
Sangat wajar jika seorang wanita yang baru saja melahirkan harus sakit. Ditambah lagi beban pikiran yang bisa membuat siapa saja semakin lemah.
"Bagaimana ini?" ucap Zayd panik.
"Bawa Aletta segera ke Rumah Sakit!" teriak Umi.
Beruntung petugas bandara sigap, sehingga tidak membutuhkan waktu lama, Aletta segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Baby Noe sempat menangis karena ia haus.
Umi meminta bantuan dokter untuk memberikan bantuan pada Baby Noe dan Aletta. Baby Noe diberikan sufor untuk keadaan darurat. Di tambah lagi saat ini kondisinya sedang lapar, tetapi Aletta masih pingsan.
"Tuhan, semoga Aletta baik-baik saja."
Zayd tampak mondar-mandir di depan ruang rawat Aletta. Baby Noe sudah tampak tenang saat ini.
"Apakah cucuku lapar, Sus?"
"Benar, Nyonya. Takutnya kalau tidak segera diberikan sufor dan menunggu ibunya siuman akan membuatnya dehidrasi. Beruntung cucu Nyonya sangat pandai. Ia menyusu dengan lahap dan sekarang mulai tertidur."
Memang benar, sepertinya Baby Noe memang lapar. Kalau dilihat dari jam terakhir kali ia minum ASI, memang saat ini waktunya kembali menyusu. Sayang, Aletta justru pingsan karena terlalu stress.
Umi bersyukur setidaknya sang cucu tidak dehidrasi. Kini ia tinggal mendoakan kesembuhan untuk Aletta.
__ADS_1
"Kira-kira menantu saya kenapa, Sus?"
"Maaf, kalau soal itu bukan kapasitas Saya untuk menjelaskan, Nyonya. Biar dokter yang menjelaskannya nanti."
"Iya, terimakasih Sus."
"Sama-sama."
Kini Baby Noe kembali ditidurkan pada stroller baby. Dengan perlahan ia dibawa menuju ke ruang rawat Aletta. Tibalah dokter yang menangani Aletta keluar.
"Maaf, keluarga pasien?"
"Bisa ikut ke ruangan saya sebentar?"
Zayd tampak menoleh ke arah Umi yang kemudian diangguki oleh beliau.
"Pergilah, biar kami menjaga di sini."
Kondisi Aletta yang pingsan membuatnya harus dibawa pergi ke Rumah Sakit. Kini Zayd sedang menyimak penjelasan dari dokter.
"Jangan khawatir istri Anda hanya mengalami demam dan sepertinya banyak pikiran sehingga membuat kondisi tubuhnya melemah."
__ADS_1
Itu artinya Baby Noe terpaksa tidak bisa meminum ASI dalam beberapa hari. Kekhawatiran Zayd semakin menjadi ketika demam Aletta melebihi 38°C tadi, sehingga ia pun tidak bisa berpikir jernih lagi.
Dokter menyarankan agar Aletta di rawat inap di sana. Meski demikian dokter mengatakan jika hal itu wajar terjadi ketika ibu pasca melahirkan terkena beban stress bisa berakibat demikian.
"Kira-kira berapa lama istri saya berada di sini?"
"Sampai keadaannya benar-benar fit. Di tambah lagi kondisi tubuh seorang wanita pasca melahirkan secara normal, memang sangat letih. Ada baiknya jika dirawat di sini selama beberapa jam ke depan. Hal itu agar mempermudah tim medis untuk memantau kesehatan ibu dan bayi."
"Baiklah kalau begitu, semoga istri Anda segera siuman sehingga bisa diperiksa lebih lanjut."
Zayd mengangguk dan permisi. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang rawat Aletta. Dilihatnya sang istri yang sedang berbaring lemas di atas brankar.
"Maaf, jika aku lalai dalam menjaga kalian."
Zayd tampak menghela nafas panjangnya Dilihatnya wajah istrinya yang semakin memucat itu. Di sisi lain, Pak Rahmat bergegas untuk menuju ke tempat tujuan. Beliau sama sekali tidak tahu siapa yang sebenarnya akan dituju olehnya.
Mobil yang membawa Zayd pergi secara tidak sengaja berpapasan dengan bus yang digunakan oleh Pak Rahmat. Zayd sedang dalam perjalanan pulang. Ingin rasanya ia membawa serta Aletta, tetapi Tuhan berkehendak lain.
"Sabarlah, Sayang. Maaf jika Baby Noe terpaksa aku bawa pulang terlebih dahulu. Tidak akan ku ijinkan jika Baby Noe sampai masuk ke dalam Rumah Sakit kembali."
Maka dari itu Zayd segera membawa Baby Noe kembali ke rumah kedua orang tuanya bersama Umi dan beberapa kerabat yang datang untuk membantu merawat Baby Noe.
__ADS_1