
"Tarik nafas, buang ... tarik nafas ... buang ...."
"Erggh!"
"Emph!"
Rasanya seperti tulang rusuk yang remuk seketika namun harus bisa menahannya. Aletta hanya meringis lalu sesekali mer-e-mas tangan kekar milik Zayd Abdullah.
"Kamu pasti kuat, Sayang. Percayalah ada kami di sini yang selalu mendampingimu."
Meski samar-samar, Aletta mencoba menahan rasa kantuknya agar ia tetap tersadar selama proses persalinan berlangsung.
"Semoga tidak terjadi apa-apa kali ini, Aamiin."
Di sela-sela acara mengejan, Zayd masih melantunkan doa-doa untuk keselamatan istri dan calon anaknya. Ia berdoa sepenuh hati agar dirinya mampu bertahan selama Aletta masih membutuhkan dirinya.
"Ya, Allah semoga Aletta dan calon bayi kami selamat, Aamiin."
Buliran-buliran keringat mengucur deras dari kening Aletta. Tangan Zayd sejak tadi terus menjadi pelampiasan karena rasa sakit yang dirasakan oleh Aletta terasa amat sangat menyiksa.
__ADS_1
Ingin berhenti berjuang akan tetapi ia tetap melanjutkan persalinan normal demi menuntaskan tugasnya sebagai seorang surrogate mother. Penantian mereka akhirnya selesai.
Suara tangis bayi terdengar membahana di ruang persalinan tersebut. Sangat keras hingga membuat air mata Aletta mengalir tanpa permisi. Begitu pula dengan suaminya yang sama halnya dengan Aletta menangis tanpa permisi.
Dokter Michael menggendong bayi yang baru saja lahir tersebut dan menyerahkan pada Zayd.
"Sambutlah dia sama seperti pertama kali agamamu menyambut kedatangan seorang bayi suci."
Zayd tersenyum lalu segera menerima bayinya dan segera mengumandangkan adzan dan Iqamah secara bergantian di telinga kanan dan kiri milik bayi laki-lakinya itu.
"Terima kasih, Sayang," bisik Zayd sambil mengecup pucuk kepala Aletta.
Aletta masih tergugu sekaligus merasa bahagia karena saat ini ia telah menjelma seperti seorang ibu yang sesungguhnya.
Bayi yang masih merah itu akhirnya berhasil masuk dalam gendongan Aletta setelah beberapa saat sempat digendong oleh Zayd. Setelah dibersihkan tampak jika kini bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut tersenyum dan tampak tenang.
Insting bayi yang baru saja lahir adalah mencari sumber nutrisi kehidupannya, maka dari itu ia pun mulai mencari tempat ternyaman untuk meminum ASI pertamanya.
"Dia lapar, Sayang."
__ADS_1
Aletta tersenyum, "Iya, boleh minta tolong nggak, Bi?"
"Boleh, apa yang tidak boleh dilakukan olehmu, Sayang?"
Zayd menoleh ke arah dokter Michael dan memberikannya sebuah kode agar semua kaum laki-laki keluar dari ruangan bersalin. Beruntung dokter Michael adalah sosok yang peka sehingga ia segera menjalankan kode dari Sandi.
Setelah semua proses selesai, maka tenaga medis laki-laki dan Zayd keluar dari ruang bersalin sampai proses menyusui selesai. Sambil menunggu, Zayd dan dokter Michael saling menatap satu sama lain.
"Ada apa, Mich?"
"Bukannya tidak ingin menjawab, akan tetapi bukankah sebaiknya kamu juga mengunjungi Syafea?"
Zayd mengusap gusar wajahnya. Jauh di dalam hatinya ia tidak mau bertemu dengan Syafea kembali. Namun, saat melihat kondisi istri dan anaknya baik-baik saja tiba-tiba saja terbesit rasa ingin bertemu dengannya. Apalagi dulu Syafea yang membantu dan memaksanya agar menikah dengan Aletta.
"Tapi tidak sekarang, kan?"
"Kalau hal itu terserah kamu, yang terpenting saat ini, Aletta dan bayinya selamat. Kau bisa datang ke kamar Syafea tanpa harus terlihat baik-baik, saja."
"Aamiin."
__ADS_1
......................
Terima kasih untuk semua waktu dan tenaga dari para readers. Maafkan up masih seperti ini, semoga saja kalian tetap sabar untuk menunggu.