
Zergan terus menatap Eleanor yang sedang berjalan menuruni tangga. Eleanor berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Setelah Eleanor menutup pintu kulkasnya dan hendak pergi, tiba-tiba Zergan berdiri di depannya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau masih belum mengganti pakaianmu. Lebih baik kau menggantinya terlebih dahulu, agar kau merasa lebih nyaman."
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Ini tentang Anna. Wanita yang datang ke kantor tadi adalah mantan istriku."
"Lalu untuk apa kau memberitahuku tentang hal itu?"
"Karena sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak ingin kau baru mengetahui hal ini setelah kita menikah, apalagi yang memberitahumu adalah orang lain."
"Anna adalah mantan istriku. Kami benar-benar sudah berpisah dan aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya."
"Tapi dia terlihat masih sangat mencintaimu."
"Itu bukan cinta, tapi obsesi. Dia hanya terobsesi denganku. Dia sebenarnya masih menjalin hubungan dengan kekasihnya saat kami menikah, tapi aku sama sekali tidak tahu tentang hal itu."
"Aku tidak ingin kau melakukan hal yang sama seperti yang telah Anna lakukan. Aku akan mempersiapkan pernikahan kita dengan baik."
"Kau bahkan tidak bertanya kepadaku apakah aku mau menikah denganmu atau tidak. Kau selalu memaksakan kehendakmu kepadaku."
"Jangan bersikap keras kepala seperti ini. Aku sudah berkali-kali mengatakan jika aku sangat mencintaimu. Kita akan menikah dan aku ingin kau setuju dengan hal ini."
"Tapi bagaimana dengan perasaanku? Kau tidak memikirkan perasaanku sedikitpun, Zergan."
Zergan menarik lengan Eleanor karena kesal dengan ucapannya. Lalu tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"Tuan, Nyonya, Zico dan juga temannya telah datang."
"Baiklah. Kami akan segera ke sana."
Setelah pelayan itu pergi dari dapur, Zergan kembali mendekati Eleanor dan mencium pipinya.
"Aku tidak ingin kau membantahku. Cepatlah keluar dari dapur dan temui Zico juga temannya."
Setelah itu Zergan pergi dan Eleanor tiba-tiba tersenyum.
"Zico ...."
"Ayah ...."
Zico berlari ke arah Zergan, lalu Zergan menggendongnya dengan senang.
"Ayah, aku sekarang sudah membawa temanku. Dia ingin sekali bertemu dengan Ayah."
Zergan menurunkan Zico dan berjalan menghampiri Daffa.
"Kau Daffa?"
"Benar, Tuan. Namaku Daffa."
"Kenapa kau memanggilku dengan sebutan Tuan?"
"Karena semua orang memanggilmu dengan sebutan Tuan."
Zergan dan Lea pun tersenyum mendengar jawaban dari Daffa.
"Di mana ibumu?"
"Di rumah."
"Ayahmu?"
__ADS_1
"Ayahku sedang pergi bekerja di Jerman."
"Jerman?"
"Iya."
"Apa kau pernah ke sana sebelumnya?"
"Aku sudah pernah pergi ke Jerman beberapa kali bersama Ibu dan juga Ayah. Suasana di sana sangat menyenangkan."
"Aku juga pernah tinggal di Jerman. Tapi saat itu aku hanya tinggal bersama Bunda dan juga bibi Lea."
"Kenapa kau tidak mengajak ayahmu tinggal di Jerman saat itu?"
"Aku tidak tahu. Waktu itu aku bahkan belum pernah melihat wajah ayahku sama sekali."
"Apa maksudmu?"
"Benar. Aku memang tidak pernah melihat wajah ayahku waktu itu. Dan aku tinggal bersama Ayah baru beberapa hari."
"Apa kau telah terpisah dengan ayahmu?"
"Terpisah?"
"Anak-anak, kenapa kalian malah membicarakan hal yang tidak penting seperti itu? Lebih baik kalian masuk dan makan."
"Bunda pasti sudah menungguku di dalam. Ayo Daffa kita masuk."
Eleanor menyiapkan makanan di meja makan dengan dibantu oleh salah satu pelayan. Kemudian Zico berlari dan memeluknya.
"Bunda!"
"Zico, bagaimana sekolahmu?"
"Bunda, malam ini Daffa akan menginap di rumah ini. Boleh, kan?"
"Zico, ternyata Ayah dan Ibumu sangat baik ya."
Eleanor menyiapkan makanan untuk kedua anak kecil itu. Setelah itu Eleanor duduk di kursinya, lalu tiba-tiba Zergan menyentuh tangan Eleanor dari bawah meja.
Eleanor terkejut sampai dia tersedak. Kemudian Zergan memberikan air putih dan Eleanor meminumnya.
"Nyonya kenapa bisa tersedak?" tanya Daffa dengan wajah yang polos.
"Eh, kenapa kau memanggilku dengan sebutan Nyonya?" tanya Eleanor sambil tersenyum.
"Bunda, Daffa memang seperti itu. Tadi dia juga memanggil Ayah dengan sebutan Tuan."
"Daffa, mulai sekarang kau harus memanggilku Bibi, jangan Nyonya ya."
"Kau juga harus memanggilku Paman, jangan Tuan."
"Baiklah."
*******
Eleanor sedang melamun di ruang tengah, sedangkan Zergan dan kedua anak kecil itu sedang berenang di kolam renang.
"Nona, kenapa Nona melamun di sini? Apa ada masalah yang sedang Nona pikirkan?"
"Lea, aku memang sedang memikirkan sesuatu."
"Nona, bukankah kau selalu menceritakan masalahmu denganku? Kenapa sekarang kau tidak melakukannya?"
"Lea, sebenarnya saat di kantor tadi Zergan mengatakan kepada semua orang jika kami akan segera menikah."
"Nona, aku rasa Nona memang harus menikah dengan tuan Zergan."
__ADS_1
"Lea?"
"Nona, aku hanya memikirkan Zico saat ini. Apakah Nona tidak melihat betapa bahagianya Zico ketika bersama dengan tuan Zergan?"
"Nona juga dapat melihat sendiri setelah beberapa hari bersama tuan Zergan, Zico jadi lebih bisa membuka diri dan bersosialisasi dengan temannya."
"Nona, tolong pikirkan kembali hal ini. Tuan Zergan sangat mencintai Nona. Dia juga telah bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Nona. Dan sekarang dia ingin menikahi Nona agar Nona menjadi miliknya seutuhnya."
Eleanor menatap ke arah Zergan, dan ternyata Zergan sejak tadi menatap Eleanor sambil tersenyum.
Kemudian seorang asisten rumah tangga datang menghampiri Eleanor dan memberikan sebuah kotak kepadanya.
"Nona, ada seseorang yang mengirimkan paket untuk Nona."
"Untukku? Tapi dari siapa?"
"Saya tidak tahu, Nona. Orang yang mengirimnya langsung pergi tanpa memberitahukan siapa nama pengirimnya."
Eleanor pun langsung membuka paket tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah amplop besar berwarna putih polos.
"Bukankah ini adalah wanita yang tadi memarahiku di kantor Zergan?" batinnya.
"Nona, bukankah itu adalah tuan Zergan? Tapi siapa wanita yang sedang bersamanya?" tanya Lea.
Eleanor kemudian membuka sebuah surat yang ada di dalam amplop tersebut.
"Aku dengar kau adalah seorang model yang sangat populer yang namanya hancur karena ulah Zergan. Aku juga mendengar jika kau akan segera menikah dengannya, apa kau tidak takut jika Zergan menghianatimu? Aku hanya takut kau akan menyesal, karena Zergan dan aku saling mencintai. Kau tidak bisa menikah dengan pria yang masih mencintai wanita lain." tulis Anna dalam surat tersebut.
"Nona, apa yang terjadi? Kenapa raut wajahmu terlihat tidak senang setelah membaca surat tersebut?"
"Tidak apa-apa, Lea."
"Apa Nona sungguh tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa."
"Apa Nona kenal dengan wanita yang ada di dalam foto itu?"
"Tadi siang dia datang ke kantor Zergan dan menamparku."
"Wanita itu menampar Nona?"
"Dia sempat bertengkar dengan Zergan di kantor. Dia adalah mantan istri Zergan, tetapi dia terlihat masih mengharapkan Zergan."
Tiba-tiba Zergan datang dan Eleanor langsung menyembunyikan foto dan juga surat tersebut.
"Nona, aku permisi dulu."
"Apa yang sedang kau bicarakan dengan Lea?"
"Kami hanya membicarakan hal biasa. Aku ingin pergi ke kamar."
"Tunggu dulu!"
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"Jika ini tentang Anna, aku tidak ingin mendengarnya."
"Kenapa kau berpikir jika aku akan membicarakan Anna? Apa kau sedang cemburu saat ini?"
"T-tidak, aku tidak cemburu. Aku hanya tidak ingin kau membicarakan tentang seseorang yang tidak penting bagiku."
"Ini bukan tentang Anna. Besok malam temanku akan menikah dan dia mengundang kita untuk datang ke acara pernikahannya."
"Aku tidak ingin datang ke pernikahan itu, lebih baik kau pergi sendiri saja."
"Tidak bisa. Kau dan aku akan datang ke acara pernikahan temanku besok."
__ADS_1