
Beberapa waktu telah berlalu, kini Zayd sudah diperbolehkan untuk pulang. Sementara itu Syafea harus rawat intensif di Rumah Sakit. Kedua kakinya harus diperiksa secara berkala.
Saat ini kedua orang tua Zayd sedang berada di dalam ruangan itu untuk melihat bagaimana dokter menjelaskan indentifikasi tentang kesehatan Zayd dan juga menantunya Syafea.
"Jadi, putra kami sudah diperbolehkan pulang?"
"Tentu saja, tetapi untuk Nyonya Syafea ia masih bagus di rawat intensif di sini!"
"Baiklah, kalau begitu biarkan kami mengurus beberapa hal untuk kepulangan Tuan Zayd Abdullah."
"Silakan, Nyonya."
"Apa yang harus kita lakukan setelah ini Abah?"
"Biarkan saja seperti ini, semua sudah menjadi takdir Zayd dan juga Syafea. Sebagai orang tua kita hanya mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita."
Satu jam kemudian, akhirnya mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Aletta, kamu duduk di belakang bersama suami kamu, ya?" pinta Umi pada menantunya tersebut.
"Iya, Umi."
Dengan patuh, kini Aletta duduk menemani Zayd di kursi jok belakang. Sejak awal masuk Aletta menundukkan pandangannya terhadap Zayd. Duduk pun masih berjauhan.
__ADS_1
Padahal Zayd tampak biasa saja, di tambah lagi dengan posisi Aletta yang tidak bergerak selama perjalanan membuat Zayd ingin sekali menyentuh tangan istri keduanya itu.
"Kenapa ia selalu menundukkan pandangannya terhadapku?" tanya Zayd di dalam hati.
"Bagaimana pun aku akan tetap mencoba untuk berkomunikasi dengannya?"
Kecanggungan terjadi ketika Zayd yang lupa ingatan harus duduk berdampingan dengan Aletta di jok belakang ketika mereka kembali ke rumah. Hal yang sama juga dirasakan oleh Aletta manakala jemari tangan Zayd mencoba menggenggam tangan mungilnya.
Tentu saja akibat Zayd yang menyentuh tangannya Aletta menjadi gugup.
"Apakah benar kamu adalah istri keduaku?" tanya Zayd dengan tutur kata lembut.
"Astaga, dia mengajakku bicara, bagaimana ini?"
"Aletta, aku tanya sekali lagi. Apakah kau benar-benar istri keduaku?"
"Iya, Tuan."
"Jangan panggil aku Tuan, bagaimana jika kau memanggilku dengan sebutan Abi."
Zyad benar-benar memperlakukan Aletta dengan sangat lembut. Hal itu sukses membuat Aletta salah tingkah. Mulut Aletta menganga akibat hal itu, lalu ia segera kembali pada kesadarannya. Bahkan karena hal itu pula Zayd tersenyum.
"MasyaAllah Tuan Zayd begitu tampan, pantas saja Nyonya Syafea selalu menjaganya?"
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah kau keberatan?"
"Ti-tidak Tuan, eh Abi."
"Baiklah kalau begitu kamu harus berjanji kepadaku tentang hal ini! Kamu mengerti?"
Zayd mengulurkan tangannya ke arah Aletta dan disambut dengan tangan mungilnya.
"Janji."
"Terima kasih."
Akan tetapi tiba-tiba ia terbayang dengan Syafea. Bagaimana pun ia selalu ingat ucapannya kepada Syafea yang tidak akan menaruh hatinya pada sang suami.
"Kamu tidak ada hak untuk merebut Zayd dariku, bagaimanapun kamu hanyalah pemilik rahim pengganti untuk anakku!"
"Jika saja janin itu bisa berkembang di dalam rahimku sendiri sudah pasti aku tidak membutuhkan kehadiranmu!"
Ucapan dari Syafea bagaikan sindiran halus untuk dirinya. Meskipun ia hanya meminjamkan rahimnya tetapi perkataan dari Syafea seolah menginjak harga dirinya sebagai seorang wanita. Jika saja ia tidak membutuhkan banyak uang sudah pasti Aletta tidak akan melakukan hal tersebut.
Aletta memendam semua bebannya sendirian. Kini saat sepasang suami istri itu kecelakaan ia bingung dalam bersikap. Apalagi kini Umi seolah mendekatkan hubungan di antara mereka berdua.
"Tidak ada yang salah di sini, semuanya terjadi karena takdir Allah, percaya sama Umi."
__ADS_1
"Bagaimana caraku untuk bersikap ya, Allah? Aku tidak tahu apakah ini benar-benar takdir yang harus aku jalani? Seharusnya aku tidak berada di sini saat ini?"
Ketika waktu terus berjalan, Aletta hanya melewatinya dengan melamun. Zayd yang memiliki sikap dasar perhatian dan saling mengasihi menumpahkan segala perhatiannya kepada Aletta. Apakah benih-benih cinta akan bersemi di dalam hatinya?