
Saat Zergan dan Zico sedang duduk di ruang makan, terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu.
Salah satu pelayan yang berada di rumah tersebut pun langsung membukanya.
"Tuan, Yudha? Anda sudah datang?"
"Kau masih mengingatku rupanya."
"Tuan, bagaimana mungkin saya tidak mengingat Tuan."
Setelah Zergan mendengar pelayan tersebut menyebut nama Ayahnya, Zergan kemudian berjalan menuju pintu.
"Ayah, kau sudah datang?"
"Anakku, bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik, Ayah. Ayo, kita masuk."
"Baiklah."
Zergan mengajak ayahnya menuju meja makan menyusul Zico. Zico kemudian terlihat senang dan menghampiri mereka.
"Ayah, apa dia adalah kakekku yang Ayah ceritakan kemarin?"
"Iya, dia adalah kakekmu."
Zico kemudian memeluk kakeknya dengan senang, dan ayah Yudha pun membalas pelukan Zico.
"Kakek, bagaimana kabar Kakek?"
"Kabar Kakek baik. Bagaimana denganmu?"
"Kabarku juga baik. Kenapa Kakek baru menemuiku sekarang?"
"Kakek sangat sibuk dengan pekerjaan Kakek, jadi Kakek tidak sempat menemuimu."
"Kakek dan Ayah sama-sama sibuk."
"Benarkah?"
"Iya. Aku jadi tidak bisa bermain bersama Ayah."
"Begitu ya? Zico, di mana ibumu sekarang?"
"Bunda masih di kamar. Ayah yang meminta Bunda untuk berdandan dengan cantik. Apa Kakek tahu? Ayah juga membelikan baju yang bagus untuk Bunda. Malam ini Bunda pasti akan memakai baju itu."
"Kau ini."
__ADS_1
"Kakek, itu Bunda."
Eleanor menuruni anak tangga dengan mengenakan pakaian yang telah diberikan oleh Zergan kepadanya.
Eleanor kemudian berjalan menghampiri mereka. Ayah Yudha yang sangat senang langsung memeluk Eleanor.
"Kau sangat cantik, Menantuku. Pantas saja Zergan tergila-gila kepadamu."
"Ayah, bagaimana kabarmu?"
"Kabar Ayah sangat baik. Ayah sangat bahagia mengetahui kau dan Zergan akan menikah besok.
Eleanor kemudian tersenyum kecil kepada ayah Yudha.
"Ayah, lebih baik kita duduk dan makan malam sekarang."
"Baiklah."
Mereka berempat makan bersama dengan perasaan yang senang. Namun tiba-tiba, malam itu Anna datang ke rumah tersebut dan mengganggu suasana yang awalnya tentram.
"Ayah mertua, Ayah telah datang ke sini?" ucap Anna.
"Zergan, siapa dia? Kenapa dia memanggilku ayah mertua?" tanya ayah Yudha dengan bingung.
"Ayah mertua, apa Zergan tidak mengatakan kepadamu sebelumnya? Aku adalah Anna, istri pertama Zergan," sahut Anna.
"Itu tidak benar! Ayah, dia memang pernah menjadi istriku sebelumnya. Tapi hubungan itu hanya berlangsung beberapa hari. Aku bahkan belum sempat menyentuhnya, tetapi dia malah berselingkuh dengan kekasihnya di belakangku." Zergan menjelaskan dengan nada yang marah.
"Ayah mertua, tolong percaya denganku. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Aku sangat mencintai Zergan, aku tidak mungkin berselingkuh dengan pria lain."
"Apa kau tidak tahu malu? Kau berusaha untuk mempengaruhi ayahku agar aku menerimamu kembali dalam hidupku. Tapi kau harus tahu satu hal, Anna. Sampai kapanpun aku tidak akan percaya lagi denganmu dan aku tidak akan membiarkanmu masuk kembali ke dalam hidupku."
"Zergan, kenapa kau tidak memberitahu Ayah tentang hal ini sebelumnya?"
"Ayah mertua, Zergan tidak memberitahumu karena--"
"Diam! Aku tidak sedang berbicara denganmu, tapi aku sedang berbicara dengan putraku."
"Ayah, Ayah ingat saat hubungan kita tidak baik dulu? Aku pernah berpikir jika Ayah yang telah menyebabkan kematian Ibu. Saat itu aku juga berpikir jika Ayah sudah tidak lagi peduli dengan hidupku, jadi aku tidak memberitahu Ayah tentang pernikahanku dengan Anna dulu."
"Itu adalah hal terburuk dalam hidupku, Zergan."
"Ayah, Ayah jangan dengarkan lagi ucapan wanita ini. Semua yang dia katakan adalah bohong."
"Zergan, kenapa kau selalu berpikir jika aku mengatakan hal yang bohong? Wanita itu, dia telah merebut mu dariku. Aku masih sangat mencintaimu, Zergan."
"Kakek, Bibi itu sangat nakal. Aku tidak menyukainya. Tadi pagi dia juga datang ke rumah ini dan memarahi bibi Lea."
__ADS_1
"Zico, Bibi tidak memarahi bibi Lea. Tapi bibi Lea yang--"
"Cukup! Sekarang kau harus pergi dari rumah ini! Tidak ada seorangpun di rumah ini yang menginginkan kehadiranmu!"
Zergan hendak menampar wajah Anna karena telah membuatnya sangat kesal, kemudian Eleanor menghentikannya.
"Zergan, jangan lakukan itu kepadanya. Zico ada di sini, bagaimana jika dia berpikir negatif tentang dirimu?" bisik Eleanor ke telinga Zergan.
"Pelayan, tolong bawa Zico ke kamarnya," ucap Zergan.
"Baik, Tuan," balas pelayan tersebut.
"Nona Anna, tolong pergilah dari rumah ini."
"Memangnya kau siapa, Nona? Kau tidak berhak mengusirku dari rumah ini, karena ini adalah rumah dari ayah mertuaku."
"Anna, jangan berbicara seperti itu kepada menantuku! Dia adalah menantuku, jadi dia juga berhak atas rumah ini dan juga seisinya."
"Ayah mertua, tapi dia--"
"Jangan memanggilku ayah mertua! Aku sangat percaya kepada anakku Zergan, aku sangat mengenalnya. Walaupun dia adalah anak yang sangat keras kepala, tapi dia tidak pernah sekalipun berbohong kepadaku."
"Sekarang pergilah dari rumah ini! Aku tidak ingin kau mengganggu ketenangan kami."
"Ayah mertua, aku masih sangat mencintai Zergan. Aku berjanji aku akan mendapatkan Zergan kembali. Aku pasti akan membuatnya kembali jatuh cinta denganku dan meninggalkan wanita tidak tahu malu itu."
Anna kemudian pergi meninggalkan mereka. Tapi sebelum dia keluar dari rumah besar tersebut, Anna membalikkan tubuhnya.
"Ayah mertua, kau harus tahu jika nona Eleanor dulu adalah tunangan dari tuan Bian. Mereka berdua saling mencintai dan akan segera menikah, tetapi dia meninggalkan tuan Bian begitu saja dan merebut Zergan dari hidupku."
Anna kemudian keluar dari rumah itu. Kemudian terlihat Eleanor hanya berdiri dan diam.
"Menantuku, apa benar kau dulu meninggalkan calon suamimu demi Zergan? Tolong katakan kepadaku."
"Tidak, Ayah. Aku tidak meninggalkan calon suamiku. Aku dulu sangat mencintainya, aku tidak mungkin meninggalkannya."
"Ayah, Anna hanya ingin Ayah percaya dengan ucapannya dan berpikir buruk tentang Eleanor. Akulah yang telah merebut Eleanor dari calon suaminya, bukan Eleanor yang meninggalkan calon suaminya demi aku."
"Menantuku, sekarang Ayah ingin bertanya kepadamu. Apakah saat ini kau masih mencintai calon suamimu yang dulu?"
Eleanor tidak bisa menjawab pertanyaan dari ayah mertuanya. Sebenarnya Eleanor masih memiliki harapan untuk bisa kembali bersama Bian, tetapi dia sadar jika takdirnya adalah hidup bersama Zergan.
"Tidak, Ayah. Aku sudah tidak mencintainya. Aku hanya ingin hidup bersama Zergan dan juga anakku. Aku tidak ingin yang lainnya."
"Ayah mendengarnya, kan? Dia sudah tidak lagi mencintai calon suaminya. Jadi Ayah tidak perlu lagi khawatir tentang masalah ini."
Zergan kemudian memeluk tubuh Eleanor, tetapi Eleanor hanya pasrah dan tidak membalas pelukan itu.
__ADS_1
Ayah Yudha merasa jika Eleanor telah berbohong, karena dia melihat mata Eleanor yang penuh dengan kesedihan.