
"Tunggu sebentar, kamu duduk di sana, biar Umi yang mengangkat telepon."
Dari seberang sana, Abah ternyata sudah mengangkat teleponnya.
"Tidak usah Umi, biarkan Abah yang mengangkat teleponnya, Umi duduklah di situ menemani Aleta."
"Iya, Abah."
Setelah melihat jika suaminya mengangkat telepon, maka Umi melanjutkan pembicaraan dengan Aletta.
"Halo, maaf ada yang bisa saya bantu?"
"Dengan keluarga Tuan Zayd Abdullah?"
"Iya, ini saya ayahnya, ada apa?"
"Maaf mobil yang dikendarai anak Anda dengan nomor plat 42 AC mengalami kecelakaan di jalan Guangzhou."
"Innalilahi ...."
"Saat ini korban sedang dibawa ke Rumah Sakit Guangzhou."
"Baik, saya akan segera kesana!"
Dari raut wajah Abah sudah bisa dipastikan jika berita yang dia terima saat ini adalah sebuah berita buruk. Maka dari itu Umi segera mendekati Abah, kedua tangan suaminya dipegang erat-erat dan ditatap wajahnya dengan serius.
"Ada apa Abah?"
Abah menepuk halus bahu istrinya. "Anak kita Zayd dan Syafea kecelakaan."
"Innalilahi ... kita ke sana, Abah!"
Abah terlihat mengangguk, lalu Umi menoleh ke arah Aletta, dan kembali mendekatinya.
"Suamimu kecelakaan, Nak. Sabar, ya?"
Aletta mengangguk, lalu terbesit rasa agar dirinya diperbolehkan ikut bersama Umi untuk melihat keadaan Zayd.
"Maaf, Umi jika tidak keberatan bolehkah Aletta ikut pergi, Aletta takut sendirian di rumah."
Umi menoleh ke arah suaminya, yang ditanggapi dengan sebuah anggukan.
__ADS_1
"Iya, boleh memang sebaiknya kamu ikut."
Dengan segera ketiga orang itu bergegas pergi untuk mengunjungi Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan Umi selalu berdoa agar kondisi anaknya tidak terluka parah. Terlihat jika raut kehawatiran terlihat jelas di wajah Umi.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka segera diantar menuju ke ruang perawatan. Kebetulan dokter yang menangani mereka sudah keluar. Tanpa membuang waktu Abah dan Umi segera mendekatinya, menanyakan tentang kondisi terkini sang putra.
Namun, pada kenyataannya kondisi Zayd dan Syafea lumayan parah. Dari keterangan tenaga medis yang merawat mereka terlihat jika keduanya harus di rawat intensif di Rumah Sakit untuk beberapa waktu.
Dari keterangan dokter, diketahui jika kedua kaki Syafea terjepit, sementara kepala Zayd kemungkinan cedera otak. Sehingga akan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih. Di sisi lain kehamilan Aletta baru berusia empat minggu.
"Apakah keduanya bisa dibawa kembali ke negara asal kami?" tanya Umi saat berkonsultasi dengan dokter.
"Sepertinya tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Meskipun kondisi kedua pasien sudah berangsur membaik, tetapi harus dipantau selama beberapa waktu."
Umi tampak menunduk, sebuah situasi sulit sedang mereka jalani saat ini.
"Lalu apa yang harus kami lakukan, dokter?"
"Untuk kaki Nyonya Syafea masih ada banyak perawatan tambahan yang harus dilakukan agar kondisinya cepat pulih. Pulih dalam artian tidak sepenuhnya bisa berjalan seperti sedia kala."
"Maksudnya harus mengunakan crutch?" tanya Umi memastikan.
Dokter tersebut mengangguk, "Benar sekali."
"Apakah mereka tahu dan bisa memprediksi sebuah hal yang tidak terduga seperti saat ini?"
"Sabar Umi."
"Tidak ada yang salah dengan hal ini, akan tetapi jika terus menerus mendapatkan kesialan sepertinya mereka harus diruwat atau diperbarui nikah mereka!"
"Apa maksudmu? Aku kira kita tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu!" ucap Abah terlihat tegas.
"Abah, aku lelah dengan sikap putramu itu. Sejujurnya jika aku boleh memilih sudah pasti aku akan memilih Aletta untuk menjadi pendamping Zayd daripada Syafea."
Abah memegang tangan istrinya itu, "Sabar."
"Bisa dilihat sendiri jika Aletta seorang calon istri idaman dan wanita solehah. Ia beberapa kali terlihat mengaji dan selalu rajin beribadah, bukankah itu calon menantu idaman kita. Bagaimana menurut Abah?"
"Aletta dan Syafea memang berbeda. Terlihat keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing."
"Ada hal yang tidak sama, jika Aletta adalah wanita lemah lembut. Lain halnya dengan Syafea yang terlihat tegas dan pintar dalam melakukan bisnis. Akan tetapi ia terlalu ambisius dan tidak menghormati suaminya. Itu adalah hal yang paling aku benci dari seorang wanita."
__ADS_1
"Jika seorang wanita sudah mendapatkan karir yang tinggi sudah pasti ia akan menyia-nyiakan suaminya. Bahkan memandang rendah kedudukan suami dan lebih mementingkan dunia luar."
"Itu yang dilakukan oleh Syafea selama ini. Tidak pernah menganggap kita ada dan meremehkan arti sebuah keluarga. Sayang, jika aku meminta Zayd untuk menceraikan dirinya, sudah pasti itu bukan hal yang adil untuk dia dan akan menambah dosa untuk anak kita."
"Lalu bagaimana ini?"
"Kita harus menunggu sampai Zayd siuman baru kita lihat respon selanjutnya."
Sementara itu Aletta masih terlihat memandangi wajah suaminya. Dari balik jendela terlihat beberapa selang infus yang menempel pada tubuhnya dan membuat Zayd terlihat lemah.
"Bagaimana jika Zayd lupa ingatan dan anak ini tidak akan diakui olehnya?"
"Kenapa aku begitu khawatir?" tanyanya dalam hati.
Berbagai ketakutan terlihat di sana. Meskipun pada akhirnya nanti Aletta tidak diakui, tetapi setidaknya masih banyak orang yang peduli dengannya. Satu hal yang terpenting adalah anak yang ia kandung tetap mendapatkan statusnya.
"Nak, bawalah ayahmu kembali. Meskipun Ibu tidak mempunyai hak yang banyak terhadapmu nanti, maka dari itu Ibu meminta maaf," ucap Aletta sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Setelah cukup lama berdiam diri di sana, Aletta segera melangkah pergi. Kakinya menuntun kepada sebuah balkon di ujung koridor ruang rawat Zayd.
Tiba-tiba saja Aletta teringat dan sangat rindu dengan ayahnya.
"Sepertinya aku harus menelpon dokter Hadi, sudah lama tidak mendengar kabar Ayah," gumam Aletta.
Di sisi lain, ketika sahabat Syafea mendapatkan kabar jika Syafea sakit, ia segera mendatangai Hyu Jin.
"Lelaki itu harus tahu bagaimana kondisi keluarga Zayd saat ini."
Tidak berapa lama kemudian ia telah sampai di apartemennya. Sebagai teman tidur Syafea, Hyu Jin justru tertawa bahagia ketika mendengar kabar itu.
"Apa katamu? Zayd dan istrinya kecelakaan? Apakah dia meninggal?"
"Sepertinya istrinya yang terluka parah, karena pada saat ditemukan Zayd hanya terluka di bagian kening."
"Hm, harusnya dia tidak usah selamat," ucapnya geram.
"Kamu jangan serakah! Bukankah kemarin kamu sudah mendapatkan beberapa aset penting milik Zayd, apakah kau ingin melihatnya lebih hancur lagi?"
"Tentu saja, kenapa tidak? Apa yang ia lakukan kepada kakakku harus dibayar lunas olehnya saat ini juga."
"Kamu benar-benar gila!"
__ADS_1
"Aku yakin kakakmu justru merasa sedih karena kamu justru melukainya."
"Diam, kamu! Kamu tidak tahu bagaimana kakakku berjuang untuk melawan rasa sakitnya hingga akhirnya ia meninggal. Jadi biarkan aku bertindak sesukaku saat ini."