Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 61


__ADS_3

Bian datang ke kantor Zergan karena melihat berita jika Eleanor terjatuh dari gedung. Bian keluar dari mobilnya dan segera menuju tempat Eleanor terjatuh. Di sana dia melihat Zergan yang membopong tubuh Eleanor.


Eleanor terlihat sangat gemetaran, dia bahkan tidak bisa berjalan dengan baik karena kejadian tersebut. Bian langsung menghampiri Zergan dan menarik lengannya, Zergan pun menoleh ke arah Bian.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zergan kepada Bian.


"Aku ingin bertemu dengan Eleanor. Aku mengkhawatirkan keadaannya," balas Bian.


"Suaminya ada di sini, jadi sekarang pergilah dan jangan temui istriku."


"Aku tidak akan pergi. Eleanor menjadi seperti ini karenamu."


Zergan diam saja dan pergi meninggalkan Bian, lalu dia mendudukkan Eleanor di dalam mobil. Bian mengikuti Zergan dan menghentikannya agar tidak membawa Eleanor pergi.


"Jangan mengganggu Eleanor dan pergilah dari sini!"


"Bian, tolong pergilah dari sini."


"Aku tidak akan pergi, El. Kau hampir saja kehilangan nyawamu karena dia. Anna telah melakukan hal yang gila untuk menyingkirkanmu, tapi kenapa kau masih ingin bersamanya?"


"Bian, satu-satunya alasan kenapa aku tetap bertahan bersama Zergan adalah karena aku sangat mencintainya. Aku tidak peduli apapun yang akan Anna lakukan kepadaku, tapi yang pasti aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku."


"Kau dengar itu? Eleanor sangat mencintaiku, jadi mulai sekarang lupakan dia seperti dia yang sudah melupakanmu."


Zergan masuk ke mobilnya dan meninggalkan Bian di sana. Kemudian beberapa polisi membawa Anna turun dari gedung.


Anna meronta-ronta ingin melepaskan dirinya, tetapi dia tidak bisa. Di sana dia mendapat banyak sekali komentar buruk dari orang-orang dan juga penggemar Eleanor.


"Lepaskan aku! Wanita itu seharusnya mati karena dia telah menghancurkan hidupku!" teriak Anna.


"Nona, tolong tenang dan masuk ke mobil sekarang!" ucap salah satu polisi.


"Aku tidak mau! Aku tidak bersalah dalam hal ini, Eleanor telah merenggut Zergan dari hidupku. Aku tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang!" Emosi Anna semakin tak terkendali.


Bian mendatangi Anna yang hendak dimasukkan ke mobil polisi. Bian menampar wajah Anna dengan keras dan membuat semua orang terdiam.


Anna hanya diam dengan wajahnya yang kesal. Dia ingin sekali membalasnya, tetapi tidak bisa karena kedua tangannya telah diborgol.


"Kau sudah sengaja mencelakai wanita yang aku cintai. Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari penjara untuk selamanya!" ucap Bian dengan nada yang tinggi.


Anna menyeringai. "Jika kau berada di posisiku saat ini, kau pasti akan melakukan hal yang sama kepada Zergan. Sama seperti yang telah aku lakukan kepada Eleanor."


"Tapi aku tidak akan melakukan hal rendahan seperti itu walaupun aku sedang berada di posisimu! Kau benar-benar wanita yang sangat jahat. Kau bahkan pantas mendapatkan hukuman yang lebih berat dari ini."

__ADS_1


"Tuan Bian, kami harus segera membawa nona Anna ke kantor polisi."


"Kalian harus pastikan jika dia tidak akan keluar dari penjara untuk selamanya!"


Polisi itupun memasukkan Anna ke dalam mobil dan membawanya pergi dari tempat itu.


Ayah Yudha, Zico, Daffa, Lea, dan juga Direktur Farhan hendak masuk ke dalam mobil untuk pergi menyusul Zergan juga Eleanor di rumah.


Bian pun menghampiri mereka dan menanyakan keadaan Zico.


"Paman Bian, Paman juga di sini?"


"Iya. Kau tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja, Paman. Oh iya, kenalkan ini temanku namanya Daffa."


"Halo, Daffa."


"Halo, Paman. Bagaimana kabar Paman?"


"Kabar Paman baik. Kau sendiri bagaimana?"


"Aku juga baik."


"Baiklah. Malam ini Paman akan datang ke rumahmu."


"Zico, jangan banyak bicara. Sekarang masuklah ke dalam mobil bersama Daffa."


"Tapi, Kakek. Aku masih ingin berbicara dengan paman Bian."


"Zico, kau turuti saja apa yang kakekmu katakan. Malam ini Paman akan datang ke rumahmu dan kita akan bermain bersama."


"Maaf, Bian. Tapi malam ini kau tidak bisa datang ke rumah kami. Kau tahu sendiri apa yang telah terjadi kepada Eleanor dan juga Zergan tadi."


"Kakek, kenapa paman Bian tidak boleh datang ke rumah kita?"


"Zico, kau tidak boleh ikut campur urusan orang tua. Sekarang masuklah ke dalam mobil bersama Daffa."


"Paman Yudha, aku hanya--"


"Kau tidak perlu melakukan hal itu, Bian. Zergan tidak akan suka jika kau datang ke rumah untuk menemui anak juga istrinya."


"Tapi aku akan tetap datang malam ini."

__ADS_1


"Aku sudah memperingatkan mu agar tidak datang ke rumah kami. Jika terjadi sesuatu denganmu nanti, jangan pernah salahkan aku ataupun Zergan."


Mereka kemudian masuk ke mobil dan pergi meninggalkan Bian sendirian.


Di dalam mobil, Zico dan Daffa saling menatap satu sama lain.


"Daffa, rencana yang sudah kita susun ternyata gagal. Padahal kita belum melakukannya sama sekali," ucap Zico sambil berbisik.


"Kau benar, Zico. Padahal kan aku ingin sekali melawan penyihir itu," balas Daffa dengan suara pelan.


"Daffa, kau tau paman Bian yang tadi, kan?"


"Iya, memangnya ada apa dengan paman Bian?"


"Paman Bian itu sangat baik denganku. Jika kau bermain dengannya, kau pasti akan merasa sangat senang."


"Tapi, Zico. Kau pernah mengatakan jika tidak ada orang yang lebih menyenangkan dari ayahmu."


"Itu benar. Tapi paman Bian juga sangat menyenangkan. Aku ingin sekali bermain dengannya, tapi Kakek tidak mengizinkan paman Bian untuk datang ke rumahku."


"Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Aku tidak tahu. Sekarang aku ingin cepat-cepat pulang dan memeluk Bunda. Bunda telah menyelamatkan nyawaku tadi."


"Tapi ayahmu tadi juga telah menyelamatkan nyawa ibumu. Apa kau tidak ingin memeluknya juga?"


"Tentu saja aku akan memeluk ayah dan bundaku nanti."


"Zico, Daffa, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Lea.


"Tidak ada, Bibi."


"Zico, sebentar lagi kita akan sampai di rumah. Kakek tahu kau pasti sangat ingin berteman dengan ayah dan bundamu."


Mereka semua pun sampai di rumah. Zico dan Daffa secepatnya keluar dari mobil dan masuk ke rumah untuk menemui Eleanor juga Zergan.


Sesampainya mereka di kamar Zergan dan Eleanor, Zico langsung berlari dan memeluk perut ibunya yang sedang duduk membawa secangkir teh.


"Zico, aoa yang terjadi?"


"Bunda, terima kasih karena tadi Bunda telah menyelamatkan aku. Aku tadi sangat takut saat melihat Bunda terjatuh dari atas gedung, aku pikir aku tidak akan lagi melihat Bunda. Aku sangat takut hal itu terjadi, Bunda."


"Zico, kau jangan khawatir. Ayahmu ada bersama Bunda, jadi tidak akan terjadi apapun dengan Bunda."

__ADS_1


Zico menatap wajah ibunya, kemudian dia memeluknya kembali.


__ADS_2