
Namun Aletta tidak percaya begitu saja. Ia masih belum pernah melihat lelaki di hadapannya tersebut. Lagi pula Umi pernah mengatakan jika pernikahan Zayd dengan dirinya masih dirahasiakan diantara keluarga besarnya.
Jadi tidak mungkin melibatkan keluarga dari suaminya tersebut. Umi pernah mengatakan jika tidak ada yang lebih mengetahui Aletta kecuali Zayd, Umi dan Syafea.
"Jangan berbohong, Tuan. Lagi pula Umi hanya mempunyai dua orang putra dan yang satunya sangat anti pergi ke luar rumah. Jadi tidak mungkin bisa datang kemari. Pasti Anda berbohong."
"Gadis yang manis, ternyata kau sangat pintar."
Benar saja tiba-tiba saja lelaki tersebut mendekati Aletta dan memberikan sebuah sapu tangan yang berisikan obat bius dan dibekapkan kepada mulut Aletta. Tenaga kecil yang dimiliki oleh Aletta ternyata tidak mampu menandingi tenaga yang dimiliki oleh lelaki tersebut.
Hanya membutuhkan beberapa menit saja Aleta pun akhirnya tidak sadarkan diri tentu saja hal itu mempermudah penculikan yang dilakukan oleh Hyu Jin.
"Anak yang manis, sebaiknya kamu menurut. Andaikan sejak awal kamu menurut, sudah pasti tidak akan menjadi seperti ini. Tunggu dulu ternyata kamu sangat manis."
__ADS_1
Tangan Hyu Jin mengusap wajah cantik Aletta.
"Kulitmu sungguh sangat lembut dan kenyal, sayang sekali kamu sudah mengandung, andai kita bisa bertemu lebih awal pasti semuanya tidak akan seperti ini."
Sambil melakukan seperti itu Hyu Jin pun menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk melihat situasi sekitarnya.
"Sepertinya Tuhan mendukung semua sikapku," ucap Hyu Jin di dalam hati.
Situasi yang sepi dan mendukung membuat lelaki tersebut dengan bebas bisa membawa Aletta pergi tanpa diketahui oleh pihak Rumah sakit. Persiapan yang dilakukan sangat tepat. Dengan mendandani Aletta seperti orang biasa dan memakai kursi roda. Mereka bisa keluar dari sana dan langsung dimasukkan Aletta ke dalam mobil.
"Kerja yang sangat bagus. Aku sangat senang jika kau bisa menyelesaikan hal ini dengan lebih cepat. Dengan begitu saya tidak akan memikirkan wanita tersebut. Lagi pula ibu mertuaku tidak ada di sini," ucap Syafea dengan bangga.
Ternyata kedua orang itu sangat cocok untuk menjadi penjahat. Buktinya demi memenuhi ego dan ambisi mereka sampai melakukan hal-hal yang tidak benar. Bahkan mencelakai Aletta dan jabang bayi Zayd.
__ADS_1
"Kamu tidak akan pernah lagi bisa mendekati suamiku lagi Aletta. Aku tidak membutuhkan lagi anakmu, buktinya aku sendiri bisa hamil saat ini. Nanti aku tinggal berbicara dengan Zayd, atau melakukan hubungan suami istri dengannya. Setelah itu kami bisa mengakui anak ini sebagai anakku dan Zayd. Dengan begitu harta dan warisan dari Keluarga Zayd bisa jatuh ke tanganku."
Syafea benar-benar merasa menang saat ini. Namun, ia tidak mengetahui hal buruk sedang mengintai di belakang. Hyu Jin bukan orang bodoh yang bisa ditipu oleh siapa saja dengan sesuka hati. Jika ia menginginkan sesuatu sudah pasti Hyu Jin telah memperhitungkannya sejak awal.
Bahkan untuk menculik Aletta pun ia sudah memikirkan hal tersebut jauh sebelum ia memberikan gambaran tentang kehidupan di masa depan bersama Syafea.
Zayd yang baru saja pulang dari membeli makanan begitu terkejut karena kamar rawat Aletta kosong. Ia mencari sampai ke kamar mandi dan semua sudut ruangan, hasilnya ternyata sama sekali tidak bisa menemukan Aletta.
Betapa paniknya Zayd saat itu, hingga ia langsung menekan tombol nurse call. Beberapa saat kemudian muncullah beberapa tenaga medis yang mendekati ke ruang rawat Aletta. Sama seperti Zayd, mereka menanyakan keberadaan pasien.
Namun tuduhan itu ditepis oleh Zayd karena ia baru saja kembali dari luar membeli makanan. Langsung saja ia menanyakan kemana perginya Aletta.
Maka gemparlah seluruh Rumah Sakit. Zayd langsung meminta pihak Rumah Sakit untuk mempertanggung-jawabkan keselamatan istri muda yang tersebut. Zayd sangat menyayangkan kenapa perlindungan kepada pasien yang sedang dirawat inap di sana sangat kurang hingga mengakibatkan istrinya sampai hilang.
__ADS_1
Tubuh Zayd luruh ke bawah karena merasa merasa gagal dalam menjaga keselamatan istrinya sendiri.
"Siapa yang melakukan hal ini? Kenapa semuanya seolah ada yang sedang mengawasi kami. Apakah ini ada hubungannya dengan Syafea?"