ISTRIKU, PENUTUP AIBKU

ISTRIKU, PENUTUP AIBKU
Part 78. LEDAKAN


__ADS_3

Rupanya Rumah Sakit tempat bekerja dokter Hadi terjadi sebuah sabotase. Sehingga ada salah satu ruangan yang sengaja dipasang bom oleh salah seorang pelaku. Hanya berjarak beberapa meter dari ruang kerja dokter Hadi, mereka berkumpul di sana.


"Astaghfirullah, apa yang terjadi?"


"Sepertinya Pak Rahmat ikuti saya. Alarm Rumah Sakit ini menyala, itu artinya sedang ada bahaya di sini."


"Tapi sepertinya tadi suara bom?"


Demi menenangkan Pak Rahmat, dokter Hadi membohonginya. Ia meminta beliau untuk segera menyelamatkan diri bersamaan dengan suara sirine dari pihak kepolisian.


Luka di tangannya tidak dipedulikan olehnya. Pak Rahmat yang mengetahui hal itu menjadi tidak tega.


"Tapi, tangan dokter terluka. Apakah tidak sebaiknya dokter juga ikut pergi bersama saya?"


Dokter Hadi menggeleng, baginya ia cukup menyelamatkan ayah Aletta daripada mementingkan keselamatan dirinya.


Sebelum melepas kepergian Pak Rahmat, dokter Hadi menyerahkan tas kecil miliknya pada Ayah Aletta itu.


"Titip ya, Pak. Bapak bisa pergi ke alamat itu dan titip salam buat orang yang tinggal di sana."


"Ta-tapi, dok?"


Tampak jika Pak Rahmat tidak ingin pergi. Apalagi tangan dokter Hadi terluka parah. Bukannya menyerah, dokter Hadi justru mendorong tubuh Pak Rahmat menuju jendela.


"Lewat sana ya, Pak. Tolong segera pergi. Ingat sebentar lagi Aletta akan pulang dan akan menikah. Ia pasti menginginkan walinya hadir di sana."


Seketika semangat untuk hidup kembali muncul di dalam benak Pak Rahmat.

__ADS_1


"Nanti, atau lusa pasti saya menyusul Bapak. Jadi nggak usah khawatir."


"Ya sudah. Bapak pergi dulu, terima kasih banyak ya, dokter Hadi."


"Sama-sama."


Tidak lama setelah Pak Rahmat keluar dari jendela, terdengar suara tembakan yang sangat keras. Rasa penasaran membuat Pak Rahmat mengintip dari celah jendela.


Dengan kedua mata kepalanya sendiri ia bisa melihat jika dokter Hadi meregang nyawa dengan sebuah peluru yang berhasil menembus dadanya.


"Innalilahi Nak, kau sekali lagi menyelamatkan nyawaku," ucap Pak Rahmat sambil menutup mulutnya.


Bibir dan tangannya bergetar, hatinya terasa nyeri ketika melihat seorang pemuda yang sudah banyak membantu hidupnya justru sekali lagi berkorban untuknya.


"Semoga arwahmu tenang, Nak dokter. Aamiin."


"Ya, Allah ... lindungilah nyawa hamba. Aamiin."


Saat Pak Rahmat melangkah tiba-tiba saja ada suara yang menegurnya.


"Hei, kamu mau lari, ya!"


......................


Prang


Seketika gelas yang dipegang Aletta jatuh berdenting ke lantai marmer di kamarnya. Zayd yang baru saja menidurkan Baby Noe menoleh ke arah Aletta.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang?"


Aletta menggeleng. "Tidak tahu, Abi. Gelasnya tiba-tiba saja merosot dan jatuh."


Dengan cepat Zayd segera menyapu dan memunguti serpihan kaca itu.


"Lain kali hati-hati, ya. Apa perlu Abi pegangin kalau mau minum?"


"Apaan, sih Bi ...."


Ucapan ringan dari Zayd justru membuatnya malu-malu. Jauh di lubuk hatinya rasa khawatirnya menautkan benang merahnya pada ingatan tentang kesehatan Pak Rahmat.


"Kenapa perasaanku tidak tenang begini."


Melihat Aletta tidak tenang, Zayd mendudukkan dirinya di samping ranjang.


"Ada apa? Kenapa kamu tampak cemas?"


"Nggak tahu kenapa pikiranku tiba-tiba teringat Bapak."


"Jangan banyak pikiran, bukankah Bapak bersama dokter Hadi. Sudah pasti beliau aman."


"Ya sudah, daripada banyak pikiran, lebih baik kita lihat televisi aja yuk!"


Sayang, baru saja Zayd menyalakan televisi, rupanya berita tentang kasus sabotase di Rumah Sakit tempat dokter Hadi bekerja muncul ke permukaan.


”Astaghfirullah, Abi lihat!"

__ADS_1


__ADS_2