
Sepulang bekerja, seperti biasa Althaf akan mengemudikan mobil pribadinya sampai ke rumah. Saat ia melintasi sebuah tempat, rupanya ia melihat seorang wanita yang sedang berjalan cepat.
"Kenapa wanita itu seolah sedang meminta perlindungan?"
Althaf yang tidak tega melihat seorang wanita berjalan kepayahan segera menepikan mobilnya ke sisi jalan.
"Assalamu'alaikum ukhti," sapa Althaf saat pertama kali bertemu dengan Aletta.
"Wa'alaikumsalam," ucap Aletta dengan nafas terengah-engah.
Rupanya badannya tidak segesit dulu. Baru berjalan beberapa meter ia sudah kepayahan. Maka dari itu Aletta berhenti untuk sesaat.
"Apakah ukhti butuh tumpangan?"
Ketika Aletta berada di posisi terjepit saat ini, ia hanya bisa terlihat pasrah. Di tambah lagi Aletta sedang hamil muda, maka dari itu ada perubahan yang kentara di dalam dirinya. Menjadi cepat lelah dan letih.
Merasa jika Alleta terdiam, Althaf menyadari kewaspadaan yang ditunjukkan Aletta kepadanya. Bukannya membentak, Althaf justru bersikap lembut.
Ia keluar dari mobil dan memperlihatkan kartu indentitas miliknya.
...---------¤----------...
...[Nama: Althaf Al-farizi]...
...[Umur: 22 tahun]...
...[Kewarganegaraan : Indonesia]...
...[Pekerjaan : Pebisnis]...
...---------¤----------...
Entah mengapa, Aletta langsung merasa aman dan nyaman ketika Althaf berhasil membawanya masuk ke dalam mobil. Namun, rupanya sepanjang perjalanan sama sekali tidak ada percakapan lagi di antara keduanya.
Sikap waspada yang ditunjukkan oleh Aletta rupanya justru membuat Althaf semakin penasaran dengan sosok Aletta. Bagaimana pun wajah cantik khas Asia yang dimiliki olehnya mampu membuat Althaf menaruh hati kepadanya.
"Biarkan untuk sementara waktu dia tenang terlebih dahulu baru menanyakan identitas dirinya."
Di dalam perjalanan itu yang terlihat hanyalah hamparan pohon sakura di sepanjang jalan. Maka dari itu bukannya tenang, Aletta justru semakin merasa aneh.
"Sepanjang perjalanan ini yang terlihat hanyalah hamparan pohon-pohon sakura? Untung saja ketemu Tuan ini, semoga saja dia adalah orang yang baik."
__ADS_1
Seolah bisa membaca pikiran Aletta, Althaf membiarkannya terdiam sepanjang perjalanan.
Beruntung saat melarikan diri Aletta masih bisa bertemu dengan orang baik yaitu orang yang sama merantau ke negeri tersebut dan berasal dari Indonesia. Sehingga mereka bisa berbincang-bincang dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Akhirnya perjalanan panjang dirinya bisa berlabuh di sebuah tempat hunian yang tidak terlihat mewah tetapi cukup aman untuk bersembunyi.
"Nah, untuk sementara waktu karena kamu masih terlihat ketakutan, maka tinggallah di sini dulu sampai kamu merasa aman."
Althaf mulai menuntun langkah Aletta hingga masuk ke dalam rumahnya.
"Terima kasih, Tuan."
Sekali berbicara, Aletta justru memanggil dirinya dengan Tuan, tentu saja Althaf protes akan hal itu.
"Jangan panggil Tuan, karena bukan majikan kamu. Anggap saja kita berteman, bagaimana apakah kamu keberatan?"
Aletta menggeleng.
"Kalau begitu panggil saja Althaf, kalau kamu?"
"Aletta, panggil saja begitu."
Senyuman yang terukir di wajah lelaki tampan yang mengaku bernama Althaf, rupanya mampu membuat Aletta tersipu. Wajah tampan dan kebaikan hatinya mengingatkan Aletta pada Zayd.
"Astaghfirullah, apa yang barusan dilakukan?
Aletta tampak merutuki sikapnya karena mencuri pandang ke arah Althaf. Rupanya lelaki itu tahu jika Aletta mencuri pandang ke arahnya.
"Gadis yang manis," gumam Althaf.
Aletta ternyata tidak mampu menolak tatapan menyejukkan dari Althaf. Mungkin karena lelaki tersebut juga seorang muslim, maka dari itu ia berperilaku santun.
Awalnya ada sebuah rasa takut ketika Aletta harus berdekatan dengan dia. Akan tetapi lelaki tersebut mampu memberikan kenyamanan sehingga ketakutan di dalam hati Aletta perlahan menghilang.
Lelaki tersebut bahkan membawanya pulang ke dalam kediamannya dan memperkenalkannya kepada seluruh anggota keluarga yang berada di sana. Lagi-lagi keberuntungan Aletta, mereka menerima dengan baik kehadirannya di sana.
"Assalamu'alaikum," ucap Althaf ketika pertama masuk rumah.
"Wa'alaikum salam," jawab seorang gadis manis seusia Aletta muncul dari dalam.
Gadis itu langsung bersalaman dan mengecup tangan Althaf. Takut jika Aletta berpikir yang tidak-tidak, dengan segera Althaf memperkenalkan Aletta pada adiknya.
__ADS_1
"Nah, kalau ini namanya Emily. Dia adikku yang tinggal bersamaku di rumah ini. Statusnya masih pelajar kok."
"Oh, kenalkan Aletta."
"Hai, kak Aletta. Sepertinya kita seumuran ya?"
Aletta hanya mengulas senyumnya sedikit saja. Emily yang awalnya menempel pada kakaknya segera mengajak Aletta untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Sepertinya kakak terlihat capek, ayo masuk! makanan kesukaan kakak sudah matang, lo."
Althaf tersenyum dan mengusap gemas pucuk kepala Emily. Tidak lupa ia juga mengajak Aletta untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayo, Kak Aletta juga masuk!"
Tanpa rasa sungkan Emily justru menggandeng Aletta dan Althaf secara bersamaan di tangan kanan dan kirinya. Althaf menoleh ke arah Aletta.
"Jangan takut sama adikku, ya. Dia memang berperilaku seperti ini pada semua orang."
"Iya."
Tentu saja Emily tidak terima karena kakaknya justru sudah memberikan warning tentangnya.
"Apa-apaan, nggak begitu kok Kak Aletta. Aku memang langsung akbrab dengan siapapun."
"Hu-um."
Merasa tidak enak dengan keluarga yang baru saja ditemuinya, Aletta hanya mengulas senyum ketika mereka berperilaku ramah kepadanya. Sama seperti yang ditunjukkan oleh Emily dan Althaf berikan padanya.
Sesampainya di dalam rumah, Althaf permisi untuk ke kamarnya. Sedangkan Emily membawa Aletta ke dalam kamar tamu agar bisa digunakan olehnya untuk istirahat.
"Nah, Kak Aletta ini kamar kamu untuk sementara waktu."
"Terima kasih banyak, Emily."
Merasa jika Aletta masih belum bisa terbuka dengan mereka, Althaf meminta pada diri dan adiknya agar tidak terlalu banyak bertanya pada Aletta untuk sementara waktu.
Meski baru beberapa kali berbincang, Aletta sudah bisa menyimpulkan jika keluarga Althaf adalah orang yang baik. Hanya saja Aletta memang masih membatasi komunikasi dengan mereka.
"Maaf jika kebungkaman ini membuat kalian justru menaruh curiga kepadaku," gumam Aletta.
"Semoga saja setelah ini, ayahmu akan segera menemukan kita."
__ADS_1