
Eleanor duduk di atas kasur dan Zico berjalan mendekatinya.
"Zico, Ayah dan Bunda adalah orang tuamu. Jadi jangan banyak bertanya dan menurut saja ya."
"Baiklah. Bunda pasti sangat kesal karena dari tadi aku terus bertanya."
"Tidak seperti itu, Sayang. Apa sebelumnya Bunda pernah kesal kepadamu?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau berpikir jika sekarang Bunda kesal kepadamu?"
"Bunda, maafkan aku."
"Kenapa kau malah meminta maaf?"
Zico hanya diam dan memeluk tubuh ibunya. Eleanor pun tersenyum dan membalas pelukan dari Zico.
Tidak lama setelah itu, Zergan datang dan membuka pintu kamarnya. Eleanor dan Zico sedikit terkejut, karena mereka pikir yang datang adalah orang lain.
Zico langsung berlari memeluk kedua kaki ayahnya.
"Ayah, kenapa lama sekali? Apa pekerjaan Ayah sangat banyak?"
Zergan jongkok dan mencubit pipi putranya dengan pelan.
"Kau sudah sangat merindukan Ayah ya?"
"Iya, aku ingin sekali bermain bersama Ayah dan Bunda."
"Sebelum kita bermain, ayah membawakan coklat untukmu."
"Coklat lagi?"
Zergan pun bingung kenapa Zico mengatakan coklat lagi, padahal dirinya baru kali ini membelikan sekotak coklat kepada Zico saat di Bali.
"Zico, apa maksudmu coklat lagi? Ayah baru membelikan mu coklat malam ini."
"Bagaimana ini? Jika Ayah tahu paman Bian telah memberiku coklat, Ayah akan marah atau tidak ya?" batin Zico.
"Zico, kenapa kau diam?"
"Ayah, sebenarnya--"
"Sebenarnya Zico tadi ingin sekali makan coklat. Dan aku tidak mungkin mengajaknya pergi keluar tanpa seizin mu, jadi aku meminta Lea untuk membelikan sekotak coklat untuk Zico."
"Benar, Ayah. Ayah tadi pergi sangat lama, jadi Bunda yang meminta bibi Lea untuk membelikan coklat itu."
"Baiklah, sekarang ada dua kotak coklat. Kau bisa memakan salah satunya, dan yang satu kau bisa memakannya besok."
"Zico, makan coklatnya sedikit saja ya. Ini sudah malam, tidak baik jika kau memakan coklat terlalu banyak."
"Baiklah, Bunda."
Zergan memberikan sekotak coklat itu kepada Zico, lalu dia berjalan ke arah Eleanor dan mencium keningnya.
"Aku akan mengganti pakaianku, karena tadi ada anak-anak yang masih bermain pasir dan mengenai pakaianku," ucap Zergan kepada Eleanor.
"Baiklah, cepat ganti pakaianmu," balas Eleanor sambil tersenyum.
Setelah Zergan masuk ke kamar mandi, Zico langsung berlari dengan gemas menghampiri Eleanor.
"Bunda, terima kasih telah menyelamatkanku hari ini. Jika tadi Ayah tahu yang sebenarnya, Ayah pasti akan sangat marah." Zico berbisik.
__ADS_1
"Kalau begitu sekarang kau makan coklatnya. Setelah ayahmu selesai mengganti pakaiannya, dia pasti akan keluar dan bermain denganmu," balas Eleanor dengan lembut.
"Tok ... tok ..."
"Bunda, siapa itu?"
"Bunda juga tidak tahu. Kau tunggu saja di sini, Bunda akan membukanya."
"Baiklah."
Eleanor membuka pintu kamarnya dan melihat ayah Yudha sedang berdiri di sana.
"Ayah, ada apa Ayah kemari?"
"Ayah ingin meminta tolong kepada Zergan untuk membantu Ayah mencari ponsel ayah."
"Ponsel Ayah hilang? Sejak kapan?"
"Ayah tidak tahu. Mungkin karena usia Ayah yang sudah tua, jadi Ayah lupa menaruh ponsel Ayah di mana."
"Ayah, Zergan sedang mengganti pakaiannya. Biar aku saja yang membantu Ayah untuk mencari ponsel ayah."
"Baiklah kalau begitu."
Eleanor dan ayah Yudha menghampiri Zico untuk memberitahunya jika Eleanor harus pergi untuk membantu ayah Yudha mencari ponselnya yang hilang.
"Kakek?"
"Zico ...."
"Kakek ingin mengajak Bunda kemana?"
"Zico, Bunda harus membantu Kakek untuk mencari ponsel kakek yang hilang."
"Iya, Kakek lupa di mana terakhir kali Kakek meletakkannya."
"Kalau begitu aku akan ikut mencari ponsel Kakek."
"Tidak usah, Zico. Biar bundamu saja yang membantu Kakek."
"Benar, Zico. Bukankah kau ingin bermain dengan Ayah? Setelah Ayah selesai, Ayah akan langsung bermain denganmu."
"Baiklah kalau begitu. Tapi jangan lama-lama ya, Bunda."
"Iya."
Tidak lama setelah Eleanor dan ayah Yudha pergi, Zergan kemudian keluar dan menyusul Zico yang sedang memakan coklat.
"Ayah sudah selesai ganti pakaiannya?"
"Sudah. Di mana bundamu?"
"Bunda pergi bersama Kakek. Kakek bilang ponselnya hilang karena Kakek lupa terakhir kali menyimpannya."
Zico dan Zergan pun bermain beberapa mainan di lantai dengan senang.
Eleanor dan ayah Yudha kini berada di kafe yang letaknya di dekat pantai.
"Ayah, apa Ayah yakin jika terakhir kali Ayah membawa ponsel Ayah ke sini?"
"Iya, terakhir kali Ayah berada di sini dan menggunakan ponsel Àyah."
"Lea, apa kau sudah menemukan ponselnya?"
__ADS_1
"Belum, Nona."
Saat melihat kembali ke sekelilingnya, Eleanor melihat ponsel milik ayah Yudha. Eleanor pun segera mendekati ponsel tersebut dan mengambilnya.
Saat dia hendak berdiri, tiba-tiba di depannya ada Zergan yang sedang berdiri dan menatapnya.
"Zergan? Di mana Zico?"
"Zico tertidur saat bermain tadi, jadi aku menidurkannya di kamar Ayah."
"Kenapa di kamar Ayah?"
"Apa kau lupa dengan apa yang sudah kita sepakati tadi siang?"
"Aku mengingatnya."
"Kalau begitu jangan mencoba untuk pergi dariku malam ini."
"Aku harus mengembalikan ponsel Ayah. Dia sangat khawatir karena ponselnya tadi hilang."
"Baiklah."
Eleanor dan Zergan menghampiri ayah Yudha yang terlihat masih sibuk mencari ponselnya.
"Ayah, ini ponselnya. Mungkin Ayah tadi tidak tahu jika ponsel ayah terjatuh di pasir."
"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Menantuku."
"Zergan, kau di sini? Di mana Zico?"
"Zico sudah tertidur, tapi aku menidurkannya di kamar Ayah."
"Bukankah Zico ingin sekali tidur dengan kalian malam ini?"
"Ayah, aku dan Eleanor malam ini ...."
"Oh, Ayah mengerti sekarang. Kalau begitu kalian pergilah ke kamar kalian, malam ini Zico biarlah tidur bersama Ayah."
Zergan pun menggandeng tangan Eleanor dan membawanya masuk ke kamar. Zergan mengunci pintunya dan membuka jas yang dia kenakan.
Zergan menyentuh wajah Eleanor dengan pelan, kemudian dia mencium kedua pipi dan keningnya.
Eleanor pun memegang tangan Zergan yang menyentuh wajahnya dan Zergan mulai mencium bibir Eleanor. Tetapi belum sempat Zergan melakukannya, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu.
Zergan pun kesal karena ada yang mengganggu momennya bersama Eleanor malam itu.
"Zergan, jangan kesal seperti itu. Kita akan tetap melakukannya malam ini, aku akan membuka pintunya."
"Tidak, biar aku saja yang membukanya."
"Baiklah."
Zergan membuka pintu tersebut dan ternyata seorang pria dengan sikap yang mencurigakan sedang berdiri di sana.
Pria itu mengenakan pakaian yang sama seperti pria yang mengantarkan makanan kepada Zergan dan Eleanor sebelumnya.
"Tuan, maaf jika mengganggu. Saya kemari hanya ingin mengantarkan minuman kepada Tuan dan Nyonya."
"Tapi aku tidak memesan minuman."
"Zergan, aku yang telah memesan minuman itu. Karena aku pikir setelah kau mengurus pekerjaanmu tadi, kau pasti sangat haus. Jadi aku memintanya untuk membawakan minuman segar ke kamar kita."
"Baiklah, kalau begitu letakkan minumannya di atas meja. Kami akan meminumnya nanti."
__ADS_1
"Baik, Tuan."