ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 65. KEPLESET


__ADS_3

Rupanya kaki Aletta yang licin membuatnya jatuh terpeleset. Hingga badannya jatuh ke bawah. Takut terjadi apa-apa dengan kandungannya, Aletta pun berteriak. Sementara itu Zayd masih pusing dengan kondisi Syafea.


"Kali ini, Aletta harus tahu yang sebenarnya. Tidak mungkin juga membuatnya menunggu lama, di tambah lagi saat ini ia sedang hamil besar."


Keputusan untuk mengajak Aletta pergi menjenguk Syafea sudah bulat. Tidak mau menunggu waktu lama lagi, kini Zayd segera mencari Aletta sesaat setelah sambungan teleponnya terputus dengan dokter Michael.


Zayd ingin menjelaskan keadaan istrinya tersebut kepada Aletta agar tidak terjadi kebohongan kenapa ia sering menghilang akhir-akhir ini.


"Semoga Aletta bisa menerima hal ini, jika tidak jika tidak, maka satu-satunya pilihan adalah ia harus segera menceraikan Syafea dan lalu menikah resmi dengan Aletta."


Dengan langkah besar Zayd mencari keberadaan istrinya itu. Namun, ia tidak kunjung menemukan Aletta. Diluar dugaan rupanya saat ini Aletta justru terbaring di lantai dengan kaki dialiri oleh cairan kental berwarna merah.


"Ya Allah, tolong lindungi bayi ini. Ia tidak bersalah Ya Allah," ucap Aletta sambil mengusap perutnya sudah besar.


Bagaimana ia tidak panik, ini merupakan kehamilan pertamanya dan karena hal itu pula ia terjebak dalam kasus surrogate mother.


"Sayang kamu di mana?" teriak Zayd menyusuri lorong kamar.


Saat ia mendengar isak tangis dari walking closed, Zayd segera mendatangi tempat tersebut dengan berlari. Betapa paniknya Zayd ketika melihat kaki istrinya berlumuran cairan kental berwarna merah pekat.


Dengan berlari ia menghampiri keberadaan Aletta dan segera mengangkat tubuh Aletta yang sudah sedikit lemas. Sepanjang perjalanan Aletta hanya meminta maaf terus pada Zayd.


"Maaf, Bi. Maaf ...."

__ADS_1


"Jangan banyak bergerak ya, Sayang. Kita ke Rumah Sakit, sekarang!"


Pikiran Zayd langsung dipenuhi dengan kondisi Aletta dan calon bayinya. Beruntung ia masih bisa berpikiran jernih dan akhirnya bisa membawanya pergi ke Rumah Sakit. Tidak lupa ia membaringkan istrinya dengan posisi nyaman.


Zayd masih ingat betul dengan pesan yang diberikan padanya agar selalu siaga dan jangan panik jika terjadi sesuatu pada kehamilan Aletta. Tidak berselang lama, kontraksi yang dirasakan oleh Aletta semakin terasa.


Tangan mungilnya sampai beberapa kali memegang salah satu tangan Zayd dengan keras. Hampir saja tercakar kalau ia memiliki kuku panjang. Zayd bisa paham jika rasa sakitnya pasti membuat siapapun tidak akan tega melihatnya. Maka dari itu Zayd meminta Aletta agar berdoa dan berdzikir.


Aletta mengangguk patuh, mulutnya langsung bertasbih sepanjang perjalanan. Fokusnya hanya pada keselamatan sang calon bayi. Kini ia hanya bisa pasrah dengan keselamatannya.


Rupanya kondisi jalanan sangat ramai di jam itu membuat Zayd tidak bisa berjalan cepat. Mobilnya terjebak di dalam kemacetan. Tidak mau terjadi apapun, ia segera menghubungi Rumah Sakit agar mengirimkan ambulan.


Di sisi lain, Umi dan keluarganya sedang makan siang. Entah kebetulan atau tidak, ia menyenggol mangkuk yang baru saja digunakan hingga membuat denting nyaring di lantai.


"Astaghfirullah ...."


"Ada apa? Tidak biasanya Umi ceroboh seperti ini?"


"Nggak tau Abah, tetapi perasaanku tidak enak. Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba saja kepikiran Aletta dan Zayd?"


"Sudahlah, Umi. Kita berdoa yang baik-baik saja untuk Aletta dan Zayd."


Umi hanya bisa menghela nafasnya. Akan tetapi perasaan cemasnya sama sekali tidak bisa berkurang.

__ADS_1


"Ya Allah, lindungilah menantu dan putraku," doa Umi di dalam hatinya.


Perasaan tidak nyaman semakin dirasakan Aletta. Kontraksi yang terjadi semakin sering terasa. Keringat dingin mengucur deras di keningnya.


"Kenapa sakit sekali," cicitnya.


Zayd mengusap lembut perut Aletta lalu menunduk untuk mendoakannya. Ajaib, rupanya perutnya sudah tidak lagi bergejolak lagi saat ini.


"Alhamdulillah, sudah tidak terlalu sakit lagi, Mas."


"Syukurlah kalau begitu."


Sepasang suami istri itu akhirnya bisa bernafas lega. Bunyi alarm sirine ambulans sudah terdengar membelah jalanan.


"Alhamdulillah, pertolongan Allah sudah datang, Sayang."


Aletta mengangguk lalu sesaat kemudian ia justru pingsan.


"Astaghfirullah Aletta Sayang, bangun!" pekik Zayd panik.


Kepayahan yang dirasakan Aletta memang wajar terjadi. Apalagi kontraksi yang dirasakan calon ibu ketika hendak melahirkan memang sangat menyakitkan. Semoga saja Aletta dan bayinya selamat ya. Aamiin.


......................

__ADS_1


Maaf upnya belum bisa crazy up ya, sambil nunggu mampir ke sini dulu. Makasih.



__ADS_2