begitu, Zico. Ayah dan Bunda saling mencintai. Kemarin kami memiliki sedikit masalah, tapi masalah itu sekarang sudah selesai. Kami sudah tidak lagi bertengkar."
"Zico, dengarkan Bunda ya. Dalam kehidupan orang dewasa akan banyak sekali masalah yang datang, apalagi jika sudah menikah. Tapi itu bukan berarti Ayah dan Bunda tidak saling mencintai, Sayang. Kami saling mencintai dan kami juga sangat menyayangi anak laki-laki kami."
"Benarkah seperti itu?"
"Benar, Zico."
Zico pun memeluk kedua orang tuanya saat itu juga. Ayah Yudha dan Bian tersenyum melihat momen tersebut.
"Ayah, Bunda, maafkan aku ya. Aku berjanji tidak akan marah lagi kepada kalian, tapi kalian juga harus berjanji jika kalian tidak akan bertengkar lagi."
"Kami berjanji."
"Kami berjanji."
"Karena kalian sudah baikan, sekarang kita pulang ke rumah."
"Tunggu dulu, Kakek. Ayah, Bunda, aku juga ingin mengajak paman Bian pulang ke rumah kita. Boleh kan? Aku mohon."
"Zico, paman Bian harus pergi ke kantor untuk kembali bekerja. Jadi jangan membuatnya merasa kerepotan."
"Ayah kenapa bicara seperti itu? Paman Bian tidak pergi bekerja hari ini karena pekerjaannya telah selesai. Paman Bian sendiri yang mengatakannya kepadaku."
__ADS_1
"Zergan, biarkan saja Bian ikut bersama kita. Lagipula Bian telah mengantarkan Zico untuk menemui Ayah hari ini."
"Iya, Ayah. Apa yang dikatakan Bunda itu benar. Boleh ya paman Bian ikut pulang bersama kita?"
"Baiklah kalau begitu."
"Yeayy ...."
Mereka semua pun masuk ke mobil mereka masing-masing dan pergi menuju rumah. Sesampainya di sana, Zico langsung menggandeng tangan Bian dan mengajaknya masuk.
Bian hanya diam ketika tangannya ditarik-tarik oleh anak kecil itu. Eleanor dan ayah Yudha pun tersenyum, sedangkan Zergan terlihat tidak senang.
Zico membawa Bian ke kolam ikan dan menunjukkan ikan-ikannya kepada Bian.
"Paman, ini semua adalah ikan-ikan milikku dan juga Ayah. Bagus, kan? Ayah yang membelikannya untukku," ucap Zico dengan senang.
"Bagus sekali," balas Bian sambil tersenyum.
"Jangan kau berpikir jika kau bisa merebut hati anakku. Aku adalah ayahnya dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," bisik Zergan di telinga Bian.
Dia merasa bahagia bisa melihat senyuman di wajah wanita yang sangat dia cintai, walupun alasan munculnya senyuman itu bukan karena dirinya.
"Kau jangan khawatir. Aku sudah bisa menerima jika Eleanor bukan lagi milikku. Aku berharap dia akan selalu bahagia bersamamu. Tolong jangan pernah membuatnya merasa sedih."
Bian memeluk tubuh Zergan, kemudian tiba-tiba hati Zergan tersentuh setelah Bian mengatakan hal seperti itu. Dia seperti merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Bian ketika dia tidak bisa memiliki wanita yang sangat dia cintai.
Zergan pun membalas pelukan itu dan tersenyum. Zergan sekarang tidak lagi menyimpan kebencian di dalam hatinya untuk Bian. Zergan merasa sangat tenang karena pada akhirnya Bian sudah merelakan Eleanor sepenuhnya untuk dirinya.
"Ayah dan Paman kenapa tiba-tiba berpelukan seperti itu?" tanya Zico dengan bingung.
Mereka berdua pun melepaskan pelukan itu, dan tanpa mereka sadari air mata pun mulai keluar dari kedua mata mereka.
"Ayah dan Paman menangis?" Zico kembali bertanya.
"Tidak, Zico. Paman dan ayahmu tidak menangis, tapi kami sekarang sedang bahagia," balas Bian sambil tersenyum.
__ADS_1
"Benar sekali. Kami bahagia karena sekarang kami sudah bisa saling memaafkan dan kami juga sekarang telah menjadi seorang teman," balas Zergan sambil tersenyum.
"Benarkah? Ayah dan paman Bian sekarang berteman?"
"Iya, kami sekarang berteman."
"Yeayy ... itu artinya paman Bian bisa datang ke rumah ini setiap hari untuk bermain denganku.*
Zergan dan Bian tersenyum, kemudian Zico memeluk mereka dengan sangat erat.
"Aku sangat senang memiliki Ayah dan juga Paman dalam hidupku. Aku berjanji akan menjadi anak yang baik dan juga pintar, agar Ayah dan Paman semakin menyayangiku dan juga bangga kepadaku."
Zico melepaskan pelukan itu, lalu Zergan dan Bian mencium Zico secara bergantian. Tanpa mereka sadari, ternyata Eleanor dan ayah Yudha telah memperhatikan mereka dari tadi.
Eleanor datang dengan membawa jus segar untuk mereka.
"Aku senang melihat kalian sekarang menjadi teman. Semoga pertemanan kalian tidak akan terputus walau apapun yang terjadi," ucap Eleanor.
"Aku sekarang sadar jika tidak selamanya yang kita inginkan akan menjadi milik kita. Selama ini aku terlalu mencintaimu, bahkan aku sangat takut jika kau pergi meninggalkanku. Tapi ketakutan itu benar-benar terjadi, kau pergi meninggalkanku dan kau tidak akan pernah kembali kepadaku. Tapi aku juga bahagia karena kau bisa bersama dengan pria yang kau cintai dan juga sangat mencintaimu. Aku berharap kalian berdua akan selamanya bahagia," ucap Bian dengan air matanya yang hampir saja menetes.
"Kenapa kau akan menangis, Bian? Ini adalah hari bahagia kita bersama di mana kau menemukan teman baru yang dulunya kalian saling membenci. Kita harus bahagia dengan hal ini," balas Eleanor.
"Ayah juga senang bisa melihat kalian seperti ini. Ayah merasa sangat bahagia karena tidak ada lagi permusuhan diantara kalian, kalian sekarang adalah teman," ucap ayah Yudha.
Ayah Yudha kemudian memeluk Zergan dan juga Bian dengan erat. Kini ayah Yudha juga tidak menaruh rasa benci kepada Bian. Dia sekarang telah menganggap Bian seperti putranya sendiri. Bian adalah saudara dan juga teman bagi Zergan.
Zergan dan Bian pun mengambil jus segar yang dibawakan oleh Eleanor. Mereka meminumnya dengan senang, lalu tiba-tiba Zergan terpikirkan tentang Lea dan juga asisten pribadi Bian.
"Bagaimana dengan asisten pribadimu?"
"Maksudmu Felix?"
"Iya. Aku dengar dia menjalin hubungan asmara dengan asisten pribadi Eleanor juga orang kepercayaan ku."
"Aku tidak tahu tentang hal itu. Aku sudah menganggap Felix seperti adikku sendiri, tapi dia tidak pernah menceritakan jika dia sedang menyukai seseorang bahkan menjalin hubungan asmara dengan seorang wanita."
__ADS_1