
Sore akan segera berganti dengan malam. Zico memperhatikan matahari yang mulai menghilang dari pandangannya.
Dia pun sangat penasaran tentang kemana matahari pergi setelah itu. Meski matahari sudah tidak lagi terlihat, dia masih saja berdiri di sana.
Eleanor kemudian menghampirinya dan duduk di sebuah kursi.
"Zico, apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah." Eleanor menarik pelan kedua tangan putranya.
"Bunda, aku ingin bertanya tentang hal penting kepada Bunda," ucap Zico.
"Hal penting? Apa itu?" tanya Eleanor dengan penasaran.
"Bunda, saat pagi dan siang matahari selalu bersinar di atas kita. Tapi kenapa saat malam matahari menghilang? Kemana perginya matahari itu, Bunda?"
"Zico, matahari tidak menghilang dan terus besinar. Bumi-lah yang sebenarnya bergerak sehingga matahari terlihat menghilang saat malam."
"Tapi kenapa aku tidak bisa merasakan jika bumi ini bergerak?"
"Hal itu terjadi karena gravitasi masih menarik kita ke bumi. Jadi, kita tidak akan merasa terbalik saat bumi berputar."
"Oh, jadi begitu ya."
"Kau mengerti sekarang?"
"Iya, Bunda. Tapi kenapa Bu Guru tidak pernah memberitahuku tentang hal itu?"
"Bu Guru tidak memberitahu?"
"Tidak."
"Itu mungkin karena belum saatnya anak seusiamu tahu tentang hal seperti ini. Karena kebanyakan anak-anak seusiamu hanya akan diajarkan Bu Guru mengenai hal-hal yang sederhana."
"Bunda, sekarang aku mengerti kenapa Ayah dan Bunda tidak akan pernah berpisah meskipun banyak orang yang ingin memisahkan kalian. Itu karena ada aku sebagai gravitasi yang akan terus menarik Ayah dan Bunda agar kalian selalu bersama."
"Zico, kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
"Kenapa, Bunda? Apa ada yang salah dengan kalimat yang aku ucapkan?"
"Tidak, Zico. Kau ini masih sangat kecil, tapi kau sudah sepintar ini. Bunda sangat menyayangimu."
Zico memeluk tubuh ibunya lalu menghadap ke wajah Eleanor.
"Aku juga sangat menyayangi Bunda dan Ayah. Aku tidak akan membiarkan orang lain memisahkan kalian."
Eleanor pun tersenyum dan mengelus-elus rambut putranya lalu mencium kedua pipinya.
Eleanor kemudian memangku Zico dan mereka berdua melihat ombak di pantai dengan angin yang sedang berhembus.
"Bunda, apakah pantai ini hanya berakhir sampai di tembok itu?" Zico menunjuk ke arah ujung pantai.
"Zico, itu bukanlah tembok, tetapi langit," balas Eleanor.
"Langit? Tapi langit tidak mungkin berada di bawah, Bunda."
__ADS_1
"Zico, apa kau lupa jika bumi kita ini bulat? Itu adalah langit, dan jika kau terus menyusuri pantai itu, kau pasti tidak akan menemukan tembok seperti yang kau lihat saat ini. Karena itu memang bukanlah sebuah tembok, tetapi langit."
"Bunda, aku ingin sekali pergi menyusuri pantai itu dan mencari ujung dari sebuah pantai."
"Kau bisa pergi menyusuri pantai dan mencari ujungnya jika kau sudah besar nanti. Untuk saat ini kau hanya perlu belajar dengan rajin agar kau bisa menjadi anak yang pintar. Kau mengerti, kan?"
"Mengerti, Bunda."
"Bunda?"
"Iya?"
"Kenapa Ayah belum juga kembali? Ayah lama sekali perginya."
"Kau sangat merindukan ayahmu?"
"Iya. Aku kan tidak bermain seharian bersama Ayah dan Bunda."
"Sabar dulu ya. Jika ayahmu sudah selesai dengan urusannya, ayahmu pasti akan segera datang menemuimu."
"Tapi Ayah bilang kita akan berlibur. Lalu kenapa saat liburan Ayah malah mengurusi pekerjaannya?"
"Zico, lebih baik kita bermain dulu di sini. Atau Zico ingin pergi menyusul Kakek?"
"Tidak mau. Aku ingin menunggu Ayah di sini bersama Bunda."
"Baiklah kalau begitu. Kita akan menunggu ayahmu sambil melihat ombak di pantai."
Tidak lama kemudian, terdengar suara orang yang sedang mengetuk pintu kamar Eleanor. Zico yang mendengar ketukan itupun langsung bersemangat dan berlari untuk membuka pintunya.
"Zico, jangan berlari!"
Setelah Zico membuka pintu, yang datang bukanlah ayahnya tetapi malah Bian.
"Paman Bian, kenapa Paman datang ke sini?"
"Kau di sini sendiri?"
"Tidak, aku di sini bersama Bunda."
Bian lalu memberikan sekotak coklat kepada Zico. Zico pun dengan senang menerima pemberian dari Bian tersebut.
"Paman, terima kasih untuk coklatnya."
"Sama-sama. Bolehkah Paman masuk?"
"Paman Bian ingin masuk ke kamar Ayah dan Bunda. Tapi di sini hanya ada aku dan Bunda. Jika paman Bian masuk dan Ayah datang, Ayah pasti akan sangat marah kepada Bunda dan paman Bian." Zico membatin.
"Zico, apa Paman boleh masuk?"
"Paman, Ayah tidak ada di sini. Jika Paman masuk ke kamar ini, Paman tidak akan punya teman untuk membicarakan tentang bisnis."
"Siapa yang akan membicarakan tentang bisnis? Paman ke sini karena ingin bertemu denganmu untuk mengajakmu bermain."
__ADS_1
"Zico, siapa yang datang? Apa itu ayahmu?"
Eleanor pun datang dan terkejut melihat Bian berdiri di tengah pintu kamarnya.
"Zico?"
"Bian, apa yang kau lakukan di sini? Ini bukanlah kamarmu."
"Aku tahu jika ini bukanlah kamarku. Aku datang ke sini karena aku ingin memberikan coklat kepada Zico dan aku juga ingin mengajaknya bermain."
"Zico, berikan kembali kotak coklatnya kepada paman Bian ya. Bunda akan membelikan coklat yang seperti itu nanti saat ayahmu pulang."
"Tapi aku tidak mau. Bunda aku ingin coklat pemberian dari paman Bian, aku juga ingin bermain dengannya."
"Zico, kau tidak lihat tadi? Matahari sudah terbenam, ini sudah hampir malam. Kau tidak boleh bermain di luar bersama orang yang tidak kau kenal."
"Bunda, aku mengenal paman Bian. Paman Bian kan temannya Ayah dan Bunda."
"Kalau Zico tidak boleh bermain di luar, aku dan Zico bisa bermain di sini."
"Tidak, Bian!"
"Zico, ayahmu sedang tidak ada di sini. Jika ayahmu melihat ada pria lain di kamar ini ayahmu pasti akan sangat marah kepada Bunda."
"Bunda benar, Ayah pasti akan sangat marah kepada Bunda."
"Paman Bian, kita bermain besok saja ya. Sekarang Paman harus pergi dari kamar ini, karena jika Ayah melihat Paman di sini Ayah pasti akan sangat marah. Aku tidak mau Ayah marah dan Bunda menjadi sedih."
Bian menatap kedua mata Eleanor, kemudian dia jongkok dan mengelus pipi kiri Zico.
"Baiklah, Paman akan pergi dari sini. Tapi kau harus berjanji jika besok kita akan bermain bersama."
"Baik, Paman. Besok aku akan bermain bersama Paman. Tapi di mana kamar Paman? Bagaimana bisa besok kita bertemu?"
"Kamarku ada tepat di sebelah kamarmu, kamar nomor 19."
"Benarkah?"
"Iya."
"Itu artinya kita bisa terus bertemu selama kita di sini."
"Kau benar. Kita akan terus bertemu."
Bian menatap wajah Eleanor sambil tersenyum, kemudian Eleanor dengan sengaja menarik tangan Zico dengan pelan.
"Bian, sekarang pergilah. Jangan sampai Zergan datang dan melihatmu ada di sini bersamaku dan juga Zico."
"Baiklah."
Setelah Bian keluar dari kamar tersebut, Eleanor dengan segera menutup pintu kamarnya.
"Bunda, ternyata kamar paman Bian ada di sebelah kamar Bunda dan Ayah. Tapi kenapa aku tidak diizinkan ke sana? Padahal kan jaraknya sangat dekat."
__ADS_1
"Zico, jangan bertanya lagi. Sekarang duduklah di sini dan tunggu ayahmu pulang. Lain kali jika paman Bian memberikan sesuatu kepadamu, kau jangan menerimanya ya."
"Tapi kenapa begitu, Bunda? Biasanya jika teman Ayah yang memberikanku sesuatu, Ayah dan Bunda tidak pernah melarang ku untuk menerimanya. Lalu kenapa aku tidak boleh menerima pemberian dari paman Bian?"