
Merasa jika harga dirinya telah diinjak-injak oleh istri pertama Zayd, Aletta tidak mau tinggal diam. Bagaimana pun ia calon ibu yang harus mempunyai hati lembut tetapi juga bisa menjadi tangguh ketika ia disakiti.
Ucapan Syafea memang pedas, bahkan lebih pedas daripada boncabe level lima puluh. Akan tetapi Aletta bukanlah wanita yang harus bersabar dalam setiap hinaan yang diberikan oleh Syafea.
"Perlu Anda ketahui jika saat ini saya sedang mengandung calon anak dari suami Anda. Seorang anak yang sangat diinginkan kalian inginkan sejak lama. Bahkan mungkin diinginkan oleh semua orang terutama pihak keluarga Mas Zayd."
"Bukankah begitu Nyonya Syafea Azzalea yang terhormat."
Meskipun bibir Aletta bergetar saat mengucapkan kalimat-kalimat pedas tadi, sesungguhnya di dalam hati Aletta ia menangis sejadi-jadinya.
Sakit, rasanya sangat sakit ketika kehadiran kita dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Padahal sejatinya jika boleh memilih ia tidak akan pernah mau bertemu ataupun berurusan dengan sepasang suami istri ini.
Umi yang melihat kerapuhan di dalam bola mata Aletta segera mendatanginya.
"Sepertinya ucapan dari Aletta sudah mewakili semua isi hati Umi, dan kamu Zayd ... silakan selesaikan masalahmu dengan istri pertama-mu secara baik-baik."
"Terlalu lama berada di dalam rumah tangga kalian akan membuat kondisi psikis Aletta memburuk dan itu akan berakibat fatal kepada calon bayi yang sedang dikandung olehnya."
Ucapan dari Umi seolah membuka mata tentang siapa wanita yang seharusnya menjadi istrinya. Tidak perlu menunggu waktu lama lagi saya bangkit dari tempat duduknya dan hendak meninggalkan Syafea sendirian.
Syafea yang bisa membaca gelagat Zayd segera mencekal tangan suaminya agar tidak pergi.
"Mas, mau kemana? Aku masih sakit, Mas?" ucap Syafea seolah memohon.
Zayd seolah tidak mau lagi berada di dalam ruangan tersebut. Di tambah lagi penolakan yang dilakukan oleh Syafea membuat hati Aletta sakit.
Meskipun ingatan Zayd belum pulih ia masih bisa berpikir dengan jelas. Memilah mana yang baik dan mana yang buruk.
__ADS_1
"Maafkan aku, Syafea. Jika anak yang dikandung Aletta sampai kenapa-napa karena hal ini, maka aku tidak akan bisa memaafkan hal ini begitu saja."
Ucapan Zayd memukul habis pertahanan cinta di dalam hatinya. Air matanya luruh sudah. Hal ini terjadi di luar kemauannya. Meskipun Umi melihat hal itu, ia tidak memberikan pernyataan apapun lagi dan lebih memilih untuk meninggalkan ruang rawat Syafea.
Namun, bagaimana pun Zayd bersikap jika ia melihat air mata seorang wanita sudah pasti tidak akan tega. Maka dari itu Zayd berbalik lalu memberikan sebuah sapu tangan untuk istri pertamanya itu.
"Jangan menangis, simpan ini, maaf aku harus segera pulang."
"Zayd Abdullah maaf, aku meminta maaf kepadamu untuk semua sikapku pada Aletta."
Dengan bibir bergetar ia menarik tangan suaminya itu. Hingga mau tidak mau Zayd berbalik dan kembali duduk di kursi dekat brankar istrinya.
"Aku sudah memaafkanmu, tetapi tanyakan sendiri bagaimana dengan Aletta. Dia juga wanita sepertimu. Bahkan ia jauh lebih muda tetapi ini apa? Kamu menghina harga dirinya di depanku dan Umi. Di mana rasa kasih sayangmu itu?"
Zayd tampak memijit pelipisnya. Belum lama setelahnya ternyata Uminya kembali masuk ruangan. Ia menatap tajam ke arah menantu dan juga putranya.
"Zayd temanilah istrimu, Aletta!"
Setelah berpamitan kini tinggallah Syafea yang masih terisak dengan Umi di samping brankarnya.
"Lihat aku, Syafea. Aku ingin berbicara kepadamu."
"Ya, Umi."
Umi memegang tangan Syafea lalu menatapnya dengan lembut. Ia tahu betul kondisi di dalam rumah tangga putranya sama sekali tidak sehat. Maka dari itu ia ingin menyelesaikan hal ini secepatnya.
"Syafea bolehkah Umo bertanya tentang beberapa hal tentangmu?"
__ADS_1
"Tentang apa Umi?"
"Apakah kau masih mencintai putra Umi?"
"Ma-maksud Umi?" tanya Syafea tampak tergagap."
"Jika kamu sudah tidak mencintai Zayd, maka sebaiknya kamu merelakan Zayd untuk Aletta."
"A-apa! Bagaimana Umi bisa menyimpulkan sesuatu secara sepihak?"
"Aku tidak pernah mengajari Zayd untuk berpoligami. Bahkan jika Umi yang dihadapkan tentang hal itu sudah pasti kondisi Umi tidak akan sesehat ini."
"Lalu kenapa kamu sebagai seorang perempuan justru memaksa suami kamu untuk melakukan hal itu?"
"Aku tahu jika sebelumnya Zayd sudah pasti menolak ajakanmu untuk meminjam rahim wanita lain demi memuaskan ambisimu untuk bisa memiliki keturunan. Bukankah begitu?"
Beberapa kalimat yang diucapkan oleh Umi adalah sebuah gambaran sederhana yang akan ia lalui setelah ini. Akan tetapi ketika Syafea sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani pada Zayd, sudah pasti putranya itu akan semakin mencintai Aletta. Maka dari itu sebelum luka besar itu semakin menganga Umi menanyakan hal ini pada Syafea.
"Jika kamu masih belum bisa memastikan apapun, Umi pamit dulu. Ingat jangan biarkan Zayd terlalu lama menunggu. Sementara itu janin yang dikandung Aletta akan semakin berkembang."
Pikiran Syafea benar-benar kalut hingga ia tidak bisa memutuskan hal ini dengan segera.
"Maaf Umi, Syafea meminta waktu lebih untuk berpikir dengan tenang."
"Baiklah dan beristirahatlah dengan baik. Kami pamit dulu."
Sepeninggal Umi, Syafea terlihat uring-uringan.
__ADS_1
"Kamu harus tegas Syafea, harta kekayaan Zayd belum sepenuhnya kamu ambil. Untuk memudahkan langkah kamu, harus menunggu sampai anak kalian lahir nanti."
"Akan tetapi jika Zayd harus memilih seharusnya ia memilih aku bukan dia!"