
Tatapan mata Syafea seolah ingin menguliti Aletta sejak ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat miliknya. Bagaimana pun Syafea adalah istri sah dari Zayd di mata hukum dan agama, sehingga ia lebih mempunyai hak yang istimewa ketimbang Aletta.
Umi bisa melihat kebencian yang mendalam di dalam mata Syafea. Akan tetapi pandangan kosong terlihat di dalam bola mata Zayd.
"Apakah takdir yang membuat Zayd kehilangan tentang istri pertamanya ini?" gumam Umi ketika melihat respon Zayd barusan.
Meskipun ragu, Zayd tetap melanjutkan langkahnya menuju brankar milik Syafea. Ia mengulas senyum meskipun Zayd belum mendapatkan kembali ingatannya.
Ia mulai melangkah mendekati Syafea yang sudah terlihat merindukan kehadiran suaminya. Senyum Syafea merekah ketika melihat hal tersebut.
"Sayang, kamu pasti datang demi aku, bukan?"
Namun, ucapan yang diberikan oleh Zayd membuat hati Syafea terluka.
"Hai, aku Zayd. Menurut Umi, aku suami kamu, ya?"
__ADS_1
"Maafkan aku, ya ... karena sesungguhnya aku sama sekali belum mengingat siapa dirimu dan apa posisi kamu di hatiku."
Mulut Syafea sukses membentuk huruf O. Merasa jika suaminya benar-benar kehilangan ingatan membuat ketakutan muncul di dalam hati Syafea. Di tatapnya Aletta yang sedari tadi menatapnya dari kejauhan.
"Lalu jika kamu belum mendapatkan kembali ingatan tentang diriku, apakah kau juga merasakan hal yang sama tentang wanita itu?" tanya Syafea tertuju pada keberadaan Aletta di sudut ruangan.
Zayd menoleh dan tersenyum ke arah Aletta, baru setelahnya kembali berbicara pada Syafea.
"Iya, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku juga belum bisa mengingat Aletta sama sekali. Hingga beberapa saat setelah itu aku sudah mulai bisa menerima kehadirannya."
Sontak ucapan dari Syafea itu merusak suasana hati Umi dan Alleta. Zayd yang memang belum mengenal lebih dalam sosok Aletta hanya bisa terdiam pasrah dengan tuduhan yang diberikan oleh para readers, eh istri pertamanya.
"Apa yang kamu katakan barusan? Bukankah hal itu sama halnya kamu menghina status saudara kamu sendiri?"
Syafea melotot tajam ke arah Aletta, sementara itu Umi tidak bisa membiarkan hati Aletta sakit. Maka dari itu ia membawanya keluar ruangan. Merasa jika harga dirinya diinjak-injak oleh Syafea, Aletta mencoba bangkit.
__ADS_1
"Maaf, Umi. Biarkan saya meluruskan masalah ini," ucap Aletta sambil tersenyum ke arah Umi.
Lalu setelahnya Aletta mulai berjalan mendekati brankar Syafea, istri tertua dari Zayd Abdullah yang menurutnya sangat suka menindas dan berbuat seenaknya terhadap orang lain.
"Maaf, Nyonya Syafea yang terhormat. Tidak bisakah kau berbicara dengan nada lembut seperti seorang wanita pada umumnya?"
"Saya memang wanita lemah yang Anda pungut untuk dijadikan boneka tempat Anda menitipkan janin."
"Lalu dengan seenak hatinya Anda menyebut saya sebagai pelakor? Bukankah Anda sendiri yang menyeret saya masuk ke dalam biduk rumah tanggamu? Lalu apa pantas saya disebut pelakor?"
Aletta menahan rasa sesak di dalam hatinya. Sejak dulu ia jarang sekali mendapatkan kebahagiaan seutuhnya. Sejak kecil ia berjuang demi bisa agar tetap hidup bersama sang ayah. Hingga kini setelah ia membuang impian untuk menjadi orang sukses dan justru terjebak dalam permainan Syafea.
Syafea tidak menyangka jika Aletta bisa mengatakan isi hatinya hari itu. Begitu pula dengan Zayd dan Umi yang mengira Aletta gadis biasa. Tidak mungkin ia akan mengatakan hal-hal buruk tidak seperti Syafea.
Merasa malu dengan ucapan yang justru berbanding terbalik dengan kenyataan membuat Syafea bungkam dengan sendirinya.
__ADS_1
"Awas saja kamu pelakor!" umpat Syafea sambil terus memandang ke arah Aletta.