
Setelah Baby Noe selesai menyusui, saat ini Aletta segera memberikan bayinya kembali kepada suster untuk ditidurkan di box bayi yang akan dipersiapkan di kamarnya nanti. Sementara itu tubuh Aletta yang letih segera dirawat oleh para suster untuk dibersihkan dan diganti bajunya dengan pakaian yang bersih setelah proses melahirkan.
Banyak hal yang akan dipersiapkan Zayd untuk menyambut kedatangan Baby Noe dan Aletta. Namun sayang, saat ini Zayd harus menemui Syafea terlebih dahulu.
"Apakah harus menemuinya?" tanyanya dalam hati.
"Kenapa langkah kaki ini terasa sangat berat, rasanya sangat tidak mungkin membagi cintaku padanya lagi."
Keraguan yang dirasakan oleh Zayd begitu terasa besar, hingga saat ini langkahnya semakin berat ketika hampir sampai di ruang inap Syafea.
Benar saja, semakin ia melangkah maka keraguan dan beban di kedua kaki Zayd seolah bertambah. Hingga beberapa saat kemudian semua terasa tidak mudah, meski hanya untuk membuka handle pintu.
Salah seorang suster yang melihat hal itu tiba-tiba saja kakinya tergiring untuk sampai di sana dan menyapa Zayd yang masih terdiam membisu.
"Maaf, Pak. Ada perlu apa berdiri di depan ruangan? Kenapa tidak masuk saja?"
"Eh, i-iya Sus."
Setelah beberapa saat rupanya dokter Michael juga mengetahui jika Zayd tidak mungkin semudah itu untuk memaafkan Syafea dan sampai mengunjunginya, maka dari itu ia bergegas untuk mencarinya.
Sesuai dugaan yang ia dapatkan, kali ini rupanya Zayd memang tidak bisa secara langsung masuk ke dalam ruang rawat Syafea yang melainkan justru masih berdiri dan mematung di depan kamarnya. Tentu saja hal itu membuat dokter Michael harus menghela nafas panjangnya.
Dilihat dari sudut pandangannya yang sudah dewasa, tetapi pemikiran masih seperti anak kecil membuat dokter Michael bergumam, "Kenapa bisa mempunyai sahabat seperti dia?" ucap dokter Michael merutuk di dalam hati.
Dengan sigap dokter Michael segera menghampiri Zayd dan menegurnya.
"Mau sampai kapan kau harus berdiri di sini?"
__ADS_1
Sontak saja Zayd menoleh, "Kau, mengagetkanku saja?"
Merasa jika kali ini banyak sekali hal mengejutkan, membuat Zayd segera memegang handle pintu dan terlihatlah Syafea yang tersenyum manis kepadanya.
"Hai ...."
"Assalamu'alaikum, Mas "
Hati Zayd berdenyut saat melihat semua hal yang terjadi di sana seolah sedang memancingnya agar hatinya kembali melembut dan menerima keadaannya. Sayang, rasa cinta itu sudah pupus sejak kebohongan Syafea terbongkar satu persatu.
"Wa'alaikumsalam."
"Kenapa diam disitu? Apakah harus ku susul kamu di sana?"
"Tidak perlu, kedatangan saya ke sini hanya ingin melihat apakah kamu sudah baik-baik saja atau belum? Karena pasalnya Aletta saat ini sudah melahirkan, jadi sebaiknya kau urungkan saja niatmu untuk bisa kembali ke sisiku!"
Deg, seolah sedang dirundung masalah yang tiada henti, hati Syafea berdenyut mendengarkan ucapan dari suaminya tersebut. Bagaimana bisa ia mendapatkan masalah seperti saat ini, padahal Syafea benar-benar ingin membina hubungan rumah tangga kembali dengan suaminya tersebut.
"M-mas!" teriak Syafea.
Melihat kondisi yang tidak terkontrol, dokter Michael memegang lengan Zayd dan menatapnya penuh arti.
"Zayd, turunkan egomu. Syafea juga istrimu, bukankah kau pernah bilang jika seorang hamba Allah yang sudah bertaubat tetap bisa mendapatkan ampunan juga dari manusia yang pernah dikecewakan?"
Zayd menoleh ke arah dokter Michael.
"Mungkin saja benar, akan tetapi hal itu sama sekali tidak berlaku untukku. Bagaimana pun saat ini Syafea bukan lagi istriku, karena surat perceraian sudah dalam proses dan dia hanya bisa menunggu surat itu datang!"
__ADS_1
Mendengar kata cerai dari Zayd, seketika Syafea menangis histeris. Ia merasa hidup sangat tidak adil padanya. Di tambah lagi ucapan Zayd barusan bukan seperti sikap Zayd yang biasanya.
"Kau pasti berbohong, aku tidak akan pernah mau bercerai padamu!"
Zayd menoleh dan menatap Syafea dengan penuh arti.
"Maaf, tapi detik ini pula aku mentalaqmu Syafea Azalea!"
"Tidaaak!"
Syafea tampak semakin histeris mendengar ucapan Zayd barusan. Tanpa menunggu atau berbelas kasihan padanya, Zayd segera melangkah pergi. Di dalam hati kecilnya ia sudah tidak bisa mentolerir hal seperti itu lagi.
Perselingkuhan, kebohongan yang dilakukan olehnya selama beberapa bulan terakhir. Hingga sabotase perusahaan yang membuat perusahaan miliknya hampir bangkrut. Belum lagi ditambah kehamilan Syafea bersama lelaki lain tidak akan bisa dimaafkan begitu saja oleh Zayd.
Kejam, tentu saja. Akan tetapi tidak ada hal yang lebih tepat lagi selain melakukan hal seperti itu padanya. Dokter Michael hanya mematung ketika melihat situasi pelik yang terjadi di antara kedua sahabatnya itu. Ia juga tidak menyangka jika Zayd akan melakukan hal seperti ini di saat yang tidak tepat.
Kondisi psikis Syafea setelah kehilangan bayinya membuatnya belum pulih. Hingga ucapan dari suaminya barusan membuat Syafea hampir hilang kesadaran.
"Bagimu mungkin hal ini akan indah, tetapi bisa dipastikan jika kamu juga tidak pernah bahagia dengan Aletta, Mas!" ucap Syafea penuh amarah.
Sementara itu, kini Zayd sedang berjalan kembali ke arah istrinya. Pada saat yang bersamaan dokter Rafa mendekati ruang bayi. Ia memang spesial dokter ibu dan anak. Sehingga ia juga bertugas untuk memantau perkembangan bayi yang baru lahir.
"Ini adalah putra dari pasangan Zayd Abdullah dan Ibu Aletta yang baru saja lahir beberapa jam yang lalu, dokter."
"Baik, terima kasih untuk penjelasannya, sus."
"Sama-sama."
__ADS_1
Setelah suster itu pergi, dokter Rafa memeriksa Baby Noe. Dokter Rafa melihat detail struktur wajahnya.
"Kenapa wajahnya sangat mirip dengan seseorang, tetapi siapa ya?" ucapnya penuh tanya.