ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 25. GUNDAH


__ADS_3

Bagaikan bangun dari mimpi saat ini Syafea sudah siuman. Akan tetapi ia histeris ketika menyadari kakinya dibalut dengan perban dan salah satunya tergantung ke atas.


Tangannya mengusap keningnya yang merasa tebal dan ternyata lilitan perban juga berada di dahinya. Teriakan Syafea membuat para suster yang kebetulan lewat kamar rawatnya segera memasuki ruangan dan mencoba menenangkan keadaan Syafea.


"Nyonya, Nyonya mohon tenang ya ... semuanya akan baik-baik saja saat ini."


Kedua tangan Syafea sampai dipegang oleh para suster agar ia tidak memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Kenapa dengan tubuhku? Kenapa semua dibalut dengan perban!" teriak Syafea tidak terima.


"Nyonya tenang dan biarkan kami menjelaskan semuanya."


"Tenang kata kalian! Melihat kondisi saya seperti ini kalian bilang saya harus tenang! Dasar gi-la!" pekik Syafea kesal.


Merasa jika kondisi psikis Syafea tidak sedang baik-baik saja, membuat salah satu dari tenaga medis itu menghubungi pihak keluarganya.


"Katakan, dimana suami saya, cepat panggilkan dia!"


"Maaf, Nyonya. Suami Anda telah keluar dari Rumah Sakit ini dua hari yang lalu."

__ADS_1


"A-apa! Nggak, nggak mungkin dia meninggalkan saya sendirian di sini!"


"Sebuah kenyataan yang harus Anda ketahui adalah suami Anda juga mengalami amnesia. Sehingga saat ini ia tidak mengingat apapun. Akan tetapi fisiknya tidak terluka parah seperti Anda," ucap salah seorang dokter muda yang terlihat tampan dan berwibawa.


Kedua mata Syafea membulat sempurna. Ia tidak habis pikir dengan ulah keluarga Zayd yang kini terlihat dominan di sini.


Tangan Syafea mengepal ketika menyadari hal itu. Hampir saja air matanya tumpah saat menyadari takdir yang menimpanya saat itu.


Umi yang sedang meracik makanan sehat untuk Aletta seketika menghentikan kegiatannya karena mendengar dering telpon. Sama halnya dengan Aletta yang sedang bersantai.


Kedua wanita di rumah itu tampak berjalan ke arah yang sama. Akan tetapi Umi justru mengangkat telepon itu terlebih dahulu.


"Salam, maaf dengan kekuarga Nyonya Syafea?"


"Iya, maaf ini dari mana?"


Suster tersebut langsung mengatakan tentang keadaan Syafea yang histeris. Tentu saja senyuman Umi memudar ketika mengetahui hal tersebut. Di tambah lagi ketika mereka menyadari jika Syafea meminta Zayd untuk datang ke Rumah Sakit saat ini.


Melihat kepanikan Umi, firasat Aletta mengatakan jika akan ada sesuatu hal yang tidak mengenakan setelah ini. Meskipun begitu Aletta seolah bersikap biasa saja.

__ADS_1


Setelah sambungan telepon itu terhenti, terlihat jika Umi memegang kedua tangan Aletta.


"Syafea sudah sadar dan saat ini ia meminta Zayd untuk datang ke sana."


Aletta mengusap punggung tangan Umi. Lalu mengajaknya untuk duduk bersama.


"Kenapa Umi terlihat mencemaskan aku, bukankah Kak Syafea siuman itu adalah sebuah anugrah. Cepat atau lambat ia pasti akan siuman dan mencari suaminya, Mas Zayd."


Ucapan Aletta yang menenangkan jiwa membuat Umi semakin takut jika yang diucapkan Aletta hanyalah kiasan di bibir saja. Umi tahu jika sebenarnya di dalam hati Aletta, ia tidak mau berbagi suami.


Meski pada kenyataannya ia hanya sebagai istri kedua. Lebih tepatnya hanya istri yang dipinjam rahimnya oleh putra dan menantunya, Syafea.


"Kenapa hatiku merasa tidak tenang, Ya Allah. Apakah ini artinya aku sudah menaruh hati pada Mas Zayd. Terlebih lagi beberapa hari ini hubungan kami semakin membaik."


Sontak Aletta menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku hanya bekerja di sini. Bukan kapasitasku untuk meminta hal yang lebih dari ini. Bagaimanapun aku hanya orang luar yang terpaksa hadir di dalam mahligai rumah tangga Kak Syafea dan Mas Zayd."


Sementara itu Umi merasa tidak adil saat ini. Sebagai seorang wanita biasa, Umi sangat melarang poligami. Akan tetapi hal yang menimpa rumah tangga putranya ternyata lebih pelik daripada hal itu.

__ADS_1


"Bagaimana caraku untuk berterus terang dengan Zayd?" gumam Umi terlihat kebingungan.


__ADS_2