
Zayd yang melihat dokter Rafa memeriksa istrinya sama sekali tidak keberatan ataupun curiga. Baginya kesehatan istrinya jauh lebih penting saat ini. Terlebih lagi Aletta semakin terlihat lebih sehat dari biasanya.
"Kenapa Abi sama sekali tidak merasa curiga pada dokter Rafa? Meskipun kalian bersaudara harusnya tidak seperti ini bukan?"
Di saat Aletta tenggelam dalam pemikirannya, kini Baby Noe segera dibawa masuk ke dalam ruangannya. Dokter sudah memutuskan jika saat ini Baby Noe dan ibunya bisa satu ruangan. Terlebih lagi saat ini Baby Noe sudah pintar minum ASI dan Aletta juga tidak terkena Syndrom Baby Blues, sehingga sangat aman jika bersama.
Umi, Abah dan Aletta sangat bahagia akan hal ini. Mereka sangat bersyukur karena akhirnya keluarga kecil mereka terasa lengkap saat ini.
"MasyaAllah, hidung dan wajahnya mirip sekali denganmu, Nak. Sementara itu matanya mirip sekali dengan Aletta."
Umi yang sudah membersihkan dirinya setelah masuk ruangan Aletta, bisa dengan segera menggendong bayi tampan tersebut. Baby Noe tampak nyaman ketika berada di dalam asuhan Umi.
"Oh, ya Rafa ... kapan kami bisa membawa mereka kembali ke rumah?" tanya Umi di sela-sela menggendong Baby Noe.
"InsyAllah kalau tidak ada halangan besok pagi mereka sudah bisa pulang."
"Alhamdulillah ...." seru mereka bersama-sama.
"Ya sudah kalau begitu, bolehkah kami berbincang dengan calon menantu kami?" tanya Abah pada semua orang di dalam ruangan itu.
Tentu saja Aletta dan Zayd begitu terkejut dengan ucapan Abah barusan. Di sisi lain, Zayd bersyukur karena hal itu. Sama saja dengan Abah sudah memberikan restu baginya untuk bisa menikahi Aletta dengan resmi.
Zayd menggenggam tangan Aletta. Seketika rasa gemetar menjalar ke seluruh tubuh Aletta. Detak jantungnya semakin berpacu dengan cepat. Teringat akan hubungan yang membuat dirinya mengalami kontraksi awal, Aletta menundukkan pandangannya.
Umi menyenggol lengan Abah, "Biarkan mereka berbicara dari hati ke hati. Kita ke sebelah dulu saja."
"Baiklah!"
Ruang rawat Aletta yang mengambil kelas nomor satu membuatnya memiliki kamar yang luas dan sangat nyaman. Bahkan ruangannya terdapat balkon di sebelah kamarnya. Kini Abah dan Umi berada di sana sambil menimang Baby Noe.
"Kira-kira apa yang sedang mereka bicarakan?"
"Entahlah, yang pasti Umi sangat menyukai Aletta. Bagaimana pun caranya ia harus menjadi menantu kita."
"Abah setuju, Umi. Hanya saja ketika melihat wajah Syafea tadi ada sesuatu hal yang membuat ragu ...."
"Kita berdoa sebaik mungkin saja Abah."
__ADS_1
Abah mengangguk. Di sisi lain, Zayd memandang Aletta dengan penuh cinta. Sudah beberapa kali Zayd mengecup tangan Aletta hingga membuatnya tersipu berkali-kali.
"Kenapa Abi melakukan semua ini? Aletta malu Abi. Masih ada Umi dan Abah di balkon."
"Kenapa harus malu pada calon istriku, bidadari surgaku ini? Rasa terima kasih karena telah menyelamatkan harkat dan martabatku sama sekali tidak bisa aku balas satu persatu."
"Dengan mencintaimu dan menjadikan istriku satu-satunya semoga hal itu bisa membuatku lebih bisa melakukan semua kebaikan untukmu."
Aletta meletakkan jari telunjuknya ke arah bibir Zayd.
"Stop berterima kasih. Semua ini terjadi karena takdir Allah yang mempertemukan kita. Akan tetapi ketika teringat akan Kak Syafea hati ini terasa nyeri karena telah merebut suaminya."
Seketika Aletta menunduk, buliran kristal bening itu akhirnya luruh sudah tanpa permisi. Zayd yang tidak tega segera menghapus jejaknya di kedua pipi Aletta.
"Jangan berbicara seperti itu. Semua yang terjadi pasti ada alasannya. Syafea memang membawamu datang ke dalam kehidupanku. Namun, seiring berjalannya waktu rasa yang tidak pernah hadir itu membelenggu jiwaku sehingga aku menjatuhkan pilihan kepadamu."
Aletta menatap kedua bola mata Zayd yang berwarna hitam itu. Ditatapnya lelaki blasteran itu dengan sepenuh jiwa. Memang benar, rasa cinta itu telah tumbuh subur di dalam hati Aletta. Hanya saja jika harus memilih, harusnya Aletta hadir tanpa harus menyakiti ataupun menyingkirkan wanita lain.
"Sepertinya kita harus menunggu Kak Syafea pulih, Abi."
"Ma-maksudnya?" tanya Aletta penuh kecemasan.
"Jika harus memilih, maka satu-satunya orang yang aku pilih untuk mendampingi hidupku adalah kamu, Aletta."
"Baiklah kalau itu pilihan kamu, karena sesungguhnya Umi dan Abah sangat setuju dengan pilihan kamu. Lalu langkah apa yang akan kamu ambil untuk Syafea?"
Tiba-tiba saja Umi dan Abah sudah kembali dari balkon. Umi segera meletakkan Baby Noe kembali pada box bayinya. Kedua calon mertua Aletta itu mendekati bed Aletta. Mereka sudah tidak sabar untuk mendengarkan langkah apa yang akan digunakan untuk permasalahan keluarganya itu.
"Tentu saja menceraikannya, aku sudah tidak bisa memaafkan semua hal yang telah ia lakukan padaku."
Abah tampak menghela nafasnya, sesuatu yang sangat ia benci harus dijalani oleh putranya. Jika harus memilih, seharusnya Zayd tidak mengalami hal tersebut.
Semua terjadi karena keegoisan Zayd sendiri, sehingga Abah tidak berani ikut campur. Dari awal pernikahan dengan Syafea ia sudah mengingatkan tentang hal ini. Hingga akhirnya tidak ada yang bisa diselamatkan lagi.
Suasana kamar yang semula hangat kini terasa lain. Semuanya bungkam dan larut dalam pemikirannya masing-masing. Dokter Rafa masih berdiri di balik pintu. Ia masih bisa mendengarkan ucapan mereka dengan sangat jelas.
Terasa nyeri dan menyakitkan memang ketika menyadari jika rasa cinta yang tumbuh itu salah rumah. Namun, dokter Rafa sama sekali tidak bisa menampik rasa cintanya. Ia terlihat beberapa kali menepuk-nepuk dadanya yang bergemuruh hebat. Dokter Michael yang kebetulan berada di lorong kamar Aletta melihat hal itu.
__ADS_1
"Ada apa dengan dokter Rafa, kenapa ia berada di depan ruang rawat Aletta?"
Banyak pertanyaan yang menghinggapi dokter Michael, maka dari itu ia pun pergi mendekatinya.
"Dokter Rafa ada apa? Kenapa masih berada di depan ruang rawat pasien?"
Dokter Rafa menggeleng, "Tidak apa-apa, hanya saja sepertinya saya tidak terlalu sehat. Maka dari itu saya minta ijin untuk pulang lebih cepat, ya dokter Michael!"
"Hm, baiklah. Hati-hati dalam berkendara, dokter Rafa."
Sepeninggal dokter Rafa, kini ia pun mengetuk pintu kamar Aletta. Ada sebuah hal yang ingin disampaikan pada Zayd tentang keputusan akan menceraikan Syafea.
Dokter Michael tidak ingin Zayd mengambil keputusan secara sepihak meski tahu Syafea sebenarnya tidak perlu di kasihani.
"Apakah itu pantas dilakukan, sementara kondisi Syafea belum pulih?"
"Tapi sampai kapan? Membuat Aletta menunggu juga bukanlah sebuah hal yang baik."
"Zayd, lakukanlah dengan kepala dingin."
"Jangan mengaturku, Mich. Semua yang ku putuskan juga demi kebaikan kami. Biarkan Syafea kembali pada kekasihnya yang telah berhasil menanamkan benihnya pada rahim mantan istriku itu!"
"Zayd ...."
Perdebatan yang terjadi di antara mereka beberapa waktu lalu membuat dokter Michael terpaksa mendatangi kamar Aletta. Ia tahu jika kedua orang tua Zayd juga berada di sana.
"Assalamu'alaikum ...." sapa dokter Michael ramah.
"Wa'alaikumsalam, wah ada dokter Michael juga."
"Iya, Umi."
"Silakan duduk!"
"Tunggu dulu Umi, katakan apa yang ingin kau katakan dokter Michael?" tanya Zayd dengan lantang.
"A-aku hanya ingin ...."
__ADS_1