Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 24


__ADS_3

Tidak lama setelah itu, pintu toilet tersebut didobrak oleh Zergan dari luar. Zergan pun sangat marah melihat Bian berada di dalam toilet bersama dengan Eleanor.


Zergan langsung menarik jas yang dikenakan oleh Bian dan membawanya keluar. Zergan memukuli wajah Bian hingga berkali-kali, tetapi Bian tidak juga membalasnya.


Bian melakukan hal itu karena dia ingin tahu bagaimana reaksi Eleanor saat melihat dia dipukuli oleh Zergan seperti itu.


"Berani sekali kau menyentuhnya? Apa yang telah kau lakukan di dalam bersamanya?"


Zergan kembali memukul wajah Bian dengan keras. Eleanor kemudian menghampiri mereka dan menarik tangan Zergan.


"Zergan, cukup! Jangan memukuli Bian seperti itu. Kami tidak melakukan apapun di dalam."


"Jangan berbohong kepadaku! Apa ini alasannya kenapa tadi kau tidak mau jika aku ikut bersamamu? Tenyata kau diam-diam bertemu dengan pria ini."


"Tidak, Zergan. Bukan seperti itu."


"Apa yang kau pikirkan itu benar. Aku dan Eleanor memang sengaja bertemu di sini. Kami berdua masih saling mencintai."


"Bian, kenapa kau mengatakan hal itu? Aku tidak memintamu untuk menemuiku di sini, Bian."


"Aku tidak akan membiarkanmu tetap hidup! Aku akan menghabisimu!"


"Tidak, Zergan! Aku mohon jangan lakukan hal itu."


Zergan kemudian mendorong tubuh Eleanor yang menghalanginya untuk memukul Bian. Eleanor terjatuh dan Zergan kembali memukuli Bian.


"Aku tahu jika kau masih mencintaiku, El. Itu sebabnya kau tidak ingin Zergan menyakitiku," batin Bian.


Bian kemudian membalas pukulan dari Zergan. Sekarang giliran Zergan yang terjatuh, tetapi Zergan bangkit dan kembali membalas Bian.


Bian terjatuh dan tidak sadarkan diri. Kemudian Eleanor menghampirinya dan memangku kepala Bian.


"Bian, bangun!"


Bian membuka matanya dengan perlahan menyentuh pipi Eleanor.


"Aku mengatakan hal yang benar, El. Aku tahu jika kau sebenarnya masih sangat mencintaiku. Kau sangat khawatir kepadaku."


Zergan kemudian menghampiri mereka dan menarik tangan Eleanor. Zergan memaksanya untuk meninggalkan Bian di tempat itu.


"Zergan, Bian sedang terluka. Kita harus membantunya."


"Tidak! Kau sendiri yang telah menyebabkan dia seperti itu. Jika kau tidak bertemu dengannya, aku pasti tidak akan membuatnya babak belur seperti itu."


"Zergan, tolong jangan sakiti Bian lagi."

__ADS_1


"Jika kau tidak ingin melihat aku memukulinya lagi, ikut denganku sekarang!"


Zergan menarik tangan Eleanor menuju tempat pesta berlangsung.


"Tuan Zergan, apa yang terjadi?" tanya Riky.


"Tuan Riky, nona Hanna, kami harus segera pulang." Zergan menggenggam tangan Eleanor dengan erat.


"Tuan, apa yang terjadi dengan wajahmu? Dan kenapa nona Eleanor menangis?" Hanna memegang lengan Eleanor.


"Tuan Zergan, tolong ceritakan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi," ucap Riky.


"Nona Hanna, tuan Riky, sebenarnya perutku terasa sangat sakit. Aku belum pernah merasakan rasa sakit seperti ini, itu sebabnya aku sampai menangis." Eleanor beralasan.


"Nona, jika perutmu masih sakit kau bisa beristirahat di rumah kami," ucap Hanna.


"Itu benar, Nona," balas Riky.


"Tuan Riky, nona Hanna, kami memiliki anak di rumah dan anak kami masih berusia 5 tahun. Dia tidak bisa jika tidur tanpa ibunya," balas Zergan.


"Tuan, Nona, jika memang seperti itu kami sama sekali tidak keberatan. Kami ucapkan banyak terima kasih karena kalian telah hadir dalam acara pernikahan kami,"


"Benar, Tuan, Nona. Kalian adalah tamu undangan yang sangat penting dalam acara ini. Terima kasih karena kalian telah datang ke acara pernikahan kami."


"Baiklah. Kalau begitu kami harus pergi."


Eleanor kemudian menginjak kaki Zergan menggunakan heelsnya dan lari dari sana.


Eleanor sempat terjatuh, tetapi dia dengan segera bangun dan melepas heels yang dia pakai. Tetapi belum sempat dia berlari, Zergan sudah terlebih dulu menangkapnya.


"Kau tidak bisa lari terlalu jauh. Kemanapun kau pergi, aku akan mengejarmu."


"Zergan, lepaskan aku!"


"Kenapa kau terus berusaha lari dariku? Apakah yang aku katakan itu benar jika kau dan Bian telah sengaja bertemu dan kalian telah melakukan sesuatu?"


"Tidak, Zergan. Aku tidak tahu bagaimana bisa Bian masuk ke toilet itu. Aku sama sekali tidak memintanya untuk datang menemuiku."


"Kau selalu berbohong kepadaku. Mulai sekarang aku tidak akan lagi melepaskanmu, aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun!"


Zergan menarik tangan Eleanor untuk mengajaknya masuk ke mobil. Tetapi Eleanor dengan kuat menahan dirinya agar tidak tertarik oleh Zergan.


Kemudian Zergan langsung menggendong Eleanor dan mendudukkannya di kursi depan. Setelah Zergan memasangkan sabuk pengaman kepada Eleanor, Zergan juga mengikat kedua tangan Eleanor dengan tali merah yang berada di dalam mobilnya.


"Zergan, kau tidak bisa mengikatku seperti ini!"

__ADS_1


"Aku harus mengikatmu! Aku tidak membiarkanmu pergi menemui pria itu lagi!"


Zergan kemudian mengambil lakban dan menutup mulut Eleanor dengan lakban tersebut.


Eleanor menjerit-jerit meminta tolong, tetapi suaranya terdengar tidak jelas.


Zergan kemudian melajukan mobilnya dengan kencang. Zergan tidak membawa Eleanor pulang ke rumah, tetapi membawanya ke sebuah apartemen miliknya.


Zergan menggendong Eleanor dan membawanya masuk. Zergan menidurkan Eleanor di atas ranjang dan membuka jas yang dia kenakan.


Zergan kemudian mendekati Eleanor yang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku sudah berkali-kali mengatakan kepadamu jika aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain, termasuk Bian. Kau dan dia memang kekasih, tapi itu dulu."


"Akan aku pastikan dia tidak berani lagi mendekatimu ataupun menyentuhmu. Aku akan segera mengatur acara pernikahan kita."


Zergan kemudian langsung menghubungi Direktur Farhan.


"Halo, tuan Zergan."


"Aku ingin pernikahanku dengan Eleanor dilaksanakan tiga hari lagi. Kau harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik."


"Baik, Tuan. Kami akan melakukan seperti yang Tuan perintahkan."


Eleanor kemudian melebarkan kedua matanya karena terkejut mendengar Zergan akan mempercepat pernikahan mereka.


Zergan meletakkan ponselnya di ata meja, lalu dia melepas dasi yang melingkar di lehernya.


Zergan menciumi leher Eleanor dengan sesuka hatinya. Dia memang selalu melakukan hal yang dia inginkan kepada Eleanor ketika Eleanor membuatnya merasa sangat marah.


Tetapi saat itu dia melihat air mata di wajah Eleanor. Dia menjadi tidak tega jika harus memaksa Eleanor seperti itu.


Zergan kemudian membuka lakban yang menutup mulut Eleanor.


"Jangan menangis seperti itu, aku tidak tahan melihatnya."


"Zergan, kenapa kau selalu memaksakan kehendakmu kepadaku? Kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku sedikitpun. Kau tidak pernah bertanya apakah aku--"


"Kau apa? Kau tidak setuju dengan pernikahan yang akan kita jalani? Apa kau memang masih mencintai pria itu?"


"Zergan ...."


"Aku pikir kau adalah seorang ibu yang sangat menyayangi Zico."


"Zergan, aku adalah ibunya. Tidak ada kasih sayang yang lebih besar dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya."

__ADS_1


"Jika kau memang sangat menyayangi Zico dan kau ingin melihatnya bahagia, kau harus bersedia menikah denganku. Karena kebahagiaan Zico ada saat melihat kita bersama."


__ADS_2