ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 36. KECURIGAAN ZAYD


__ADS_3

Merasa jika dirinya sering tidak enak badan membuat Zayd lama-lama curiga akan kesehatan istrinya. Ia pun menanyakan hal itu kepada suster yang sering berada di sisi Syafea.


Kebetulan tersebut baru saja lewat di hadapannya.


"Sus, maaf apakah aku bisa bertanya tentang sesuatu hal kepadamu?"


"Boleh, Tuan silakan saja."


"Sebenarnya bukan hal yang penting, tetapi seringkali aku melihat Syafea muntah-mentah di kamar mandi dan jika aku mengajaknya pergi ke Rumah Sakit dia selalu menolak. Apakah itu efek dari obat yang diberikan dokter kepadanya atau memang dia sedang sakit dan menyembunyikan hal itu dariku?"


"Maaf Tuan kalau soal itu sebaiknya Tuan tanya sendiri kepada Nyonya, karena setahu saya obatnya dikonsumsi Nyonya tidak akan membuat efek seperti itu. Lain lagi kalau dengan perubahan kondisi cuaca yang terjadi saat ini bisa saja Nyonya mengalami masuk angin."

__ADS_1


"Kalau masuk angin kenapa nggak diberi obat aja Bukankah sakit itu bukanlah sebuah kenyamanan?"


"Tentu saja begitu, karena tidak ada orang yang mau sakit di jaman seperti ini."


"Baguslah kalau kamu tahu tentang soal itu. Kalau begitu sebaiknya jija ada sesuatu hal yang mencurigakan kamu bisa menjaganya secara pribadi kepada saya."


"Baik, Tuan dengan senang hati."


Setelah cukup bercakap-cakap dengan sang suster kini sehat kembali melangkahkan kakinya pergi ke halaman belakang untuk mencari istri kecilnya. Benar saja saat ini Aletta terlihat sedang merajut.


"Seharusnya di dalam usiamu seperti itu kamu masih berkecimpung di dunia pendidikan bukan berada di rumah seperti saat ini. Aku semakin merasa bersalah jika melihatmu seperti itu, Aletta."

__ADS_1


Terlihat sekali air mata penyesalan milik saya Meskipun tidak banyak tetapi sudut matanya yang bersama isyaratkan jika ia benar-benar sudah menaruh asa pada Aletta. Di sisi lain ia juga tidak bisa bertindak seenaknya karena masih ada istri pertamanya yang berada di dalam rumah tersebut dan kondisinya juga sedang dalam keadaan sakit.


"Seharusnya aku lebih dulu bertemu denganmu. Seandainya kita bisa bertemu lebih dulu mungkin hal seperti ini tidak akan membuatmu tersiksa di sini."


"Jika aku bisa membuatmu bahagia dengan cara berpisah ketika kamu melahirkan nanti aku pun rela, tetapi aku tidak bisa menjamin apakah rasa cinta ini akan hilang atau justru semakin dalam kepadamu."


Menyadari jika putranya memperhatikan Aletta dari kejauhan, Umi membiarkan hal tersebut terjadi. Ia lalu kembali ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu yang akan diberikan kepada Zayd.


"Mungkin barang ini bisa mendekatkan mereka tetapi aku juga harus tetap menjaga siapa saja agar tidak mengganggu hubungan antara Zayd dan juga Aletta."


Umi segera melangkahkan kakinya keluar ruangan untuk menemui menantu dan juga putranya. Akan tetapi ketika sudah sampai di gazebo belakang ia tidak menemukan sang putra, ia hanya menemukan Aletta yang masih asyik dengan kegiatan merajutnya.

__ADS_1


"Ke mana perginya Zayd, sekali menyuruhnya justru membuat aku semakin kehilangan dirinya. Dasar anak aneh," gumam Umi.


Padahal jelas-jelas tadi Umi baru saja memujinya akan tetapi sesaat kemudian ia justru mengumpatnya. Akan tetapi begitulah Umi slalu unik dengan sikap-sikapnya.


__ADS_2