ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 69. BISAKAH KAU ADIL


__ADS_3

"Tunggu!"


Teriakan Syafea seolah tidak terdengar oleh Zayd. Merasa diabaikan hingga semuanya terasa tidak baik-baik saja, maka Syafea pun berontak.


Selang infus yang masih menempel di tubuhnya ia tarik hingga membuat tiang penyangga selang jatuh dan berdenting saat bertemu dengan lantai. Belum lagi luka menganga karena bekas jarum infus yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah sama sekali tidak ia hiraukan.


"Zayd, kau jahat! Jahat sekali kepadaku," teriak Syafea.


Cairan kental berwarna merah pekat yang telah mengucur deras dari selang infus, berhasil membuat dokter Michael panik dan berlari ke arahnya.


"Stop Syafea, don't cry!"


Syafea yang histeris membuat suasana di ruangannya terlihat kacau. Tangisnya pecah dan membuat siapapun yang mendengarnya menjadi pilu. Namun, dokter Michael juga tidak bisa menghentikan semua sikap putus asa yang ditunjukkan oleh Syafea.


Sehingga salah satu cara untuk membuat mereka berhenti adalah memberikan suntikan yang berisi penenang kepadanya. Dokter Michael bahkan sampai membutuhkan beberapa tenaga medis tambahan untuk memegang kedua tangan Syafea.


"Maaf, karena aku harus melakukan hal ini demi kebaikan kamu!"


Sementara itu Zayd justru semakin mantap meninggalkan Syafea. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan wanita yang pernah mengisi hidupnya penuh warna, kini justru meninggalkan luka yang sama sekali tidak mudah untuk dilupakan.


"Maaf, Syafea kita tidak bisa selamanya bersama. Maaf ...."

__ADS_1


Saat ia hampir sampai di ruang bayi, secara tidak sengaja ia melihat Baby Noe dipegang oleh seorang dokter muda. Ia adalah Rafa, saudara sepupu dari pihak Umi.


Mereka memang tidak pernah bertemu. Akan tetapi ia pernah melihat fotonya beberapa kali. Hingga saat ini ia mengenali dirinya. Zayd segera menepikan langkahnya lalu mengetuk jendela kaca.


"Rafa!" panggilnya dengan tersenyum.


Merasa jika ada yang memanggil namanya dokter Rafa menoleh. Ia pun tersenyum melihat ada pamannya di sana. Rafa menyadari jika Zayd adalah pamannya yang kemarin sempat ia lihat di dalam foto yang dibawa bibirnya.


Dengan segera ia menaruh kembali Baby Noe di dalam box bayi. Dokter Rafa melepaskan beberapa pakaian steril lalu keluar dari ruangan bayi.


"Assalamu'alaikum, paman. Ternyata paman di sini?"


"Wa'alaikumsalam, iya. Apakah kamu bekerja di Rumah Sakit ini?"


Melihat putranya dibawa pergi, tentu saja Zayd bertanya pada suster.


"Mau dibawa pergi kemana anak saya, Suster?"


"Di bawa ke ruangan ibunya untuk diberikan ASI."


"Oh, ya sudah kalau begitu."

__ADS_1


"I-itu putra paman?"


Zayd mengangguk lalu memperkenalkan istrinya padanya. Meskipun Rafa sudah mendengar cerita tentang kehidupan pamannya yang divonis tidak bisa mempunyai keturunan, tetapi sebuah kenyataan ia dapatkan saat ini.


Dengan langkah cepat, kini Zayd dan dokter Rafa mulai berjalan di lorong menuju kamar Aletta. Getaran di dalam dirinya sangat besar hingga membuat langkah dokter Rafa sedikit tertatih.


"Apakah mereka baik-baik saja? Atau memang benar jika paman sudah menikah lagi? Lalu apakah yang akan dikatakan pada paman dan bibi nanti?"


Banyak pertanyaan yang hinggap di kepala dokter Rafa hingga membuat dirinya harus segera pergi dari tempat itu. Namun, tangan Zayd justru menggenggam tangan dokter Rafa dengan erat.


"Ayo, kita lihat ke dalam!" ajak Zayd dengan gembira.


Dokter Rafa tersenyum, "Bukankah dia baru saja memberikan ASI? Apakah kita tidak sebaiknya berdiri di sini dulu sampai menunggu waktu selesai?"


"Astaghfirullah, lupa. Baiklah kita tunggu di sini!"


Dalam waktu sekejap, mereka berdua menunggu di depan kamar. Tidak berapa lama kemudian dokter Michael datang.


"Zayd, kita perlu bicara!"


"Mau bicara apalagi?"

__ADS_1


"Ini penting!"


Zayd tampak menghela nafasnya, "Baiklah, tapi sebentar saja!"


__ADS_2