
"Sebenarnya istri saya itu sakit apa sih, dok? Kenapa sekarang ia lebih sering merasakan sakit di kepalanya? Apakah itu tidak berbahaya?"
"Kalau dibilang berbahaya atau tidak sebaiknya kita harus melakukan observasi lebih mendalam setelah pasien siuman, karena bisa jadi hal itu terjadi karena tekanan pikiran yang dialami oleh istri Anda membuat beberapa sel pembuluh darah di otaknya bermasalah."
"Baiklah kalau begitu, biar kita lakukan observasi lebih mendalam lagi setelah ini."
Bagaimanapun kesehatan Alletta jauh lebih penting dari hal apapun. Ditambah lagi saat ini Baby Noe masih belum berusia genap selama 40 hari, sehingga tentu saja ia masih sangat membutuhkan Aletta.
Saat Zayd melangkah masuk ke kamar Aletta rupanya dia sudah siuman.
"Abi .. dimana Baby Noe?"
"Baby Noe di rumah, Sayang. Kapan kamu mau pulang?" ucapnya lembut.
"Kalau bisa sekarang!" ucap Aletta dengan mata berbinar.
Zayd menangkup wajah Aletta dengan kedua tangannya. Dikecupnya kening sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Secepatnya kamu pasti akan pulang. Kamu sangat merindukan kehadiranmu di rumah."
Aletta sedikit mendorong tubuh Zayd hingga ke belakang. Tidak mau melihat istrinya bersedih, Zayd memberikan penjelasan kepadanya.
__ADS_1
"Tapi, Baby Noe masih membutuhkan ASI dariku?"
"Untuk sementara waktu, Baby Noe masih mendapatkan ASI beku yang pernah kamu simpan. Jika stok habis maka ia akan memintanya langsung dari kamu."
"Beberapa waktu yang lalu, suster dan dokter sempat memberikan sufor. Awalnya baik-baik saja, tetapi Umi ingat jika kamu pernah menyimpan ASI beku, jadi sekarang digunakan di rumah."
"Alhamdulillah, kalau hal itu bisa berguna."
"Iya, alhamdulilah. Untung saja ASI-nya berlimpah, kalau enggak bisa jadi Baby Noe demo!"
"Dih, ngomong apaan sih, Abi. Paling yang demo mah, Abi."
Sikap manja dan malu-malu dari Aletta membuat Zayd semakin mencintai dirinya. Bahkan ia tidak akan rela jika Aletta sampai kenapa-napa. Baginya kehadiran Aletta adalah seorang wanita penyempurna segala kekurangan yang dimiliki olehnya.
Zayd menunduk. Jujur saja karena kesehatan Aletta yang tiba-tiba saja drop membuatnya tidak bisa mengupayakan hal tentang pencarian ayah mertuanya itu.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf, karena sesungguhnya kelalaian karena terlalu sibuk di sini, membuatku sejenak melupakan pencarian tentang kondisi terkini tentang Bapak. Akan tetapi perlu kamu tahu, semuanya akan baik-baik saja, percayalah!"
Tanpa Aletta minta, ia sudah tahu jika Zayd pasti akan mengupayakan hal yang terbaik untuk ayahnya. Akan tetapi setidaknya dengan bertemu secara langsung, Aletta ingin meminta maaf karena sudah melakukan surrogate mother tanpa meminta ijin padanya terlebih dahulu.
"Sudahlah, kamu fokus pada kesembuhan, biar cepat pulang dan bertemu dengan putra kita."
__ADS_1
Aletta mengangguk, tetapi sesaat kemudian hidungnya justru mimisan. Zayd mengusap cairan berwarna merah itu dengan tangan bergetar.
"Kamu nggak kenapa-napa, 'kan?"
"Pusing, Abi ...."
Zayd segera memeluk tubuh Aletta. Mendekap serta mengusap kepalanya agar ia tidak terlalu banyak berpikir hal yang tidak-tidak.
"Innalilahi, semoga kondisi Aletta baik-baik saja, Aamiin."
Kondisi Aletta mengingatkan kejadian pada istri sahabatnya yang pernah mengalami ciri-ciri sama persis dengan yang dialami Aletta. Akan tetapi bagaimana pun Zayd berharap hal itu tidak akan terjadi.
Di sisi lain, Safa sudah banyak mengobrol dengan Pak Rahmat. Ia pun berjanji akan menjalankan amanah dari alm. kakaknya agar bisa segera bertemu dengan Aletta.
"Bapak tenang saja, sesegera mungkin akan saya carikan cara agar pertemuan Bapak dengan putri bapak dipercepat. Untuk data-data lebih lengkapnya akan saya bantu cek sekali lagi."
"Terima kasih banyak ya, Non."
"Sama-sama, Pak."
Kebetulan Safa mempunyai banyak teman sehingga kalau soal mencari data tentang seseorang akan lebih mudah baginya. Sama seperti saat mencari keberadaan dokter Hadi setelah ia lari dari rumah karena perjodohan.
__ADS_1
......................
Beruntung di saat genting, dokter Hadi mengingat Safa. Semoga saja pertemuan Aletta dan Bapaknya dipermudah othor, Aamiin.