
Rencananya hari ini Zayd dan Umi akan mengantarkan Aletta untuk memeriksa kehamilannya di Rumah Sakit. Saat keluar dari kamar Zayd berhasil menemukan Umi yang juga baru saja keluar dari kamarnya. Ia pun tersenyum menanggapi pertemuannya dengan sang ibu.
"Assalamu'alaikum, Umi."
"Wa'alaikum salam."
Meskipun ia tersenyum, tetapi sorot mata Zayd tidak bisa menyembunyikan sesuatu. Terlihat sekali jika kedalaman matanya mengisyaratkan jika ia sedang mencari keberadaan Aletta.
Umi yang mengetahui hal itu menahan senyumnya. Sampai akhirnya pintu kamar Aletta terbuka. Tampillah seorang wanita muslim yang sangat cantik dengan gamis dan pasmina yang senada berwarna nude.
Bibir mungil berwarna merah muda dengan hidung mancung bermata belo, membuat kecantikan Aletta semakin terpancar. Meskipun berhijab tetapi kecantikannya sudah pasti lebih dari Syafea yang sudah sering mengumbar auratnya.
Tanpa Zayd sadari senyumnya mengembang. Aletta yang menyadari hal itu menjadi malu-malu dan salah tingkah. Umi pun berdehem agar keduanya sadar masih ada beliau di tengah-tengah api asmara keduanya.
"Assalamu'alaikum Umi, Abi ...."
"Wa'alaikum salam, Sayang. Ayo kita berangkat biar nggak keburu siang."
Aletta tampak mengangguk. Sementara itu Syafea mengepal tangannya karena merasa diabaikan. Kebetulan suster yang merawatnya harus absen ke Rumah Sakit sehingga ia datang terlambat.
Saat melintasi kamar Syafea, Aletta memegang lengan Umi hingga membuatnya menoleh.
"Ada apa, Aletta?"
"Apa kita tidak berpamitan pada Kak Syafea terlebih dahulu?"
"Tadi pagi Umi sudah pamit kepadanya. Barusan Umi juga sudah meminta ijin untuk kepergian kamu pagi ini. Setelah meminum obat sepertinya ia tidur lagi."
"Oh, ya sudah kalau begitu."
Akhirnya ketika orang itu segera menuju ke Rumah Sakit. Padahal di dalam kamar Syafea sedang membuang obat-obatan yang ia konsumsi barusan ke kolong tempat tidur. Rasanya ia sudah jengah ketika setiap hari disuruh untuk minum obat terus.
"Katamu aku tidur? Padahal aku sedang menderita karena aku juga mengalami morning sickness sama seperti Aletta!" ucapnya penuh amarah.
__ADS_1
Ia mengusap perutnya sambil menangis. Seolah tahu jika ayah dari jabang bayi yang ia kandung sedang merindukan ibunya, ponsel Syafea mulai berbunyi. Terpaksa Syafea memutar kursi rodanya untuk sampai ke meja riasnya.
Diraihnya benda pipih berbentuk persegi panjang dan berwarna merah muda itu lalu segera mengangkat panggilan teleponnya.
"Nomor tidak dikenal?"
Awalnya Syafea ragu untuk mengangkatnya lalu sesaat kemudian ia pun menerima panggilan telepon itu.
"Hallo, maaf ini dengan siapa, ya?"
Tawa renyah dari seorang lelaki di seberang sana mengingatkan Syafea jika dia adalah Hyu Jin.
"Ada apa kamu menelpon, aku?"
Kini Syafea tampak sewot ketika mengetahui jika siapa yang menghubungi pagi itu.
"Apakah kamu tidak ingin jika Kimora bisa hidup normal seperti biasanya sesudah ini?"
"Maksudnya?"
"Katakan apa rencanamu?"
Tidak membutuhkan waktu yang lama Hyu jin segera memberitahukan semua rencananya. Sebagai imbalan maka ia akan mengajaknya Syafea liburan ke Maldives secepatnya.
Setelah mendengar penjelasan dari Hyu Jin akhirnya mereka memutuskan untuk segera bertemu dengannya. Syafea tampak mengusap air matanya lalu bergegas merapikan penampilannya.
Rasa sakinya kini berganti dengan senyuman mengembang sempurna. Lipstik berwarna merah menyala dengan sebuah mantel bulu panjang dipakai oleh Syafea untuk menutupi kakinya yang lumpuh.
Dengan segera ia membuka pintu dan memesan taksi online. Beruntung apartemen miliknya dilengkapi dengan fitur lift untuk penyandang disabilitas sehingga memudahkan ia untuk bergerak.
Sebuah taksi online sudah terparkir rapi dan bersiap untuk menunggu Syafea. Saat melihat taksinya dengan segera ia bergerak menuju mobil. Sayangnya ia harus menabrak seorang pemuda yang dulu pernah bertemu dengan Aletta saat pertama kali menginjakkan kakinya di negeri sakura itu.
"Ka-kamu?"
__ADS_1
"Tante ... loh kaki Tante kenapa? Bukankah waktu itu baik-baik saja?"
Syafea tampak membuang muka lalu meneruskan perjalanan ke mobilnya. Pemuda itu tampak mengejar Syafea karena ia merasa beruntung bertemu dengannya lagi.
"Kemana anak gadisnya itu ya? Tan ... Tante tunggu ...."
Sayang, mobil Syafea sudah meninggalkan apartemen miliknya. Pemuda itu tampak melihat ke atas.
"Apakah ia juga tinggal di sini? Tetapi kenapa Tante tadi nggak suka ngeliat aku, ya? Memangnya aku salah apa?"
Tidak mau menerka apapun pemuda tersebut segera naik ke lantai apartemen milik kakaknya. Kebetulan weekend ini mereka akan mengadakan party. Maka dari itu ia memutuskan untuk datang dua hari lebih awal dari acara itu. Lagi pula kegiatannya di sekolah sedang libur.
Perjalanan Aletta dan Zayd kini sudah sampai di Rumah Sakit. Terlihat mereka sudah ikut mengantri bersama para barisan ibu hamil dan ayah siaga.
Umi sengaja tidak ikut dan memilih untuk berbelanja di supermarket daripada menganggu kemesraan putra dan menantunya itu.
"Bagaimana perasaan kamu jika anak yang kamu kandung itu jenis kelaminnya tidak sesuai dengan keinginan suami kamu?" tanya seorang ibu-ibu pada teman sebangkunya.
"Entahlah, aku tidak bisa mengatakan hal ini secara langsung pada suamiku."
"Jangan takut, masih ada kami di sini untuk menemani kamu."
"Terima kasih, teman."
"Sama -sama."
Setelah mendengar percakapan langsung yang dikatakan oleh suster itu, maka pikiran Aletta sedikit tenang. Tanpa Aletta sadari ternyata ada Zayd yang memegang salah satu tangannya.
"Jangan banyak pikiran, Sayang. Biarkan semua terjadi sesuai kehendaknya. Akan tetapi jangan lupa untuk selalu bersyukur."
Aletta menoleh ke arah Abi., "Terima kasih , Abi."
Ternyata Zayd begitu banyak memberikan kejutan dan rasa cinta untuknya. Sehingga Aletta seringkali merasa tersipu.
__ADS_1
Kira-kira bagaimana kisah cinta mereka, apakah pemuda itu akan mengejar Aletta? Simak terus update rutinnya kakak.