
Ketika perasaannya tumbuh semakin dalam, maka Syafea justru semakin terluka karena hal itu. Melihat interaksi demi interaksi yang ditunjukan oleh Zayd dan Syafea rupanya mampu membuat Syafea hilang akal dan berbuat seenaknya.
Sampai detik ini, ia tampak berusaha dengan keras untuk melukai Aletta. Sama halnya ketika melihat kemesraan antara suami dan istri kecilnya itu, niat buruk Syafea semakin bulat.
Syafea telah membawa sebuah bubuk yang diberikan Hyu Jin lewat kaki tangannya. Sesuai dengan rencananya ia akan memberikan benda tersebut kepada Aletta setelah ini.
"Sebuah kesempatan bagus tidak boleh terlewatkan kali ini."
"Kita lihat sejauh apa kamu bertahan dengan hal ini?" ucapnya penuh dengan seringai jahat.
Tidak berapa lama kemudian ia menggerakkan kursi rodanya untuk menuju ke arah pantry.
"Hm, sangat bagus sekali. Situasinya sangat tepat sehingga kalau pun aku menjalankan rencanaku hari ini, tidak ada yang akan melihatnya."
Sepertinya alam sangat mendukung hal ini, ditambah lagi, suster yang merawatnya ijin tidak masuk. Saat situasi dirasa aman, Syafea tampak mengambil beberapa bubuk susu dan dicampur dengan bubuk miliknya. Tidak lupa air ditambahkan ke dalamnya.
Syafea tampak buru-buru untuk mengaduk susu ibu hamil tersebut. Ia sudah tidak sabar untuk segera memberikannya kepada Aletta.
__ADS_1
Sorot matanya menoleh ke arah kanan dan kiri untuk memastikan apakah keadaan benar-benar aman dan tidak ada yang melihat tindakannya barusan.
"Hm, akhirnya aku bisa melihat jika kamu akan mendapatkan balasan kesakitan seperti apa yang aku rasakan barusan."
Ketika ia hendak berbalik terlihat jika Umi berjalan ke arahnya. Dengan tersenyum Syafea menyapa Umi.
"Selamat pagi, Umi."
"Pagi, Sayang. Kamu sedang apa saat ini?"
"Ini, aku membuatkan susu ibu hamil untuk Aletta. Tadi aku sempat lihat jika ia belum meminum susu ibu hamil."
"Siap, Umi. Terima kasih banyak."
Setelah memastikan Umi pergi, Syafea segera melajukan kursi rodanya menuju ke tempat Aletta berada. Samar-samar ia mendengar percakapan antara suaminya dan juga Aletta yang berada di halaman belakang.
Sesuai dengan dugaannya, saat ini Aletta terlihat bercengkrama dengan Zayd. Terlihat sekali jika mereka bersenda gurau sambil menjemur baju. Dari hal kecil itu ternyata bisa membuat Syafea semakin dibakar api cemburu.
__ADS_1
Akan tetapi ketika ia teringat akan rencananya barusan, Syafea mulai merubah mimik wajahnya menjadi lebih ramah.
"Aletta ...." panggilnya dengan ramah.
Tentu saja Aletta menoleh ketika namanya dipanggil. Belum lagi Zayd yang juga memandang ke arah istrinya tersebut.
"Iya, Mbak, ada apa?"
"Ini loh, tadi aku melihat kamu belum minum susu ibu hamil, makanya aku pun membuatkannya untukmu. Lagi pula ini sebagai permintaan maaf karena selama ini aku selalu berlaku kasar terhadap kamu."
Aletta tampak melihat ke arah Zayd. Zayd mengangguk sebagai bukti jika ia setuju melihat kebaikan hati Syafea terhadapnya.
Namun, ketika Aletta hendak mengambil gelas itu, tiba-tiba saja kucing anggora miliknya melompat dan menerjang tangan Syafea hingga gelas itu terjatuh ke atas rumput sintetis.
"Arghhhh!" teriak Syafea yang tangannya terkena cakaran kucing kesayangan milik Zayd tersebut.
"Astaghfirullah ...." ucap Aletta sambil memundurkan langkahnya dengan segera.
__ADS_1
Zayd yang melihat hal itu segera berlari untuk melihat keadaannya. Akan tetapi bukannya melihat ke arah Syafea yang terluka ia justru menghawatirkan Aletta.
"Kamu tidak kenapa-napa, 'kan?"