
Syafea merasa terkejut karena rupanya ibu mertua dan keluarga besarnya datang. Namun, di dalam kesempatan ini Syafea akan menggunakan dengan sebaik mungkin.
Bersandiwara tentang apa yang menurutnya tidak pantas tetapi sangat penting untuk kelangsungan pernikahannya dengan Zayd. Di tambah lagi dengan Aletta yang sudah melahirkan, jelas membuat posisinya terancam.
"Assalamu'alaikum, Umi, Abah, Tante dan Paman?"
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Kamu sakit apa, Syafea?"
"Eh, enggak sakit apa-apa kok, cuma harus bedrest di sini selama beberapa hari di sini."
"Oh, kirain karena kesehatan kamu terganggu seperti jiwamu," sindir salah satu Bibi Zayd.
Tentu saja ucapan dari Bibi Zayd melukai hati Syafea. Akan tetapi ia tetap berusaha yang terbaik saat ini dengan menunjukkan ekspresi tenangnya.
"Jaga ucapanmu, kita ini sedang menjenguk anggota keluarga kita juga," ucap Abah menengahi percakapan mereka yang menjurus menyalahkan Syafea atas hadirnya Aletta.
Semua terdiam ketika Abah mulai bertindak. Tentu saja mereka tidak ada yang berani mengucapkan kata-kata menyakitkan lagi pada Syafea. Padahal tadi Bibi Zayd hanya ingin membalas sakit hatinya pada Syafea.
Di awal pernikahan antara Syafea dan Zayd, wanita itu sangat sombong dan angkuh. Para anggota keluarga Abdullah, ayah Zayd sangat tidak suka akan kehadiran Syafea. Ketidak sukaan mereka bertambah ketika Zayd mengalami hypotermia dan dinyatakan sakit sehingga membuat Syafea tidak kunjung hamil.
Setahu mereka di dalam Keluarga Abdullah sama sekali tidak ada yang mandul. Semuanya bisa memiliki keturunan. Akan tetapi opini Syafea semakin membuatnya tidak disukai oleh para anggota keluarga.
Saat Syafea masih berbincang-bincang dengan keluarga suaminya, Aletta semakin cemas. Ia sangat paham dengan posisi dirinya yang menjadi orang ketiga. Hingga pemikirannya mengatakan jika dirinya pasti tidak diterima di dalam keluarga Abdullah.
"Bagaimana jika mereka justru memihak pada Kak Syafea?"
Seketika Aletta teringat akan pandangan dari Paman dan Bibi suaminya. Dari tatapan mereka Syafea bisa menilai jika semuanya seolah mengintimidasi keberadaannya yang hadir di dalam Keluarga Zayd.
Aletta semakin cemas, hingga ia tidak sadar jika dokter Rafa sudah berada di dalam kamarnya. Ia menatap pilu gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Meski tahu jika Aletta pernah hamil, tetapi ia sadar jika Aletta hanya menjadi surrogate mother.
Sehingga tentu saja ia masih bisa menjadi memiliki Aletta jika masa kontrak mereka selesai. Dokter Rafa sama sekali tidak peduli dengan masa lalu Aletta, karena sesungguhnya cinta tidak mengenal sebuah alasan, "Kenapa harus mencintai dia?"
__ADS_1
"Haruskah aku pergi dari sini? Kenapa juga harus terjebak dalam situasi yang sangat rumit seperti ini?" gumam Aletta sangat cemas.
Di sisi lain, Syafea juga merasa tidak nyaman dan semakin gelisah karena semua pertanyaan dari Keluarga Zayd menuntut penjelasan kenapa ia justru meminta suaminya sendiri menikah dengan wanita lain. Hampir semua ucapan mereka menyudutkan Syafea dan memihak pada Zayd.
Penilaian mereka tidak ada yang menyalahkan jika saat ini Zayd lebih cinta pada Aletta dibandingkan dengannya. Buktinya apa yang dituduhkan Syafea terbukti sebuah kebohongan besar. Dari pernikahan siri antara Zayd dan Aletta, mereka sudah melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki.
"Hanya demi membuktikan jika suami kamu tidak menderita hypospermia dan bisa memiliki keturunan, dengan seenak hati kamu justru menyuruh suamimu untuk melakukan sebuah pernikahan lagi. Sesungguhnya dimana hati nurani kamu, Syafea?"
"Ya, ditambah lagi kamu seolah tidak menganggap kami ada. Ketika kamu justru merancang sebuah skenario yang mengatakan jika Zayd sakit dan membuatmu tidak bisa hamil."
"Tahukah kamu, istri kedua Zayd bahkan sudah melahirkan seorang bayi laki-laki untuk kami!"
Syafea melotot ke arah para anggota Keluarga Zayd saat ini. Dipandanginya satu persatu dari mereka. Sementara itu Umi menarik keluar Abah untuk dibawa kembali ke kamar Aletta dan membiarkan Syafea mendapatkan apa yang telah diperbuat olehnya.
"Umi, apa kita tidak terlalu jahat dengan Syafea?"
"Umi tidak tahu, Abah. Pastinya hati Umi terasa sakit saat melihat Syafea diintimidasi oleh mereka semua. Akan tetapi hal ini tidak sebanding dengan apa yang telah diperbuat pada putra kita."
"Sudah mengunjungi Syafea-nya?"
"Sudah, Sayang, sebaiknya kita pergi ke kamar Aletta. Umi sudah kangen ingin memeluk dan mengendong cucu pertama kita."
Raut wajah bahagia, tentang apa yang terjadi di dalam keluarga ini. Apalagi saat ini sudah pasti Aletta akan memikat hati kedua orang tuanya. Sejak pertemuan mereka pertama kali, Umi memang sudah menjatuhkan pilihannya pada Aletta. Ia sama sekali tidak mau membuat Aletta bersedih, karena isi dari perjanjiannya dengan Syafea.
"Sial! Sepertinya sulit sekali menaklukkan anggota Keluarga Abdullah. Lalu dimana Zyad saat ini berada?"
Bukan hanya Aletta dan Syafea yang ketakutan dengan pemikiran mereka masing-masing. Zayd juga merasakan jika masalah mereka sangat pelik. Sehingga tidak akan mudah mendapatkan jalan temu.
Ruang rawat Aletta.
"Astaghfirullah, dokter Rafa? Sejak kapan Anda berada di situ?"
"Sejak kamu mulai mencuri hatiku, Alletta."
__ADS_1
Aletta hanya bisa tersenyum sumbang ke arahnya. Lain lagi jika Zayd melontarkan gombalan receh yang sudah pasti membuat Aletta klepek-klepek.
"Dokter ini bicara apa? Jangan membuat suasana semakin pelik, dok!"
"Bukannya pelik, tetapi salahkan takdir kenapa kita justru bertemu di waktu yang salah!"
Aletta yang semula membuang muka kini justru menatap lelaki yang bukan suaminya itu. Ada rasa ketakutan ketika dokter Rafa justru mengucapkan semua isi hatinya. Aletta yang mendengar derap langkah kaki menuju kamarnya semakin cemas.
"Stop! Suamiku akan segera kembali. Tolong jaga sikap dan ucapan darimu, dokter.
Benar saja sesaat setelah Aletta menyelesaikan ucapannya, pintu ruang rawatnya terbuka lebar. Sosok lelaki yang menjadi suaminya telah kembali.
"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap Umi dan Abah yang ternyata juga turut masuk ke dalam ruang rawat Aletta.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aletta dan dokter Rafa kompak.
"Sedang diperiksa ya, Rafa?"
"Iya, Umi."
Meskipun terlihat baik-baik saja, tetapi sesungguhnya dokter Rafa semakin cemas akan kondisinya di sana.
Dokter Rafa yang merasa terpojok. Tanpa memperdulikan keberadaan Zayd dan kedua orang tuanya, ia terus berpura-pura memeriksa kondisi kesehatan Aletta.
Aletta hampir ditarik, tetapi tangan dokter Rafa lebih dulu menyentuhnya. Tidak lupa ia memberikan kode agar Aletta bekerja sama untuk berpura-pura sedang diperiksa.
"Apa-apaan sih, pake pegang-pegang segala!" ucap Aletta dengan sorot mata tajam ke arah dokter Rafa.
"Sekali ini saja, Aletta. Tolong bantu aku!" ucap dokter Rafa dengan isyarat mata untuk Aletta.
Meski rasa cinta untuk Aletta begitu besar, untuk saat ini ia baru bisa menyatakan isi hatinya. Sementara ia akan membiarkan takdir berjalan, dan jika ada sebuah kesempatan lagi, dokter Rafa tidak akan menyia-nyiakan dirinya.
"Please, beri aku kesempatan," ucap dokter Rafa di dalam hatinya.
__ADS_1