ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 59. TERLUKA


__ADS_3

Bagaimana pun sebuah kebohongan akan segera terbongkar, ketika seseorang bisa melihat apakah yang dikatakan dengan fakta berbeda. Tanpa Zayd ketahui saat ini Aletta pergi belanja di supermarket depan rumah.


Kebetulan ada sepasang ibu-ibu yang menggunjingnya di depan kasir. Entah itu untuk dirinya atau bukan akan tetapi yang pasti hal yang dikatakan ada kaitannya dengan dirinya.


"Wanita jaman sekarang pergaulannya sudah diambang batas."


"Masa sih?"


"Tentu saja iya, apakah kau tahu jika wanita berhijab saja bisa hamil tanpa suami!" ucap salah satu ibu-ibu menatap penuh selidik ke arah Aletta.


"Wah ganas amat, berarti tidak semua orang berhijab hatinya baik dong."


"Mungkin saja begitu."


Tentu saja Aletta tau kemana arah pembicaraan ini. Di tambah lagi saat ini Zayd tidak sering tinggal bersamanya dan hanya sesekali datang untuk mengunjungi dirinya. Tidak mau terlibat lebih lama, maka Aletta dengan cepat membayar barang belanjaan miliknya daripada telinganya panas.


"Berapa semua ini?" tanya Aletta pada kasir.


"Lima puluh Yen, Nona" jawab kasir dengan cepat.


Aletta segera mengambil dompet lalu menyerahkan uang pada kasir. Setelah pembayaran selesai maka dengan cepat ia permisi dan meninggalkan supermaket di sana.


Namun, sepasang ibu-ibu tadi rupanya masih membicarakan dan menatap aneh terhadapnya. Siapa lagi kalau bukan dirinya, karena pada saat itu cuma ada tiga pengunjung dan ia tahu jika keduanya tadi adalah tetangga samping rumahnya.


Jika Zayd datang dan pergi secara otomatis mereka yang akan melihatnya terlebih dahulu. Rupanya bukan karena hal itu saja, Aletta pernah mendengar jika salah seorang tetangga mereka dihujat karena dia penampilan terlalu terbuka.

__ADS_1


Mengingat hal itu, sepanjang perjalanan Aletta mengelus dadanya yang bergemuruh. Mencoba memaafkan perkataan yang ia dengar dari mereka tadi.


"Salah apa sebenarnya ku di sini? Harusnya saat ini masih mengecam dunia pendidikan sama seperti remaja pada umumnya, tapi apa yang aku dapatkan saat ini?"


Saat menyeberang jalan, karena tidak terlalu fokus dan masih memikirkan nasibnya, secara mengejutkan ia hampir saja tertabrak sebuah mobil. Rupanya pemilik mobil yang hendak menabrak tadi pernah bertemu dua kali dengannya.


Suara decitan ban mobil bertemu dengan bibir aspal membuat Aletta sontak menutup kedua telinganya karena suara yang dihasilkan sangat melengking.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba," gumam Rafa di depan stir kemudi.


"Astaghfirullah, maafkan saya," ucap Aletta lirih sambil mengusap perutnya dan menunduk.


Bagiamana pun Rafa masih bisa mendengar suara itu karena pada saat itu ia sedang keluar dari mobil miliknya. Meskipun Rafa menutup praduga untuk Aletta selama beberapa detik.


Mendengar derap langkah kaki dari sebelah, sontak saja Aletta menoleh dan tatapan keduanya akhirnya bertemu.


Mungkin karena ketakutan maka ia pun mencoba melarikan diri sebelum mereka mengucap sapa. Untungnya, Rafa lebih dulu berhasil memegang salah satu tangan Aletta.


"Kenapa kau mencoba pergi? Apakah kau tidak mau meminta maaf karena telah mengganggu perjalanan saya?"


"Maaf," cicit Aletta.


Rafa tersenyum lalu meminta nomor ponsel Aletta. Katanya biar mudah jika nanti ia meminta nomor ponselnya di kemudian hari untuk membayar biaya ganti rugi untuk masalah hari itu.


Bukannya memberikan nomor ponselnya, Aletta lebih menjawab dengan dia tidak punya nomor ponsel. Jadi mana bisa ia memberikan nomor ponsel Zayd.

__ADS_1


"Tidak punya ponsel, mana bisa? Hallo, ini abad dua puluh satu, mana ada orang yang tidak punya ponsel?" ucap Rafa seolah mengabaikan ucapan dari Aletta.


"Sungguh, memang kenyataannya seperti itu. Kalau kamu tidak percaya, datang saja ke apartemen kami."


"Kami? Memangnya kamu tinggal dengan berapa orang?"


"Dua orang, saya dan suami saya."


Seketika bola mata Rafa membola, lalu pandangannya turun ke arah perut Aletta yang memang sedikit membuncit. Meskipun Aletta memakai gamis, akan tetapi justru terlihat jika Aletta seorang perempuan yang pandai menyembunyikan statusnya.


Rafa memang kecewa karena langkahnya sudah keduluan ketika Aletta mengatakan jika dirinya sudah menikah. Untuk memastikannya Rafa akhirnya mengantar Aletta pulang dan berjanji akan datang lain kali.


Saat di tengah perjalanan, Rafa mendapat panggilan dari salah seorang saudara perempuannya meminta bantuan Rafa untuk mencari penginapan. Mereka pun mengatakan tentang alasan dibalik kedatangan mereka.


"Jadi kalian datang ke negeri ini hanya untuk mencari sepasang suami istri?"


"Benar, jadi tolong kami dengan segera ya?"


"Insya Allah."


Apakah Umi dan rombongan tadi bisa bertemu dengan Aletta dan Zayd? Entahlah ... simak di up selanjutnya ya.


...............


Hai-hai, sambil nunggu up silakan mampir ke sini dulu ya. Makasih.

__ADS_1



__ADS_2