
Lea kini sedang berada di ruang tamu membantu Zico merapikan seragamnya.
"Bibi, kenapa Ayah dan Bunda tidak pulang tadi malam?"
"Ayah dan Bundamu pulang terlalu malam, jadi kau tidak melihatnya."
"Kenapa Bibi tidak membangunkan aku? Bibi kan tadi malam tidur bersamaku."
"Bibi tidak membangunkanmu karena tadi malam kau tidur sangat nyenyak. Bibi tidak ingin mengganggumu."
"Oh, begitu. Apa Ayah dan Bunda sudah pergi ke kantor?"
"Mereka tidak pergi ke kantor, tetapi mereka pergi ke butik."
"Apa yang Ayah dan Bunda lakukan di sana?"
"Hey, apa kau sudah lupa? Ayah dan Bundamu akan segera menikah. Bukankah itu yang kau inginkan?"
"Wah, aku sangat tidak sabar melihat Ayah dan Bunda menikah."
"Kau harus sabar, Zico."
"Bibi, setelah Ayah dan Bunda menikah, aku pasti akan memiliki seorang adik. Kira-kira berapa adik yang akan aku dapatkan nanti?"
"Zico, kau bicara apa?"
"Kenapa? Apa aku telah salah bicara?"
"Kau tanyakan saja hal itu nanti kepada Ayah dan Bundamu ya. Sekarang kita harus pergi ke sekolah."
Saat Lea menggandeng Zico dan hendak mengajaknya keluar, tiba-tiba Anna datang dan berdiri di depan mereka.
"Nona, bagaimana bisa kau masuk tanpa meminta izin seperti ini?"
"Kenapa aku harus meminta izin? Ini adalah rumah yang pernah aku tempati sebelumnya."
"Bibi Lea, Bibi ini siapa?"
Anna kemudian menatap ke arah Zico dan tersenyum.
"Apa kau adalah Zico?"
"Iya, namaku Zico."
"Zico, perkenalkan nama bibi adalah bibi Anna. Aku adalah teman dari ayahmu."
"Tapi Ayah tidak pernah mengatakan jika memiliki teman wanita bernama bibi Anna sebelumnya."
"Eemmm, itu karena ayahmu sangat sibuk. Jadi dia tidak punya waktu untuk mengatakan jika dia memiliki teman wanita bernama Anna."
"Nona Anna, apa yang kau lakukan di sini?"
"Tenanglah, Lea. Aku ke sini hanya untuk bertemu dengan Zergan. Aku akan pergi setelah aku bertemu dan berbicara dengannya."
__ADS_1
"Maaf, Nona. Tapi tuan Zergan tidak ada di rumah."
"Benar, Bibi. Ayah tidak ada di rumah, karena Ayah sedang pergi bersama Bunda."
"Zico, bisa kau katakan kemana Ayah dan Bundamu pergi?"
"Zico, kau jangan katakan apapun kepadanya! Ini sudah hampir siang, jika kau tidak pergi ke sekolah sekarang, kau akan terlambat nanti."
"Nona Anna, sebaiknya kau juga pergi dari rumah ini. Karena pemilik rumahnya sedang tidak ada di rumah."
Anna pun sangat kesal dan meninggalkan Lea juga Zico begitu saja.
"Bibi Lea, kenapa aku tidak boleh memberitahu bibi Anna jika Ayah dan Bunda pergi ke butik untuk mempersiapkan pernikahan mereka?"
"Zico, apa kau tahu siapa wanita tadi?"
"Dia bibi Anna."
"Benar sekali. Namanya adalah Anna, tetapi dia sangat terobsesi dengan tuan Zergan. Jika dia tahu tuan Zergan dan nona Eleanor sedang mempersiapkan pernikahan mereka, maka nona Anna tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan melakukan sesuatu untuk menggagalkan pernikahan itu, apa sekarang kau mengerti?"
"Zico, Bibi tahu kau adalah anak yang sangat pintar. Kau pasti tidak mau jika Ayah dan bundamu berpisah hanya karena wanita lain menginginkan ayahmu atau pria lain menginginkan bundamu, bukan?"
"Iya, Bibi. Aku tidak ingin bibi Anna menggagalkan pernikahan Ayah dan Bunda."
"Baguslah, sekarang dengarkan Bibi baik-baik. Jika bibi Anna mengatakan sesuatu kepadamu, kau jangan dengarkan dia sama sekali. Karena semua yang dia ucapkan adalah bohong. Dia pasti akan melakukan cara apapun agar tuan Zergan mau bersamanya. Kau mengerti maksud Bibi, kan?"
"Aku mengerti."
"Ya sudah, kita pergi sekolah sekarang."
Namun saat di tengah perjalanan, Lea dihadang oleh beberapa orang pengendara motor yang ternyata adalah perampok. Lea dipaksa turun dari mobilnya dan menyerahkan barang-barang miliknya.
Lea tidak mau menyerahkan barang-barang miliknya kepada perampok tersebut. Kemudian Lea berteriak meminta tolong dan berharap akan ada orang yang menolongnya.
Para perampok itu membekap mulut Lea dan membawanya masuk ke mobil, tapi untungnya Lea berhasil menggigit tangan salah satu dari mereka dan berusaha untuk lari.
Namun sayangnya, para perampok itu berhasil menangkap Lea kembali. Setelah itu, tiba-tiba datang seseorang yang mengendarai mobil menghampiri mereka.
Tenyata pria yang keluar dari mobil tersebut adalah Felix, asisten pribadinya Bian.
"Lepaskan wanita itu!"
"Siapa kau? Berani sekali ikut campur urusan kami?"
"Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain selain merampok orang lain seperti ini?"
"Kurang ajar! Berani sekali dia berbicara seperti itu kepada kita?"
"Kita serang saja dia."
Para perampok itupun melepaskan Lea dan menghajar Felix yang saat itu datang seorang diri dengan tangan kosong.
Awalnya Felix sempat tidak bisa melawan mereka, tetapi pada akhirnya dia berhasil mengalahkan para perampok itu.
__ADS_1
Para perampok itupun lari hingga terbirit-birit. Kemudian Felix menghampiri Lea yang sedang berdiri ketakutan.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih karena kau telah menolongku."
"Tidak masalah."
"Kalau begitu aku harus pergi, karena aku masih ada urusan."
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu. Aku membawa mobil sendiri, kau tidak perlu mengantarkanku."
Saat Lea sudah melangkahkan kakinya menjauhi Felix, Felix langsung menghentikannya.
"Tunggu dulu! Namaku Felix, siapa namamu?"
Lea kemudian menoleh dan tersenyum ke arah Felix.
"Namaku Lea."
"Lea, sampai berjumpa kembali. Senang bisa bertemu denganmu hari ini."
Felix terus memperhatikan mobil Lea yang sudah mulai jauh. Setelah itu ponsel Felix berdering dan diapun mengangkatnya.
"Halo, Tuan."
"Felix, kau di mana? Apa kau lupa jika hari ini kita ada rapat?"
"Tuan, maafkan saya. Saya sedang ada sedikit masalah di jalan, tapi sebentar lagi saya akan sampai di kantor."
"Masalah apa? Apa yang terjadi denganmu?"
"Tidak ada, Tuan. Ini hanya masalah kecil, Tuan jangan khawatir."
"Apa aku harus menyuruh orang untuk datang ke tempatmu?"
"Tidak perlu, Tuan. Tadi saya menolong seorang wanita yang sedang dirampok, tapi sekarang para perampok itu sudah pergi."
"Apa wanita itu baik-baik saja?"
"Iya, Tuan. Wanita itu baik-baik saja, dia sekarang sudah pergi karena ada urusan."
"Lalu bagaimana denganmu? Apa perampok itu telah menyakitimu?"
"Tidak, Tuan. Saya tidak apa-apa."
"Felix, aku sudah sering mengatakan kepadamu. Kau itu sudah seperti adikku sendiri. Jika terjadi sesuatu denganmu entah di manapun itu, kau harus segera menghubungiku."
"Tuan, Tuan jangan berbicara seperti itu. Saya sangat senang jika Tuan peduli dengan saya, tapi saya sungguh tidak apa-apa."
"Baiklah, kalau begitu kau harus segera ke kantor. Rapat akan dilaksanakan setengah jam lagi."
__ADS_1
"Baik, Tuan."