
Tampak raut wajah semua orang terlihat sangat panik. Di tambah lagi saat ini semuanya sudah tahu jika Zayd menikah lagi. Hampir semuanya menyayangkan hal itu, tetapi semua sudah terjadi. Sehingga mau tidak mau mereka setuju.
"Meskipun kamu setuju tetapi tidak mudah melakukan hal itu. Sehingga mau tidak mau kau harus mempertemukan kami dengan Zayd dan juga istri keduanya. Atau bawa mereka kembali secepatnya.
Bagaikan merasakan sebuah firasat baru, rupanya bayi di dalam kandungan Aletta bergerak-gerak sehingga justru membuatnya susah tidur. Apalagi saat ini ia masih berada di dalam kediaman Althaf.
Merasakan pergerakan di dalam perutnya membuat Aletta tidak bisa tidur. Zayd yang kebetulan satu tempat tidur dengan istrinya itu hanya bisa merasakan jika ada rasa tidak nyaman di dalam hatinya.
"Ada apa, Sayang? Apakah calon baby kita nakal?"
Sontak saja Aletta menggeleng dengan cepat. Bagiamana bisa ia mengatakan jika perutnya tidak nyaman. Tanpa Aletta minta, Zayd memegang perut Aletta lalu membisikkan sebuah doa untuk calon bayinya. Bagaikan tersihir dengan perlahan, pergerakannya melembut.
"Wow, dia langsung merespon?" ucap Zayd sedikit terkejut.
Bagaimana pun ini adalah pengalaman pertama sehingga mau tidak mau baik Aletta maupun Zayd sudah pasti bahagia dengan perlakuan khusus.
__ADS_1
Setelah mendapatkan semua informasi lengkap, Umi segera menelpon Zayd. Ia ingin meminta bantuan agar segera mempersiapkan banyak hal untuk kepulangannya menuju tanah air.
Tidak berlangsung lama, kini Umi justru bersiap untuk merenovasi rumah. Ia tidak mau menantunya itu merasa kecewa. Lain halnya dengan Abah yang tidak suka jika keluarga besarnya justru ikut campur di dalam keluarganya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk memberitahu semua hal pada keluarga besar kita? Bukankah itu sama saja dengan mencoreng nama baik keluarga besar kita?"
Umi tampak menyesal akan kejutan yang diberikan oleh suaminya. Ia tidak menyangka jika keputusan yang diambil justru membuatnya sedikit marah. Akan tetapi Umi sadar jika memang ia tidak merundingkan masalah ini dengan suaminya terlebih dahulu dan hal itu sukses membuat suaminya marah besar.
Abah memilih untuk cepat kembali ke kamar dan membiarkan Umi berpikir sendirian. Di lain sisi kini Syafea merasakan perutnya bergejolak. Perut yang semula rata ini justru terlihat agak membuncit, sehingga membuat Zayd enggan untuk bertemu dengannya.
Sebuah kenyataan yang membuat Zayd bingung adalah bagaimana istrinya bisa hamil jika bagian dari tubuhnya yang tidak sehat itu sudah lama tidak digunakan bersamanya. Dokter Michael pun melarang ia berhubungan badan. Sehingga sangat mustahil terjadi hal demikian.
Di apartment miliknya ia tampak sendirian, ditambah lagi tidak ada yang perhatian kecuali suster dan Hyu Jin itu pun jarang dilakukan karena ia lebih fokus pada perusahaan. Perusahaan milik Zayd yang semula kolabs kini berangsur bangkit dan hal itu sukses membuat Hyu Jin kehilangan beberapa asetnya.
"Kenapa ia bisa membalikkan keadaan seperti ini?" ucapnya geram.
__ADS_1
Beberapa berkas di hadapannya terlihat berantakan. Ia benar-benar membuat Hyu Jin kehilangan kesabaran. Beberapa orang yang ia suruh untuk melalukan sabotase juga gagal.
"Semua ini terjadi gara-gara wanita sialan itu!" ucapnya geram.
Kini Hyu Jin tampak melenggang pergi meninggalkan ruang kerjanya. Ia lebih memilih menuntaskan kemarahan dengan pergi ke bar dan minum-minum. Setidaknya ia bisa melepaskan semua penat yang menghimpitnya.
Syafea mencoba meriah kursi rodanya, lalu sesaat kemudian bukannya mendapatkan, Syafea justru terguling ke bawah dan membuat area sekitar kakinya keluar cairan kental berwarna merah.
"Ya, Tuhan ... apa ini?" ucapnya sambil mengusap cairan kental berwarna merah tersebut.
Sesaat kemudian Syafea justru tampak mengusap perutnya yang bertambah nyeri.
"No ... no ... kamu nggak boleh kenapa-napa, Sayang ...."
......................
__ADS_1
Kira-kira apa yang terjadi nih? Mana tim pendukung Zayd dan Aletta? tunggu part selanjutnya ya. Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini.