
Kehidupan di alam nyata terkadang seringkali tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Banyak sekali hal terjadi hingga membuat seseorang menjadi stress. Seperti yang di alami oleh Syafea saat ini yaitu tertekan dengan sikap Zayd yang mulai acuh kepadanya.
Andai ada orang yang kesepian di tepi jalan mungkin dialah Syafea saat ini. Alhamdulillah semuanya sehat wal alfiat, hanya saja pikirannya sedikit terganggu sehingga seringkali berhalusinasi seolah suaminya masih perhatian kepadanya.
"Mas Zayd, kau di mana?"
Merasa tidak ada jawaban, maka Syafea segera membalikkan tubuhnya dan tiba-tiba saja grep, tubuhnya dipeluk oleh seseorang yang sangat ia rindukan dari belakang.
"Mas, akhirnya kau merindukan aku," ucap Syafea lirih.
Zayd bergelayut manja padanya. Menyandarkan kepalanya pada bahu Syafea. Anehnya kakinya tidak terluka atau lumpuh sama sekali. Meskipun di dalam ingatannya saat ini ia lumpuh, tetapi saat Syafea mengintip ke bawah, rupanya kedua kakinya tidak terasa nyeri ataupun terluka.
"Bu-bukankah kakiku lumpuh?" tanya Syafea tidak percaya pada dirinya sendiri.
Zayd yang kebetulan di sampingnya justru terlihat tersenyum ke arah istrinya.
"Kamu kenapa? Bukankah tidak ada yang sakit? Kenapa seolah sedang melihat kenapa kakimu tidak baik-baik saja."
"Eh itu anu? Perasaan kakiku pernah terluka, tetapi sepertinya aku hanya berhalusinasi."
"Oh, ya? Yang terpenting saat ini kamu tidak kenapa-napa bukan?"
Syafea semakin tersenyum lalu memeluk suaminya. Sementara itu di dunia nyata, dokter sudah memberikan penjelasan pada Zayd kenapa Syafea belum juga siuman sampai saat itu.
"Jadi, kalau kamu tanya kenapa Syafea belum bangun jawabannya hanya satu yaitu karena dia sedang berada di dalam dunianya."
"Dunianya maksud, dokter?"
__ADS_1
"Sama seperti dirimu yang dulu pernah mengalami hal seperti itu, dan membuat kau justru saat ini bisa mencintai Alletta."
"Oh begitu rupanya."
"Kalau begitu lakukan yang terbaik untuknya saja. Aku tidak akan ikut campur terlalu dalam lagi di dalam hal ini."
Dokter tampak menghela nafasnya lalu menyandarkan tubuhnya pada penahan di atas kursi kerjanya. Menatap ke dalam bola mata Zayd secara dalam-dalam.
"Kau benar-benar serius dengan Aletta?"
"Tentu saja, kenapa tidak?"
"Baiklah jika itu yang terbaik untuk kalian, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu."
"Terima kasih, untuk support dan bantuan selama ini."
......................
Umi dan Abah serta beberapa keluarga besarnya sudah sampai di negeri Sakura tersebut. Meskipun berharap cemas, tetapi Umi yakin semua akan berjalan lancar. Lagi pula Aletta adalah calon menantu idaman baginya.
"Kenapa buru-buru?"
"Tentu saja iya, apakah Abah tahu jika Umi khawatir pada Aletta yang terus tinggal di dalam satu apartemen dengan Syafea."
"Entahlah, hanya satu keinginan Abah. Tidak lagi ada airmata yang keluar dari kalian itu sudah lebih dari cukup."
Umi menoleh ke arah Abah lalu tersenyum. Saat ini kedua tangannya saling bertautan seolah sedang menyalurkan kekuatan yang mendalam saat ini.
__ADS_1
Tidak berselang lama, rombongan tersebut akhirnya sampai di apartemen Syafea. Mereka tampak berjalan beriringan. Akan tetapi saat melihat kondisi pintu depan yang berdebu tebal membuat Umi dan Abah penasaran. Begitu pula dengan anggota keluarga lainnya.
"Kenapa kamu tidak menelponnya langsung?"
Umi yang panik salah tingkah dan segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Zayd. Namun, sambungan telepon tidak tersambung hingga membuat Umi cemas.
Kebetulan tetangga apartemen Syafea baru saja pulang dari apartemen. Sesaat kemudian ia mendekati mereka.
"Maaf, Tuan dan Nyonya sedang mencari siapa?"
"Tentu saja pemilik rumah ini."
"Maaf, satu Minggu yang lalu terjadi perdebatan hingga suaminya memilih untuk pergi."
"Pergi kemana? Lalu wanita berhijab di dalamnya apakah ikut juga?"
"Tidak ada, wanita muslim itu sudah lama tidak terlihat di sini."
Seketika lutut Umi terasa lemah lalu hampir saja oleng. Beruntung Abah dengan sigap menopang tubuh Umi dan mendudukkan dirinya di kursi depan.
"Sayang, kamu dimana? Semoga kebaikan selalu menyertai kamu?"
.....................
Hai-hai, sambil nunggu up silakan mampir ke sini dulu ya. Makasih.
__ADS_1