
"Jadi, ini cucu saya?" ucap Pak Rahmat terbata.
Buliran kristal bening tanpa terasa sudah menetes di kedua pipi tua milik Pak Rahmat. Mau marah tetapi semua sudah terjadi, bahkan saat ini beliau menitikkan air mata bahagia karena sudah memiliki seorang cucu berjenis kelamin laki-laki yang mereka beri nama Baby Noe.
Tangan yang semula kekar kini berbalut keriput itu ingin menggendong cucunya. Untuk kedua kalinya ia menggendong seorang bayi. Pertama kali saat itu ketika menggendong Aletta di waktu bayi lalu sekarang ia kembali menggendong tubuh kecil cucunya, yaitu Baby Neo.
"MasyaAllah, kamu tampan sekali, Nak," ucap Pak Rahmat sambil meneteskan air mata.
Dalam sekejap beliau segera mengusap pucuk kepala Baby Noe lalu membacakan sebuah doa untuknya. Setelah beberapa saat, beliau bahkan menimang-nimang Baby Noe dengan penuh cinta. Sama seperti ketika waktu itu, ketika istrinya menitipkan putrinya lalu meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Ya Allah, jadikanlah cucuku ini sebagai penyempurna pernikahan antara anakku Aletta dan juga Zayd. Jangan pernah kau pisahkan cinta mereka dengan ujianmu. Cukup aku saja yang mengalami hal ini dan jangan kau ambil putriku, Aletta," ucap Pak Rahmat dengan hati berdebar.
Kaki yang semula kokoh, kini mulai bergetar. Begitu pula dengan kedua tangannya. Didekapnya erat-erat Baby Noe seolah beliau tidak mau melepaskannya. Baby Noe menguatkan hati dan pikirannya.
Di sisi lain, pikiran Zayd berkecamuk. Melihat mertuanya sangat menyayangi Baby Noe, ada rasa haru yang luar biasa. Bagaimana pun Zayd sangat menghormati semua orang. Setelah pertemuan ini Zayd berdoa agar keluarganya segera lulus dari ujian yang sangat luar biasa ini.
Bagaimana pun saat ini mertua yang dicarinya sudah ketemu, hanya saja Aletta justru harus berjuang dengan penyakitnya. Vonis dokter yang turun seolah membuat semua kebahagiaan yang dirasakan olehnya pupus sudah. Zayd seolah kehilangan semangat hidup tetapi ia juga tidak mau membuat orang-orang di sekitarnya ikut terluka.
Dengan berpura-pura baik-baik saja, Zayd berharap semua orang tidak terlalu berlarut dalam kesedihan. Zayd meminta ijin untuk kembali ke kamar Aletta terlebih dahulu.
"Pergilah, temani istrimu dan biarkan kami yang menemani Ayah Aletta."
__ADS_1
"Terima kasih, Umi. Doakan semoga Aletta segera siuman."
"Aamiin," doa Umi pada Zayd sambil menepuk bahunya.
Setelah berlalu, hanya air mata yang kini membasahi kedua pipi Zayd. Ketika menyadari apa yang sudah ia rasakan sejak kecil ternyata menjadi masalah saat ini. Zayd merasa sangat bersalah pada Aletta. Bagaimana pun semua ini terjadi karena dirinya.
Zayd seolah memaksa Aletta untuk dewasa sebelum usianya. Mengandung dan melahirkan keturunan untuk menyelamatkan hidupnya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku rela menukar hidup dan nyawaku hanya untukmu."
Zayd tidak kuasa menahan air matanya. Hatinya terlalu bergemuruh ketika mendapati ujian yang di luar batas kemampuannya. Sama seperti Aletta. Keinginan kecilnya adalah memiliki keluarga kecil yang harmonis.
Di saat ia bisa meraih kebahagiaan dengan mendapatkan anak dan suami, tetapi Tuhan memberikan ujian lain terhadapnya. Aletta juga merasa sangat bersalah karena telah menipu ayahnya.
Pupil matanya berwarna biru muda. Rambutnya sedikit ikal di bagian ujung. Lalu kulit tubuhnya putih bersih dan ada darah Turki. Di sampingnya ada seorang lelaki yang bertubuh kekar menggandeng tangan mungilnya.
"Siapa mereka? Apa aku mengenalnya?" gumam Aletta.
Rupanya pakaian mereka senada, sama-sama menggunakan pakaian berwarna putih bersih. Berasa di dalam atmosfer yang sama dan taman bunga yang sama.
Ketika anak kecil itu bisa melihat keberadaan Aletta ia melambaikan tangannya. Senyumnya begitu cerah, lalu diajaknya sosok lelaki di sampingnya tersebut.
__ADS_1
Tanpa ragu, keduanya justru melangkahkan kakinya mendekati Aletta. Hingga kemudian sayup-sayup terdengar suara yang memanggilnya untuk kembali.
Rupanya saat Zayd kembali, kondisi Aletta justru semakin kritis. Alat pendeteksi kesehatan di samping brangkarnya berbunyi nyaring, hingga hal itu membuat Zayd panik.
Dengan segera Zayd menekan tombol nurse call untuk meminta petugas medis agar mendatanginya.
"Dokter tolong istri saya," pinta Zayd dengan berlinang air mata.
Umi yang baru saja datang tak kuasa ketika melihat putranya berlutut di depan ruangan UGD. Baru pertama kalinya Zayd bertindak seperti itu. Lalu sesaat kemudian dokter meminta agar Zayd masuk ke dalam.
"Ada apa, dok?"
"Sepertinya istri Anda sangat membutuhkan Anda. Cobalah ajak Nyonya Aletta agar secepatnya kembali. Kami yakin jika penyakitnya akan bisa kami atasi."
"Ba-baik, dok."
Dengan segera Zayd memakai pakaian steril lalu mendekati brankar Aletta. Di sana ia memanjatkan doa-doa tidak lupa memintanya kembali lagi.
Menurut penuturan dokter saat ini Aletta hampir saja mengalami koma. Salah satu cara agar hal itu tidak terjadi salah memanggil salah seorang yang sangat ia cintai akan bisa membaca jiwanya kembali.
......................
__ADS_1
Minta doanya ya teman-teman agar Aletta dan othor segera pulih kembali. Agar senyum Zayd dan juga Baby Noe bisa kembali terbit. Aamiin.