ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 85. BERTEMU BAPAK


__ADS_3

Sopir dokter Safa segera pergi ke Rumah Sakit setelah mendapatkan perintah dari atasannya untuk mengantarkan Pak Rahmat kepada putrinya.


Debar-debar ketakutan seolah menghantui Pak Rahmat. Ia tidak bisa membayangkan betapa bahagianya ia ketika bisa bertemu dengan putrinya.


"Ya Allah, semoga pertemuan ini adalah kehendakMu, Aamiin."


Sementara itu raut bahagia seolah tenggelam tergantikan wajah murung Aletta. Bagaimana ia tidak murung jika kepulangannya terus saja ditunda dengan berbagai alasan. Padahal ia sudah merasakan baik-baik saja.


Ia memang pernah mimisan waktu kecil hanya saja hal itu terjadi jika ia kelelahan atau terlalu berpikir keras. Ayahnya pun tahu akan hal itu dan beliau mengatakan jika hal itu wajar dan mungkin saja keturunan darinya.


Di sisi lain, ibunya memang sudah meninggal lebih dulu karena pendarahan yang hebat setelah melahirkan Aletta. Perawatan yang kurang membuat ibunya tidak bisa bertahan lama. Di sisi lain, waktu itu hidup mereka tidak cukup bergelimang harta sehingga Pak Rahmat tidak bisa berbuat banyak.


Rumah Sakit.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Zayd pada Aletta.


Tentu saja Aletta menggeleng, entah mengapa nafsu makannya hilang tidak berbekas. Seolah ia tidak mau memberikan asupan gizi pada dirinya sendiri. Di tambah lagi ia sangat rindu pada putranya. Sepertinya juga karena Aletta tidak menyukai Rumah Sakit.


"Kapan bisa pulang, Abi? Aku sudah tidak betah tinggal di sini. Kangen Baby Noe," ucapnya setengah menahan air mata.


Hati siapa yang tidak sakit ketika mendengar permintaan kecil dari istrinya. Namun, Zayd hanya menunggu permintaan dari dokter. Ia tidak bisa berbuat banyak. Sehingga ia lebih memilih untuk merahasiakan hal ini, tetapi itu sesuai dengan instruksi dari dokter.


Mana mungkin pula Zayd mengatakan jika dirinya sedang mengidap sakit parah. Hal itu mungkin saja bisa membuat Aletta semakin drop dan membuatnya tidak bisa bertahan lebih lama.


"Abi, kenapa kamu diam?"


"Ya Allah, maafkan aku Sayang. Terlalu banyak hal yang harus aku pikirkan. Sehingga sampai lupa untuk menyampaikan sesuatu."


"Menyampaikan tentang hal apa?"


"Acara aqiqah Baby Noe akan segera dilaksanakan sesaat setelah kamu keluar dari Rumah Sakit. Jadi, kamu harus segera cepat sembuh."

__ADS_1


"Iya, Aletta mengerti, tetapi kenapa Abi tidak menjawab alasan dibalik kepulangan yang tertunda ini?"


Zayd menunduk, berperang dengan hati dan pikirannya. Ia juga tidak mengatakan hal ini pada Umi dan Abah karena rasa takutnya.


"Kata dokter ada sesuatu di dalam tubuhmu dan harus dilakukan pemeriksaan ulang."


Kening Aletta berkerut, "Apakah ini ada hubungannya dengan mimisanku yang kambuh?"


"Semoga saja tidak."


Aletta mengulas senyum lalu menyentuh tangan Zayd, "Tidak ada hal menyakitkan kan? Lihatlah aku baik-baik saja, Abi."


Aletta berusaha untuk menyakinkan dirinya, ia yakin tidak ada hal buruk lagi. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyongsong kehidupan lebih baik lagi bersama Zayd dan juga Baby Noe.


"Sudahlah, semoga saja asumsi dokter salah dan kita bisa segera pulang."


"Aamiin."


"Apakah hal itu aman untuk busui?"


Dokter tersebut tersenyum, "Tentu saja aman, ditambah lagi Anda pasti akan lebih cepat pulih ketika mendapatkan kebahagiaan penuh."


Zayd bisa merasakan apa yang dikatakan oleh dokter memang benar adanya. Selama Aletta bahagia, sudah pasti penyakitnya akan lebih cepat sembuh.


Setelah mendapatkan kabar baik tersebut, Zayd segera mengurus semua surat demi kepulangan Aletta. Ia juga memberikan kabar kepada Umi dan Abah. Betapa bahagianya mereka ketika dokter memberikan signal jika Aletta pasti akan cepat sembuh ketika bersama Baby Noe.


Baby Noe yang semula rewel seketika menjadi tenang saat mendengar kabar jika ibunya akan segera dibawa pulang.


"Alhamdulillah ya, Sayang. Sebentar lagi Mama kamu akan segera pulang dan sehat. Umi sudah tidak sabar untuk menunggu kalian hidup bersama bertiga."


Doa tulus dari Umi selalu dipanjatkan demi kebahagiaan putra pertamanya Zayd Abdullah. Bahkan ketika rumah tangga putranya hancur, sudah pasti Umi adalah orang pertama yang terluka.

__ADS_1


"Jangan sampai ada ujian lagi setelah ini, Aamiin," doa tulus Umi sambil mengecup kepala Baby Noe.


Begitu pula dengan Baby Noe yang semakin terlelap dalam gendongan Umi. Sebuah mobil berwarna hitam sudah memasuki halaman Rumah Sakit. Dengan tidak sabar dokter Safa menyongsong kedatangan Pak Rahmat. Dengan tangannya sendiri ia ingin menjalankan amanah dari almarhum kakaknya, yaitu dokter Hadi.


"Bapak tunggu di sini, karena di dalam ruangan masih ada keluarga inti."


"Baiklah kalau begitu."


Kebetulan Zayd baru saja dari luar dan sedang menuju ke ruang rawat Aletta. Di depan pintu terdapat dokter Safa dan Pak Rahmat.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Zayd sambil menepuk bahu Pak Rahmat.


"Sa-saya Pak Rahmat."


Zayd tersenyum lalu mencium punggung tangan Pak Rahmat. Tentu saja beliau kebingungan tetapi tidak dengan dokter Safa yang mengenal Zayd.


"Selamat datang, Pak. Maaf untuk ketidakbecusan saya mencari Anda selama beberapa hari ini. Bahkan imbasnya membuat Aletta drop dan terpaksa di rawat di sini."


"Tidak apa-apa, maaf sekali lagi saya datang terlambat."


"Sudahlah, mari masuk, Aletta pasti sangat bahagia bersama Anda."


Pak Rahmat tersenyum dan melemparkan senyum pada Zayd. Seketika Zayd melangkah lebih dulu dan membuka pintu pada mertuanya.


"Assalamu'alaikum, Sayang lihat siapa yang aku bawa?"


"Wa'alaikumsalam ...."


Sorot mata Aletta seolah membelalak ketika ia melihat sosok Bapak yang selama ini ia cari.


"Ba-bapak ....."

__ADS_1


__ADS_2