
Penerbangan selama kurang lebih dari enam jam membuat Baby Noe kurang nyaman. Apalagi ini merupakan penerbangan untuk pertama kalinya.
Selama di pesawat, salah satu tangan Zayd tetap memegangi tangan Aletta. Ia bisa merasakan kegundahan istrinya itu. Terlebih lagi masalah kali ini menyangkut ayahnya dan calon mertuanya.
Beruntung ada Umi dan Abah yang mendampingi Zayd dan juga Aletta, sehingga mereka bisa menggantikan mengasuh Baby Noe selama di dalam pesawat. Namun, Umi juga sempat melihat wajah letih Aletta.
"Apakah ia banyak pikiran? Kenapa sepertinya dia terlalu memikirkan ayahnya?"
"Semoga ia tidak tersinggung ketika nanti kuberikan nasihat."
Umi menepuk bahu Aletta. Tempat duduk mereka memang depan belakang.
"Aletta, biar Umi bantu menggendong Baby Noe, ya?" pinta Umi dengan lembut.
"Bo-boleh, Umi."
Umi menasehati Aletta, agar tidak terlalu banyak pikiran. Di tambah lagi saat ini sumber makanan utama Baby Noe masih berasal dari ASI-nya.
"Kamu jangan banyak pikiran ya, Sayang. Bagaimana pun, Baby Noe bergantung padamu."
__ADS_1
"Ketika kamu merasa lelah dan banyak pikiran, maka ia akan mudah mengetahuinya, akhirnya menjadi rewel. Apalagi dia menyusu kepadamu."
Zayd kini tampak memandangi Umi dan Aletta secara bergantian.
“Benar apa yang dikatakan Umi, sebaiknya kamu jangan banyak pikiran. Berdoa saja kepada Allah, agar Bapak selalu berada di dalam lindunganNya.”
Aletta tampak hilang fokus, sehingga banyak hal yang tidak bisa ia lakukan dengan sepenuh hati. Pikirannya berkecamuk, memikirkan bagaimana keadaan ayahnya saat ini.
"Maaf, mungkin benar yang dikatakan Umi. Akan tetapi bagaimana pun juga memikirkan bagaimana keadaan Bapak adalah hal yang tidak bisa disingkirkan begitu saja."
“Benar, Aletta. Percayalah penjagaan dari Allah begitu besar. Tidak ada kekuatan yang melebihi kekuasaan Allah. Dia-lah sebaik-baiknya penjaga.”
Bahkan pada akhirnya ia harus merelakan pernikahan mereka hancur karena kedatangannya. Bukan maksud hati Aletta untuk merusak rumah tangga orang. Apalagi uang yang digunakan olehnya merupakan hasil ia meminjamkan rahim, yang pada akhirnya justru mendapatkan Zayd pula.
"Kenapa kamu berada di sini, itu bukan karena Syafea, melainkan takdir Allah yang mempertemukan kamu denganku."
"Maaf dan terima kasih karena sudah membuat hati ini sedikit tenang."
"Sama-sama, sudahlah. Jangan lupa beristirahat biar nanti setelah sampai kamu tidak apa-apa dan terlihat lebih fresh."
__ADS_1
Aletta mengangguk dan kemudian terlelap. Ia sangat bersyukur karena tidak ada hal yang dijalaninya sendiri. Sebagai seorang suami, Zayd tampak sangat sayang padanya.
Baby Noe merupakan anugrah terindah yang diberikan Aletta kepadanya. Menurut Zayd, ia sama sekali tidak pernah merasa menyesal ketika keduanya bertemu.
Beberapa saat berlalu, akhirnya pesawat mendarat dengan selamat. Baby Noe sudah tidak terlalu rewel lagi saat ini. Kini ia bahkan tersenyum ketika pertama kalinya mendaratkan kaki di tanah air.
Zayd meniupkan doa dibagian ubun-ubun Baby Noe. Lalu setelahnya ia pun diajak pergi menuju mobil yang menjemput.
Entah mengapa saat Aletta hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas. Dengan sigap Zayd segera menangkap tubuh Aletta.
"Umi, titip Baby Noe sebentar. Mungkin Aletta kelelahan."
"Iya, Sayang."
"A-abi, tolong kepalaku sakit," rintihnya.
Perlahan-lahan cahaya yang masuk ke dalam pupil mata Aletta seolah sirna dan beberapa saat kemudian ia pingsan.
"Astaghfirullah, Aletta bangun!"
__ADS_1