ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 86. HAL YANG TIDAK DIINGINKAN


__ADS_3

Betapa bahagianya Aletta bisa bertemu dengan ayahnya. Tangis haru yang selama ini tertahan kini mulai luruh sudah. Aletta begitu bahagia hingga membuat semua orang yang berada di sana terharu.


Tidak ingin mengganggu kebahagiaan istrinya, Zayd memilih untuk berdiri di sudut ruangan dan memberikan waktu kepada Aletta dan bapaknya menumpahkan rasa kasih sayang yang mereka pendam selama ini.


"Bapak, gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah sangat baik. Bagaimana dengan kamu? Kenapa berada di Rumah Sakit?"


Aletta tersenyum kaku, ia pun bingung bagaimana menjelaskan semuanya saat ini. Zayd yang semula berada di sisi ruangan segera datang menghampiri. Iya tahu ketakutan apa yang sedang dirasakan oleh Aletta maka dari itu ia pun berusaha untuk mendekati sang istri dan menjelaskan semuanya.


"Assalamu'alaikum ...." sapa Zayd ramah kepada mertuanya.


"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya hampir bersamaan.


Aletta menoleh ke arah pintu dan tersenyum. Lelaki yang telah mencuri hatinya kini mulai mendekati brankarnya. Akan tetapi Zayd mengisyaratkan agar ia saja yang memberitahukan siapa dirinya.


"Maaf, Nak ini siapa, ya?"


"Saya suami Aletta, Pak. Lebih tepatnya suami sirinya."


"Kok siri?" tanya Pak Rahmat kebingungan.


"Karena kami memang belum melegalkan hal tersebut dikarenakan sesuatu hal."


"Oh, ya sudah nggak apa-apa, yang penting kalian berada di sini dan Bapak bisa bertemu dengan putri Bapak."


"Iya, alhamdulilah."

__ADS_1


Dokter Safa tertegun dengan pertemuan itu. Kedua matanya berkaca-kaca saat ini. Ia membayangkan jika pertemuan mereka itu adalah gambaran kakaknya yang telah meninggal.


Begitu pula dengan kedua mata Pak Rahmat yang berkaca-kaca. Beliau tidak menyangka jika putrinya sudah menikah. Pak Rahmat pun kembali menoleh ke arah Aletta lalu bergantian pada Zayd.


"Oh, ya kalian juga belum menjawab pertanyaan Bapak kenapa Aletta dirawat di Rumah Sakit, memangnya sakit apa?"


Tanpa terasa, hidung Aletta kembali mimisan. Ingatan Pak Rahmat kembali berputar ke beberapa tahun yang lalu ketika Aletta masih anak-anak dan dokter telah memberi gambaran tentang penyakit yang diderita Aletta, tetapi beliau tidak mempunyai cukup uang dan membiarkan hal itu tanpa seorang pun tahu.


Bahkan ibunya pun meninggal dengan penyakit yang sama. Seketika kepala Pak Rahmat berdenyut kencang karena terlalu sakit.


"Astaghfirullah, apa yang harus aku lakukan? ya Allah, jangan kau ambil putriku seperti engkau mengambil bidadariku ..." gumam Pak Rahmat.


Sementara itu Zayd segera menghubungi dokter karena panik. Dokter Safa yang kebetulan berada di sana dan merupakan dokter spesialis penyakit dalam ikut memeriksa Aletta.


Prediksi sementara yang disematkan pada Aletta tetap mengacu pada penyakit kanker, tetapi para tenaga medis masih menunggu tentang hasil lab yang akan keluar sore ini.


"Sabar, Pak. Kita berdoa saja untuk semua hal yang terbaik untuk putri Bapak."


FLASH BACK OFF


"Maaf ya, Pak. Jika nanti usia ibu tidak bisa berlama-lama untuk menemani keluarga kecil kita, ibu minta maaf."


"Ibu ini ngomong apa?"


"Ibu hanya takut jika nanti penyakit ini menurun pada calon anak kita."


"Hust, nggak boleh ngomong begitu. Ibu hamil berdoanya yang baik-baik."

__ADS_1


Ibunda Aletta tampak mengusap perutnya yang buncit. Bagaimana pun ia tetap berpikiran jika penyakit yang dideritanya akan diwariskan kepada calon anaknya.


Dokter memang sudah mengatakan hal itu, tetapi ia belum mengatakan hal itu pada suaminya. Ketakutan itu kemungkinan akan terjadi karena presentasinya 80%.


Keringat dingin mengucur ketika persalinan Aletta. Kondisi fisik sang ibu yang tidak bisa bertahan karena penyakitnya membuat ia harus melahirkan secara caesar. Sayang, sebelum ia bisa memberikan ASI pada Aletta, penyakit itu menggerogoti usianya. Ibunda Aletta tutup usia setelah 3 hari pasca melahirkan.


Sejak saat itu Aletta diasuh sendirian oleh Pak Rahmat. Hingga sebuah kejadian membuat beliau harus selalu waspada akan segala kemungkinan yang terjadi pada Aletta.


Ia memang tumbuh menjadi anak perempuan yang ceria dan cerdas. Suatu hari ia ikut pelajaran olah raga dan tanpa sengaja, kepalanya terkena lemparan bola hingga membuatnya mimisan.


Bukan hanya sampai di sana, tetapi mimisan Aletta tidak mudah berhenti dan beberapa jam kemudian terulang. Hingga akhirnya dokter menyarankan agar Aletta di tes lab. Dari sanalah kisah pilu berawal.


"Maaf putri bapak mewarisi penyakit yang diderita oleh mendiang ibunya. Hal ini mungkin tidak akan terlalu berbahaya jika diobati sejak dini."


"Apakah tidak ada cara lain, dok?"


"Ada, yaitu pengobatan terus menerus, tetapi tetap disarankan untuk periksa rutin. Mumpung belum terlalu beresiko sebaiknya dioperasi saja agar meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan."


"Terima kasih, dok. Saya pikirkan terlebih dahulu di rumah."


"Ya, sudah jangan lupa tebus obat di apotek ya, Pak."


"Siap, terima kasih, dokter."


"Sama-sama."


Sejak saat itu, Aletta mengkonsumsi obat-obatan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu dan mimisan Aletta tidak kambuh, maka Pak Rahmat tidak lagi memeriksa keadaan Aletta di Rumah Sakit. Padahal penyakitnya masih dipantau secara langsung oleh dokter.

__ADS_1


Keterbatasan biaya membuat Pak Rahmat menganggap hal itu tidak akan pernah terjadi. Sayang, Tuhan mempunyai rencana lain. Penyakitnya semakin tumbuh meski tidak terdeteksi secara langsung. Apalagi Aletta mempunyai kondisi fisik yang kuat.


Kondisi pasca melahirkan membuatnya rentan, sehingga memudahkan penyakit Aletta seolah kambuh dan mengancam nyawanya. Akankah ada kebahagiaan yang bisa diraih Aletta saat ini jika tahu akan penyakitnya?


__ADS_2