Istri Milik Tuan Zergan

Istri Milik Tuan Zergan
Part 12


__ADS_3

Eleanor dan Zico sedang sarapan di meja makan. Kemudian Lea datang sambil membawa peralatan untuk melukis.


"Selamat pagi, Nona."


"Selamat pagi, Lea. Duduklah dan sarapan bersama kami."


"Terima kasih, Nona. Tapi aku sudah sarapan di rumah."


"Kalau begitu minumlah."


"Terima kasih."


"Apa yang kau bawa, Lea?"


"Aku membawa peralatan untuk melukis. Zico akan sekolah mulai hari ini, jadi aku rasa aku akan memberikan hadiah ini untuknya."


"Zico, bibi Lea memberikan hadiah untukmu. Kau harus mengucapkan terima kasih kepadanya."


"Terima kasih, Bibi."


"Sama-sama, Zico."


Setelah mereka selesai sarapan, mereka pun langsung pergi dengan mengendarai mobil untuk menuju sekolah Zico.


"Lea, hari ini aku ada pertemuan dengan tuan Robert di perusahaan miliknya."


"Nona, bukankah hari ini tuan Robert akan bertemu dengan tuan Viktor?"


"Aku tidak tahu pasti. Tetapi asisten tuan Robert kemarin menelepon dan memintaku untuk menemui tuan Robert hari ini."


"Nona, apakah aku harus menemanimu?"


"Tidak perlu, Lea. Kau harus tetap menemani Zico di sekolah."


"Tapi bagaimana dengan Nona?"


"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan pastikan jika tidak ada orang lain yang mengenaliku."


"Baiklah, Nona."


Mereka pun sampai di sekolah elit tempat Zico akan bersekolah. Sekolah itu memang khusus untuk anak-anak yang orang tuanya memiliki banyak uang.


"Zico, kau harus belajar dengan benar di sekolah ya."


"Apa Bunda akan menjemputku hari ini?"


"Tentu saja. Bunda pasti akan menjemputmu."


"Lea, aku harus pergi sekarang."


"Baiklah, Nona. Hati-hati di jalan."


Setelah Eleanor pergi dari tempat itu, Lea dan Zico pun masuk ke kelas.


"Bu Guru, selamat pagi."

__ADS_1


"Selamat pagi, nona Lea. Di mana ibunya Zico? Kenapa tidak mengantarkannya pergi ke sekolah?"


"Sebenarnya ibunya Zico masih ada banyak urusan, jadi dia hanya mengantarkan Zico sampai di depan gerbang."


"Oh, begitu."


"Bu Guru, apakah ibunya Zico sudah memberitahu anda tentang Zico?"


"Sudah, Nona. Saya sebagai seorang guru, akan berusaha sebaik mungkin untuk mengajarkan mereka cara bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain."


"Terima kasih, Bu Guru."


Bu Guru jongkok dan hendak memegang pundak Zico, tetapi Zico langsung menjauh dari Bu Guru dan masuk kelas.


"Bu Guru, maafkan sikap Zico. Dia memang seperti itu kepada orang yang belum dikenalnya."


"Tidak apa-apa, nona Lea. Kalau begitu saya masuk dulu."


"Baiklah."


Di dalam kelas, Bu Guru menjelaskan materi dasar matematika kepada semua muridnya. Bu Guru juga meminta para muridnya untuk mencatat materi tersebut, kemudian ia menuliskan pertanyaan di papan tulis.


"Anak-anak, ada yang dapat menjawab pertanyaan Bu Guru di papan tulis?"


Tidak ada seorangpun dari muridnya yang mau menjawab pertanyaan darinya. Kemudian dia melihat Zico yang sejak tadi seperti menulis di atas kertas.


Bu Guru tersebut langsung menghampiri Zico dan bertanya kepadanya. Tapi seperti biasanya, Zico hanya diam dan tidak menatap ke arah Bu Guru.


Bu Guru itu langsung menarik kertas milik Zico, dan dia pun terkejut melihat jawaban yang ditulis Zico secara rinci dan benar mengenai pertanyaan yang dia tulis di papan tulis.


Beberapa jam kemudian, sekolah Zico telah selesai. Semua murid dengan cepat keluar dari kelas itu.


Tetapi saat Zico hendak keluar, ada salah satu murid yang terlihat menyukai mainan yang menempel di tas Zico.


Anak kecil itu langsung mengambil mainan tersebut dari tas Zico dan membuat Zico sangat marah. Zico memukul wajah anak kecil itu dan membuat anak kecil itu terjatuh.


"Bu Guru, dia telah memukul wajahku," ucap anak kecil itu sambil menunjuk ke arah Zico.


"Zico, kenapa kau memukul wajahnya?" tanya Bu Guru.


"Dia telah mengambil barang milikku tanpa meminta izin dariku," balas Zico dengan nada yang marah.


"Zico, tapi kau tidak boleh melakukan hal itu. Dia adalah temanmu."


"Tapi aku tidak memiliki teman. Dia adalah anak yang nakal."


"Zico, jangan berbicara seperti itu. Jika ibunya tahu, ibunya pasti akan marah kepadamu."


"Bu Guru, aku akan memberitahukan hal ini kepada ibuku. Aku akan memberitahu ibu jika dia telah memukulku."


Anak kecil itu kemudian berlari keluar kelas dan menemui Ibunya. Zico dan Bu Guru pun ikut keluar.


Lea pergi menghampiri Zico dan Bu Guru yang telah keluar dari kelas.


"Zico, kau sudah selesai sekolahnya?"

__ADS_1


"Nona Lea, sebenarnya di dalam kelas tadi ada sedikit masalah."


"Masalah apa? Apakah Zico yang telah menyebabkan masalah itu?"


"Zico telah memukul salah satu temannya di kelas, dan wajah temannya itu sampai memar."


"Zico, kenapa kau melakukannya?"


Belum sempat pertanyaan Lea dijawab oleh Zico, Ibu dari anak yang dipukul Zico pun datang.


"Apa yang telah kau lakukan kepada anakku? Lihatlah, mata kirinya sampai memar seperti itu." Ibu-ibu itu memarahi Zico.


"Nyonya, saya minta maaf dengan sikap Zico kepada anak anda," ucap Lea.


"Jadi, anak ini adalah anakmu? Entah bagaimana caramu mendidiknya. Tapi dia benar-benar sudah keterlaluan, dia telah berani memukul wajah anakku," balas wanita itu dengan wajah yang mulai memerah.


"Ini baru pertama kali dia masuk ke sekolah ini. Apa lagi yang akan terjadi jika dia sudah lama berada di sekolah ini? Semua teman sekelasnya pasti akan dipukuli olehnya," sambungnya.


"Dia telah mengambil barang milikku, jadi aku memukulnya." Zico membela diri.


"Berani sekali kau menjawabku?" bentak wanita tersebut.


"Nyonya, tolong jangan membentak anak kecil seperti itu," ucap Bu Guru.


Zico kemudian menarik mainan yang ada di tangan anak kecil itu.


"Kembalikan mainanku!" ucap Zico.


"Aku tidak mau! Aku ingin mainan ini," balas anak kecil tersebut.


Lea dan Ibu dari anak kecil itu melerai mereka berdua, tetapi mereka berdua malah saling mencakar.


"Zico, cukup!" Lea merangkul Zico.


"Kembalikan mainanku!" seru Zico.


"Aku tidak mau! Mainan ini sekarang menjadi milikku," ucap anak kecil tersebut.


"Anda lihat, Nyonya? Anak anda yang sebenarnya bersalah. Dia telah mengambil mainan milik Zico," ucap Lea dengan nada tinggi.


"Daffa, kembalikan mainan itu sekarang!"


"Aku tidak mau! Mainan ini milikku."


"Zico, lebih baik kita pulang saja ya. Nanti Zico minta lagi mainan kepada Bunda."


"Aku tidak mau! Aku cuma mau mainan itu!"


"Daffa, tolong kembalikan mainannya kepada Zico. Mengambil mainan milik orang lain itu tidak baik, apalagi jika pemiliknya tidak mengizinkan."


"Tidak, Bu Guru. Aku tidak mau mengembalikan mainan ini."


Zico kembali merebut mainan tersebut dari anak kecil itu. Anak kecil itu tetap saja tidak mau memberikan mainannya kepada Zico.


Mainan tersebut pun rusak dan membuat Zico sangat marah. Zico langsung mendorong anak kecil itu hingga terjatuh, anak kecil tersebut pun bangun dan mendorong balik Zico.

__ADS_1


__ADS_2