
"Apakah tanganmu masih merasa sakit?" tanya Zayd dengan lembut ketika ia memberikan susu ibu hamil pada Aletta.
Aletta menggeleng dengan perlahan lalu mengambil gelas susu yang diberikan oleh suaminya. Melihat Aletta semakin patuh padanya membuat Zayd jatuh cinta semakin dalam pada istri keduanya itu.
Sambil menunggu istrinya minum susu, Zayd menoleh ke arah sekeliling. Dilihatnya sebuah kitab suci yang berada di atas nakas tepat di samping tempat tidur Aletta.
"Kamu habis membaca Al Qur'an, ya?"
"Iya, Abi ... karena adek bayi merasa tenang kalau dibacain surat-surat pendek, makanya aku sekarang lebih sering membaca Al Qur'an di saat aku senggang."
"Syukurlah kalau begitu. Itu artinya kamu sudah memberi pelajaran tahap awal yang baik kepada calon putra kita sebelum ia lahir."
Aletta tersenyum menanggapi ucapan dari suaminya. Namun, sampai saat ini Aleta belum berani menatap wajah suaminya tersebut. Setiap kali bertemu ia selalu saja menundukkan pandangannya. Hal itu tentu saja membuat Zayd terusik untuk mencoba lebih dekat lagi dengan Aletta.
Tangan Zayd menyentuh dagu Aletta untuk melihat dengan lebih jelas bagaimana kecantikan istrinya itu. Tentu saja kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Ternyata kamu sangat cantik, Aletta. Sayangnya, perbedaan usia kita terlalu jauh. Apa kata orang-orang di luar sana ketika mengetahui jika aku suami kamu?"
Entah kenapa tiba-tiba terbesit sebuah keraguan. Hal itu sukses membuat Zayd merasa tidak pantas menjadi suami Aletta. Meskipun di dalam hatinya rasa itu telah tumbuh subur di sana.
"Ada apa Abi? Apakah caraku minum susu belepotan kembali?"
Tangan Aletta berusaha menghapus sisa susu yang berada di bibirnya, tetapi hal yang tidak pernah ia duga adalah Zayd menghapus sisa noda tersebut dengan bibirnya.
Kecupan dari bibir yang lembut itu sukses membuat wajah Aletta merona. Meski hanya sebentar tetapi mampu membuat kupu-kupu berterbangan di dalam perut Aletta.
Belum lagi tangan lembut itu mengusap wajah Aletta dengan perlahan. Salah satu tangannya mendekap tubuh Aletta dan sisi lainnya mendekatkan wajah keduanya.
Aletta membiarkan suaminya melakukan hal itu. Hingga tidak berapa lama, decapan demi decapan itu terdengar mengalun indah di dalam kamar Aletta.
Keempat mata mereka terpejam, saling menikmati kegiatan yang baru saja dilakukan. Saling bertukar saliva, mendecap segala rasa yang ada di dalamnya.
Permainan lidah dari Zayd itu benar-benar membuat Aletta lupa siapa dirinya saat itu. Di awali dengan kecupan lembut hingga semakin lama semakin menye-sap dalam, diiringi dengan nafas memburu ternyata mampu membuat keduanya terbuai.
Aletta yang tidak mahir dalam berciuman hanya bisa mengikuti alur yang diciptakan oleh suaminya. Semakin lama semakin dalam hingga Aletta tersengal karena kehabisan nafas.
__ADS_1
"Sorry ...." ucap Zayd dengan raut wajah bersalah
Seiring dengan berjalannya waktu usia kandungan Aletta berjalan, maka sejauh itu pula rasa cinta Zayd pada Aletta. Cinta setelah menikah rupanya jauh lebih manis daripada pacaran sebelum menikah.
Kebetulan Syafea mau menjalankan rencananya hari ini, tetapi ketika melihat interaksi Zayd pada Aletta justru membuat Syafea semakin dibakar api cemburu.
"Harusnya tempat itu untukku, akan tetapi kenapa kamu justru mengambilnya, Aletta?"
Umi yang baru saja memotong buah-buahan segar hendak membawanya ke dalam kamar Aletta.
"Ibu hamil biasanya paling suka ngemil buah, kalau begitu biar aku potong menjadi dua piring. Satu untuk Abah, satunya lagi untuk menantu tercinta."
Umi benar-benar membawa potongan buah itu ke kamar Aletta. Akan tetapi langkah Umi terhenti ketika melihat Zayd sedang bercengkrama dengan Aletta, sementara itu di depan kamar terdapat Syafea dengan kursi rodanya.
"Sejak kapan Syafea jadi suka menonton kemesraan suaminya sendiri? Benar-benar wanita yang aneh!" gumam Umi tetap melanjutkan langkahnya.
Umi sengaja berdehem agar Syafea menyingkir dari jalannya. Tentu saja respon Syafea cepat dan langsung menyingkir. Ia tampak menghindari tatapan mata yang berasal dari ibu mertuanya. Entah mengapa Syafea merasa kesal ketika bertemu dengan Umi.
"Kamu ngapain disini, bukankah seharusnya kamu banyak istirahat di dalam kamar?"
Mendengar adanya percakapan di depan pintu sukses membuat kedua pasangan yang baru berciuman tadi salah tingkah. Sama seperti orang yang kepergok berbuat mesum, keduanya bahkan berjalan cepat ke arah pintu.
Tidak lupa Aletta membetulkan pasmina yang ia pakai. Benar saja sesaat kemudian, Syafea melihat jika Zayd dan Aletta mencoba berjalan ke arahnya.
"Umi, Syafea? Kenapa kalian ada di sini?" tanya Zayd tegas.
"Tentu saja mau mengantarkan potongan buah segar ini untuk ibu hamil."
Aletta yang berada di belakang tubuh Zayd muncul ke depan dan mengambil nampan itu dari Umi. "Terima kasih, Umi."
"Sama-sama, Sayang."
Tatapan Umi kembali mengarah ke arah Zayd. "Pastikan istrimu memakan habis potongan buah dari Umi itu ya, Zayd. Umi mau calon cucu tumbuh sehat di dalam rahim Aletta."
Syafea yang mendengar hal itu lantas mendongak ke atas Umi. Hatinya merasa sakit karena perbedaan sikap yang diberikan kepadanya benar-benar membuatnya marah.
__ADS_1
"Tentu saja, Umi. Kalau begitu Zayd minta tolong antarkan Syafea ke kamar terlebih dahulu, biar Zayd memastikan Aletta makan dengan benar."
Umi tersenyum mengetahui sikap Zayd yang terkesan ada udang di balik bakwan.
"Hm, kayaknya bikin camilan udang di balik bakwan enak nih," ucap Umi sambil mendorong kursi roda Syafea kembali ke kamarnya.
Blush
Seketika wajah Zayd dan Aletta sama-sama memerah karena ucapan dari Umi barusan.
"Umi paling the best, deh!" ucap Zayd sambil mengarahkan jari jempolnya ke arah Sang Ibu.
Sementara itu Aletta segera berbalik ke kamar. Saat hendak menutup pintu, dengan sengaja Zayd meletakkan salah satu kakinya ke dalam. Tentu saja karena hal itu Aletta tidak bisa menutup pintu.
Dengan wajah malu-malu, Aletta mendongakkan wajahnya. "A-abi ingin apa?"
Zayd memegang salah satu daun pintu sambil tersenyum menatap istri mudanya yang manis.
"Tentu saja memastikan kamu memakan habis potongan buah tersebut."
"Ha-ah! Ta-tapi ...."
"Nggak ada tapi-tapian, karena aku ...."
Tangan Zayd sukses menutup pintu hingga rapat. Sementara itu Aletta sudah berjalan mundur hingga tubuhnya membentur sisi tepi tempat tidur.
Tubuh Aletta terduduk pasrah di atas tempat tidur. Potongan buah yang berada di atas piring sudah berhasil pindah ke atas nakas. Tubuh Zayd pun semakin berjalan mendekatinya.
"Ya, Tuhan ... Mas Zayd ingin apa?" tanya Aletta di dalam hati dengan gugup.
"Aletta, aku menginginkan kamu, bolehkah aku melakukan itu ...."
Bisikan halus dari bibir Zayd membuat tubuh Aletta seolah tersengat aliran listrik. Apakah akan ada kejadian manis setelah ini?
to be continued yaðŸ¤
__ADS_1