
Hari yang ditunggu tiba, kini Althaf dan juga Zayd akan mengadakan sebuah pertemuan. Mereka tampak membuat sebuah janji temu di sebuah hotel. Aletta baru saja melihat makanan lezat di sebuah acara televisi. Sebagai seorang wanita hamil, ngidam adalah hal yang wajar sehingga kali ini ia ingin mencicipi makanan itu.
Kebetulan Althaf lewat di ruang tengah dan melihat jika Aletta tampak tertarik pada menu makanan di sana. Althaf tersenyum dan ia pun duduk di atas sofa berdekatan dengan Aletta.
Tentu saja Aletta terkejut dan hampir terjingkat. Althaf buru-buru meminta maaf karena hal itu. Hingga pada akhirnya Aletta justru yang meminta maaf. Ia sama sekali tidak mempunyai hak di sana. Sudah syukur dia tidak di usir dari sana.
"Maaf jika kehadiranku justru membuatmu kaget, apa kamu sibuk?"
Aletta mengeleng, tetapi tetap pada posisinya yang menunduk. Hingga tanpa sadar tangan Althaf menyentuh dagunya.
"Tuan, eh ... maaf Mas Althaf, kita bukan muhrim!"
"Astaghfirullah, maaf ya, bukan maksudku tadi untuk a--"
Althaf buru-buru menghalau pikiran buruknya. Lalu ia bergegas pergi keluar. Terlebih dahulu ia menormalkan suaranya sendiri.
"Aletta, karena hari ini tidak ada makanan di rumah, bagaimana kali sekarang kita pergi makan di luar."
"Benarkah Mas mengajak saya keluar?"
"Tentu, kenapa tidak?"
__ADS_1
"Tapi, saya boleh pakai cadar tidak?"
"Tentu saja boleh, ayo!"
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Althaf segera disusul Aletta. Meskipun ia memakai cadar, akan tetapi wajahnya begitu cantik dan manis. Hanya dari pancaran mata ia bisa menyimpulkan jika Aletta saat ini sangat bahagia.
Sangat jauh berbeda dengan keadaan jiwanya yang belum begitu pulih setelah drama penculikan tempo hari. Kini ia sudah bisa lebih tenang. Sesuai anjuran dokter kini Aletta bisa tersenyum dan lebih terbuka.
Aletta sangat perhatian dan sayang dengan calon buah hatinya. Akan tetapi ada sebuah rasa rindu yang begitu besar pada sosok ayah kandungnya. Namun, ketika ia mengusap perutnya sudah pasti pikiran lain akan mempengaruhinya.
Tidak berlangsung lama mobil mereka sudah sampai di hotel. Pada arah yang sama Aletta dan Zayd hampir saja menatap satu sama lain kalau tidak terhalang tiang penyangga lantai basement.
"Nah, kita sudah sampai. Mau turun sendiri atau digendong?"
Seolah merespon ucapan dari ibunya, maka bayi di dalam perut Aletta bergerak nyaman. Aletta mengulas senyum karena di dalam perutnya ada kehidupan lain yang sangat dinantikan Keluarga besarnya.
"Bagaimana ini, kenapa kenangan tentang Mas Zayd semakin berputar cepat?"
"Oh, Tuhan tolong aku," ucapnya lirih sembari menangis.
Althaf yang sangat perasa segera menoleh ke arah Aletta.
__ADS_1
"Apa ada yang menyakiti kamu?"
Sontak saja Aletta menggeleng dan mengusap kedua matanya.
"Maaf, Mas. Aku hanya merindukan suamiku."
"Oh, maaf."
Rupanya saat ini Zayd sudah duduk di tempatnya dan kini Aletta berada di ruangan yang bersebelahan dengan ruang meeting yang akan digunakan oleh Althaf.
"Maaf, Tuan Zayd karena telah membuat Anda lama menunggu."
"Tidak apa-apa, Tuan. Silakan duduk."
Kebetulan makanan Aletta sudah datang. Karena merasa tempatnya aman, maka Aletta membuka cadarnya dan saat itu pula pandangan Zayd secara tidak sengaja bertemu dengan tatapan Aletta.
"Aletta, istriku ...."
......................
Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini ya kakak, dijamin seru.
__ADS_1