ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 33. TAKUT SALAH


__ADS_3

Dalam sekejab, Zayd segera tersadar dengan apa yang ingin diperbuat olehnya. Dengan segera ia merapikan pakaiannya dan meminta maaf pada Aletta.


"Maaf, aku khilaf, Dek."


Begitu pula dengan Aletta yang kemudian membetulkan pasmina miliknya dan juga pakaiannya. Beruntung keduanya hanya sempat bersentuhan tangan, belum sempat terbuka auratnya.


Zayd masih ragu dengan apa yang sedang dilakukan oleh istrinya saat melibatkan Aletta dalam urusan keturunan. Mereka terpaksa menyewa rahim Aletta karena alasan kesehatan. Padahal hukum tentang menyewa rahim pada wanita lain sebenarnya masih menimbulkan banyak perdebatan.


Di antaranya adalah praktek sewa rahim ini lebih banyak menimbulkan kemudharatan yang jauh lebih banyak daripada manfaat yang di dapat. Meskipun sebelum melakukan hal tersebut ia sudah menikahi Aletta secara siri dengan membeli wali nikah, dikarenakan kondisi ayahnya yang tidak bisa hadir saat itu karena kondisinya kritis di Rumah Sakit.


Saat ini Zayd juga ragu apakah saat itu Aletta benar-benar meminta ijin untuk mewalikan nikahnya pada orang lain atau semua ini sudah diatur oleh Syafea sehingga wali nikah mereka palsu. Kalau iya, tentu saja pernikahan mereka tidak sah.


Saat cinta untuk Aletta muncul setelah menikah pun Zayd juga tidak bisa secara langsung berhubungan badan dengan istrinya. Di satu sisi ingin melakukan pembaruan nikah, tetapi istrinya sedang dalam kondisi hamil.


Di tambah lagi, Zayd teringat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang menganut mahzab Syafi'i, dimana pernikahan dalam hamil itu sah, tetapi tidak boleh melakukan hubungan suami istri hingga istrinya melahirkan dan melalui masa nifas.


Di antara banyaknya dilema yang ia rasakan akhirnya Zayd memutuskan untuk lebih menahan diri pada Aletta. Akibatnya saat ini, Zayd hanya bisa melakukan sentuhan tangan dan bibir itupun jika khilaf, selayaknya mahrom pada umumnya.


Keduanya tampak canggung dengan kondisi barusan, lalu daripada semakin terjebak situasi, Zayd memilih untuk keluar. Sebelum sampai di pintu, ia menoleh dan mengucapkan sesuatu pada istrinya, "Dek, jangan lupa potongan buahnya dimakan!"

__ADS_1


"I-insyaAllah, Abi."


Perasaan gugup sebenarnya juga dirasakan oleh Aletta, apalagi ketika ia belum terlalu yakin dengan status pernikahan yang pernah ia lakukan dengan Zayd.


Dalam perjalanan ke kamarnya, pikiran Zayd masih diliputi perasaan bersalah karena hampir saja ia melakukan hubungan suami istri. Padahal ia baru bisa melakukan hal itu setelah kurang lebih delapan bulan lagi. Itu pun menurut pemahamannya.


Ia tidak mau dianggap melakukan zina, di atas pernikahan mereka yang masih diragukan. Namun, niat untuk menikahi Aletta secara sah menurut agama dan hukum sudah menjadi tekad bulatnya.


"Tahan, tahan Zayd. Bunga itu belum terlalu mekar. Kamu harus bisa menahan syahwatmu," bisik Zayd terus menyemangati dirinya.


Padahal justru karena itu, sehingga seringkali membuat Zayd hampir kehilangan kesadarannya. Aletta sungguh memenuhi standard istri Solehah untuknya. Sehingga sangat wajar jika Zayd justru semakin jatuh cinta pada dirinya.


"Tunggu delapan bulan lagi, kamu pasti akan merasakan malam pertama dengan Aletta. Selama masa menunggu, sebaiknya aku perbanyak puasa dan menahan diri agar tidak khilaf."


Beruntung, Zayd bukan tidak tipikal lelaki murahan yang suka melampiaskan hasrat pada perempuan di jalanan hanya demi memuaskan syahwat. Zayd topikal lelaki setia. Buktinya kalau bukan demi membahagiakan Syafea, tidak mungkin ia mau menikah lagi.


Keesokan harinya. Aletta bukanlah seorang wanita yang bisa diam saja ketika melihat ada banyak pekerjaan rumah belum dikerjakan. Meskipun mereka sudah menyewa asisten rumah tangga, buktinya Aletta tetap meminta pakaian miliknya akan dicuci sendiri.


Sama seperti biasa, setelah berolahraga pagi, Zayd akan bersantai di belakang rumah. Kebetulan Aletta sedang menjemur pakaian di sana. Dengan rasa penasaran kini Zayd mulai memperhatikan Aletta yang sedang menjemur pakaian.

__ADS_1


Secara reflek, Zayd berlari untuk menopang tubuh istrinya yang tiba-tiba saja hampir kepleset karena genangan air saat mencuci membuat kaki Aletta slip.


"Aaargghhh!"


Grep, Zayd berhasil menangkap tubuh istri kecilnya.


"Hati-hati ya, Dek ... kamu sedang hamil."


"I-iya, A-abi ...."


Sekali lagi Zayd membuat detak jantung Aletta menjadi tidak sehat karena harus lari maraton ketika tangannya menyentuh pinggang dan tubuhnya.


"Ya Allah, lindungi hamba dari perasaan yang salah ini," gumam Aletta sambil menunduk.


"Astaghfirullah, maafkan aku dek."


Zayd kembali membuang wajahnya karena ia juga merasa malu dan takut jika membuat Aletta tidak nyaman dengan sikapnya barusan.


"Semoga Aletta tidak marah karena aku kembali menyentuhnya, Aamiin."

__ADS_1


__ADS_2