Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 29


__ADS_3

Eleanor keluar dari ruang ganti dengan memakai sebuah gaun pengantin dari sekian banyaknya gaun yang sudah dia pakai.


Kali ini Zergan terdiam lalu tersenyum karena Eleanor terlihat cocok mengenakan gaun berwarna putih tersebut.


"Tuan Zergan, bagaimana dengan gaun yang ini? Apa anda menyukainya?" tanya seorang Desainer di butik tersebut.


"Iya, aku sangat menyukainya," balas Zergan yang dari tadi tidak dapat memalingkan wajahnya dari Eleanor.


Zergan kemudian berjalan mendekati Eleanor dan menyentuh pipinya.


"Kau terlihat sangat cantik," bisiknya ke telinga Eleanor.


"Kenapa kau terlihat tidak senang? Apa kau tidak menyukai gaun yang aku pilih?"


"Tidak, Zergan. Aku menyukainya, tapi aku sangat lelah hari ini. Karena kita harus berpindah butik dan aku juga harus mencoba banyak sekali gaun."


"Maafkan aku karena telah membuatmu merasa lelah seperti ini."


"Tidak masalah."


"Baiklah. Kita akan pulang setelah kau mengganti pakaianmu."


Setelah Eleanor pergi untuk mengganti pakaiannya, Zergan mendapatkan panggilan dari ayahnya yang sedang berada di Australia.


"Zergan, bagaimana kabarmu?"


"Kabarku sangat baik, Ayah. Ayah sendiri bagaimana?"


"Kabar Ayah juga baik."


"Ayah kapan datang ke sini?"


"Ayah sekarang sudah sampai di Bandara, dan sebentar lagi Ayah akan sampai di rumah."


"Benarkah? Kenapa Ayah tidak memberitahuku? Aku akan menjemput Ayah sekarang."


"Tidak perlu, Anakku. Ayah sudah meminta seseorang untuk menjemput Ayah. Apa kau sedang bersama Eleanor sekarang?"


"Iya, kami sedang berada di butik. Eleanor sedang mengganti pakaiannya."


"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?"


"Ayah tidak perlu khawatir. Aku sudah mengatur semuanya."


"Baiklah, Zergan. Kalau begitu sudah dulu ya, sampaikan salam Ayah untuk Eleanor."


"Aku akan menyampaikan salam Ayah."


Setelah Zergan menyimpan ponselnya di dalam saku, Eleanor kemudian berjalan perlahan ke arah Zergan.


"Kau berbicara dengan siapa di telepon?"


"Ayahku, dia sudah sampai di Bandara dan sebentar lagi akan sampai di rumah. Ayah juga menitipkan salam untukmu. Kau sudah selesai?"


"Iya."


"Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang."


"Tunggu dulu, Zergan. Kau tidak pernah mengatakan kepadaku jika kau masih memiliki seorang Ayah."


"Aku memang belum sempat memberitahumu. Tapi ayahku sudah mengenalmu, bahkan kalian juga pernah bertemu sebelumnya."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya. Ayah sendiri yang memberikan fotomu saat kau sedang berbicara dengan seorang sutradara di Paris. Ayahku memotretmu lalu mengirimkan foto itu kepadaku."


"Kenapa kau terlihat sedang berpikir seperti itu? Kau pasti tidak akan mengingatnya, karena waktu itu kau belum mengenal ayahku."


"Sudahlah. Nanti malam ayahku akan datang ke rumah untuk bertemu dengan kita dan juga Zico. Dia sangat ingin bertemu dengan wanita yang berhasil membuatku kembali jatuh cinta dan juga cucunya."


Zergan membukakan pintu mobil untuk Eleanor lalu mempersilakannya masuk. Zergan kemudian mengemudikan mobilnya menuju ke rumah.


Perjalanan mereka dari butik menuju rumah memang cukup jauh. Karena Zergan memang sengaja berpindah butik agar mereka tidak bertemu dengan Anna yang pergi menyusul mereka.


Mobil Zergan berhenti di lampu merah. Dia kemudian menoleh ke arah Eleanor, dan ternyata Eleanor sedang tertidur pulas di dalam mobil.


Zergan kemudian mengelus rambut panjang Eleanor sambil tersenyum.


"Dia benar-benar kelelahan. Aku tidak seharusnya memintanya untuk berganti banyak gaun," batin Zergan.


Zergan kembali melajukan mobilnya dengan cepat agar mereka cepat sampai di rumah.


Sesampainya di rumah Zergan langsung membopong Eleanor yang masih tertidur pulas dan membawanya masuk.


Dan kebetulan saat itu juga, Zico, Lea dan Felix datang. Zico yang melihat mobil ayahnya langsung berlari masuk ke rumah.


"Ayahh!!"


"Ssttt!"


Zico langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Kemudian Lea dan Felix datang.


"Tuan, apa yang terjadi dengan nona Eleanor?"


"Dia hanya kelelahan, jadi dia tertidur sangat pulas."


"Ayah, tapi aku ingin bermain dengan Bunda."


"Zico, mainnya nanti saja ya kalau Bunda sudah bangun. Zico jangan ganggu Bunda dulu, karena Bunda sangat lelah."


Zergan membawa Eleanor ke kamar dan menidurkannya di atas kasur. Saat Zergan mengelus kepala Eleanor, tiba-tiba Eleanor terbangun dan memegang tangan Zergan.


"Apa yang kau lakukan?"


"Eleanor, wajahmu terlihat sangat cantik walaupun kau sedang tertidur. Maafkan aku karena telah membuatmu merasa lelah."


"Zergan, bisakah kau meninggalkanku sendiri? Aku ingin tidur beberapa menit."


"Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu."


Zergan menyelimuti tubuh Eleanor lalu mencium keningnya. Setelah itu Zergan menutup pintu kamarnya dan pergi menuju lantai bawah.


"Lea, di mana temanmu tadi?"


"Tuan Zergan, saya ingin mengenalkan Tuan dengan tuan Felix, tetapi tadi dia mendapatkan panggilan dari atasannya. Jadi dia tidak bisa berlama-lama di sini."


"Kau terlihat sangat dekat dengannya."


"Tidak, Tuan. Kami baru bertemu hari ini, tetapi dia adalah orang yang baik."


"Aku seperti pernah melihat pria yang bersama Lea tadi. Tapi aku tidak ingat di mana aku melihatnya," batin Zergan.


"Lea, malam ini ayahku akan datang dan ikut makan malam bersama. Selama di Indonesia, ayahku akan tinggal di rumah ini. Aku ingin kau mempersiapkan kamar untuk ayahku."


"Baik, Tuan."


"Di mana Zico?"

__ADS_1


"Zico sedang memberikan makan kepada ikan miliknya."


"Baiklah, aku akan menyusulnya."


Zergan menyusul Zico yang sedang duduk sambil memberi makan ikan kesayangannya di kolam. Zergan duduk di samping Zico dan mengelus kepalanya.


"Ayah, Bunda belum bangun?"


"Belum. Bandamu sangat lelah, dia membutuhkan waktu tidur yang lebih lama."


"Tapi kenapa Ayah tidak merasa lelah sama seperti Bunda?"


"Karena Ayah adalah orang yang kuat. Buktinya tadi Ayah bisa membopong Bunda."


Zico dan Zergan kemudian tertawa bersama.


"Ayah benar. Ayah kuat membopong Bunda, tetapi Bunda pasti tidak kuat membopong Ayah."


"Kau benar."


"Ayah, lihatlah. Ikanku sekarang telah tumbuh dewasa, tapi dia tidak memiliki seorang teman."


"Kau ingin ikan kesayanganmu ini memiliki teman?"


"Iya."


"Baiklah. Bagaimana jika nanti kita pergi membeli ikan hias?"


"Tapi aku ingin pergi sekarang, Ayah."


"Sekarang?"


"Iya."


"Baiklah, jika Zico ingin pergi sekarang, kita akan pergi sekarang."


"Yeayy ...."


Zergan dan Zico kini sampai di sebuah toko ikan. Zico terlihat sangat bersemangat dan berlari setelah turun dari mobil.


Zergan kemudian berlari dan menarik tangan Zico.


"Ayah, aku ingin melihat ikan yang ada di sana."


"Iya, kita akan melihatnya. Tapi kau jangan berlari seperti itu, kau bisa jatuh nanti."


Mereka kemudian berjalan menuju aquarium ikan yang Zico suka.


"Ayah, aku ingin membeli ikan ini."


"Kau sangat menyukainya?"


"Iya."


"Baiklah. Pak, anakku ingin membeli ikan yang ini."


"Berapa ekor, Tuan?"


"Zico, berapa ekor ikan yang kau inginkan?"


"Dua ekor."


"Baiklah kalau begitu, saya akan membungkusnya."

__ADS_1


Penjual ikan itupun memberikan ikannya kepada Zico, kemudian Zergan membayarnya.


Saat di jalan, Zico terus memperhatikan kedua ikannya itu. Zico terlihat sangat senang, karena ikannya tidak akan kesepian lagi.


__ADS_2