
Bukannya mendapatkan perhatian dari Aletta, tetapi Zayd justru membuat suasana pagi itu terasa menggelikan, karena tiba-tiba saja saat Zayd melangkah handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya terlepas. Sontak saja terpampang nyata tubuh Zayd saat ini dan membuat kedua mata Aletta membola.
"Astaghfirullah, Bi!" pekiknya kesal.
Bagaimana Aletta tidak kesal, sementara itu ia justru melihat hal yang seharusnya tidak dilihatnya sekali lagi. Namun, hal yang tidak terduga justru membuat semuanya terlihat sangat indah.
Kikuk, tentu saja. Beruntung Zayd segera mengambil handuk dan berlari ke walking closed.
"Astaga, apa yang barusan aku lakukan?"
Zayd merutuki sikapnya. Melihat ada celah, Aletta segera mengambil selimut untuk melilit tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi. Ia pun melakukan mandi junub sama seperti yang dilakukan oleh suaminya barusan.
Ada rasa malu yang membuncah di dalam hati dan pikirannya Aletta. Namun, setelahnya ia menunduk karena takut jika suatu saat semua bayangan indah yang mereka bina akan hancur karena Syafea.
"Ya Tuhan, bagaimana kabar Kak Syafea?"
"Kenapa bisa lupa akan hal itu?"
Aletta mengusap gusar wajahnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana amarah Syafea saat itu. Tidak mau berlama-lama di sana, Aletta segera menuntaskan keinginannya dan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Rambut lurus sebahu yang basah dan kimono mandi dengan perut buncit membuat Aletta terlihat manis dan menggoda. Begitulah lukisan Alletta di dalam bola mata Zayd. Namun, saat Zayd tidak bisa menjaga pandangannya, Aletta mencebik kesal.
"Bi, balik badan cepat!"
"Memangnya kenapa, Sayang? Bukankah suamimu ada di hadapanmu? Memangnya buat siapa lagi pemandangan indah ini?" ucap Zayd tanpa rasa bersalah.
Bagaimana pun ucapan dari Zayd adalah sebuah kebenaran. Akan tetapi Aletta belum siap, sehingga saat Zayd mengatakan itu, ia pun kurang suka dan hendak berbalik. Sayang, sandal yang dipakai Aletta selip dan membuatnya hampir jatuh.
Beruntung, Zayd dengan sigap menangkap tubuh indah Aletta yang biasa tertutup dengan gamisnya itu. Kedua mata mereka saling beradu. Teringat perbuatan mereka semalam, Aletta pun menyingkirkan tangan suaminya.
"Ma-maaf Bi, tapi terima kasih," ucap Aletta sambil malu-malu.
Seketika ia teringat pesan dari dokter Michael.
"Oh, ya. Kalau begitu biar Abi hubungi dia dulu ya."
Aletta mengangguk. Lalu Zayd segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Michael.
"Astaga, kau kemana saja Zayd? Istrimu sudah mau bunuh diri dan kau ...."
__ADS_1
Tampak dokter Michael sudah mengepalkan tangannya karena geram pada sikap Zayd. Harusnya ia sadar dengan konsekuensinya memiliki dua istri. Akan tetapi saat ia mengetahui jika Zayd tidak berlaku adil pada salah satu istrinya seperti ini, ingin rasanya dokter Michael memukul sahabatnya itu.
"Kenapa lagi dengan wanita itu?"
"Zayd, sadar ... diluar sikap Syafea yang suka mengatur dan selalu menang sendiri dia juga adalah istrimu, bahkan saat ini dialah yang sudah mempertemukan kamu dengan Alleta!"
Zayd mengusap gusar wajahnya. Ia sangat paham dengan ucapan dokter Michael barusan.
"Iya, tetapi pengkhianatan cinta yang dilakukan olehnya sama saja telah memutus tali pernikahan kamu!"
"Terserah apa mau kamu, tetapi yang jelas jika terjadi apapun dengan Syafea, di mata keluarganya kamu adalah orang pertama yang akan bertanggung jawab karena kamu adalah suaminya Syafea!"
Deg, seolah sedang berperang dengan pemikirannya, Zayd seolah limbung. Kebahagiaan yang akan direncakan di masa depan bersama Aletta sepertinya akan banyak penghalang. Lagi pula Syafea sudah pasti sangat membenci Aletta.
Meski pada awalnya ia juga yang menjadi perantara saat pernikahan keduanya dengan Aletta. Bahkan Syafea adalah saksi kunci bagaimana pernikahan mereka sah atau siri dan ada wali dari pihak Aletta yang sebenarnya.
Ketakutan itu bahkan membuat Zayd tidak mendengar teriakan dari Aletta.
"Mas, tolo-ong!"
__ADS_1
Hayo, yang nungguin kelanjutan kisah Zayd, Aletta dan Syafea sabar ya, sambil nunggu up mampir ke sini yuk.